Novel Jambi, “Pemburu Emas” – By Monas Junior

Novel Jambi "Pemburu Emas" Legenda Bermula by Monas Junior
Novel Jambi "Pemburu Emas" Legenda Bermula by Monas Junior

Ia tersungkur, tanpa sempat mengeluarkan suara. Berikutnya, suara letusan senpi mengisi malam yang sepi. “Dor! Dor!” . Pria gimbal tak lagi bergerak. Kecuali darah dari kepala yang menari-nari di lantai becek.

Setelah memastikan korban tak bernyawa, pelaku berjalan santai meninggalkan kelam dan sesosok tubuh yang terbenam kubangan darah. Sesampai di luar pasar, pelaku menghadap pria besar tinggi bertutup muka sebo, sambil mengulurkan tangan. Sekeping emas ukuran genggaman tangan pindah dari tangan pria besar ke tangan si pelaku. Malam itu semua berakhir dengan sunyi, tanpa saksi.

Pelaku yang merupakan pria bertubuh sedang berisi itu bergegas pulang. Sampai di rumah berbentuk bedeng empat pintu, ia berhenti tepat di pintu ke tiga. Ia kemudian membuka sepatu bot hitam, lalu memasukkan anak kunci ke lubangnya. Pintu terbuka. Lagi-lagi hanya sepi yang menyambutnya dari dalam kontrakan yang terlihat dalam samar tanpa ruang tamu dan dapur.

Bacaan Lainnya

Setelah menyalakan lampu, meletakkan senpi di meja, masih mengenakan celana jeans biru berkaki lebar, baju kaos putih ditutupi jaket kulit, ia berbaring santai menatap langit-langit berupa susunan triplek tipis lengkap dengan jaring laba-laba yang telah menghitam di sekitar kipas angin gantung. Lalu dengan mudahnya ia tertidur pulas, sepulas bayi tanpa dosa.

Siangnya, bangun dari tidur, si pria berdiri di depan cermin kamar. Laci meja di bawah cermin ia buka. Sepuluh batang emas ia keluarkan kemudian diletakkan di atas meja. Revolver 38 terbaring tak begitu jauh dari emas-emas itu. Ditatapnya emas dan senpi untuk beberapa saat dengan wajah dingin, mengalihkan pandangan sesaat ke wajahnya sendiri lewat cermin. Sesaat kemudian ia berjalan pelan ke kamar mandi.

***

Matahari sedang berada di puncak. Sinarnya memantulkan bayangan hitam di aspal dari tubuh seorang pria bertopi koboi warna coklat. Ia berhenti di perempatan, menghentikan becak, naik lalu duduk dengan cepat.

“Tanah Abang.”

“Lima ratus.”

“Oke.”

Percakapan singkat antara si pria dengan si tukang becak itu diakhiri dengan lenguhan nafas si tukang becak yang mengayuh pedal.  Bajaj, mobil, motor, oplet, metro mini, semuanya menghasilkan asap tebal keabu-abuan di siang terik itu. Pria di atas becak memandangi semua dengan acuh. Wajahnya mengeras setiba di Pasar Tanah Abang.

Pasar itu sangat ramai. Lebih ramai dari hari biasa. Pedagang, pengunjung bahkan polisi tampak memenuhi pelataran parkir. Si tukang becak hanya berhasil menghentikan tunggangannya di tengah jalan.

“Macet, sampai sini aja, ya.”

“Oke.”

Pria berkemeja kuning ketat lengan panjang itu turun, membayar sekeping uang kepada tukang becak, kemudian melangkah ragu ke arah keramaian. Sepatu hitam lancip depan sesekali bersentuhan dengan celana cutbray coklat. Ia mematik macis ketika sebatang rokok kretek telah ia selipkan di antara bibirnya yang hitam.

Pos terkait