Oleh: Al Haris *
Hari ini kami menghadiri kegiatan tanam padi, atau yang biasa masyarakat sebut turun ke sawah, di Desa Seling, Kecamatan Tabir. Bagi saya, momen seperti ini bukan sekadar agenda seremonial pemerintah. Ini adalah pengingat paling jujur tentang dari mana kehidupan bermula dan ke mana arah pembangunan seharusnya berpijak.
Alhamdulillah, saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada masyarakat Desa Seling. Di tengah godaan ekonomi yang begitu besar, terutama dari alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, masyarakat di sini masih teguh mempertahankan sawahnya. Ini bukan pilihan yang mudah. Sawit memang kerap menjanjikan hasil cepat, terlihat menggiurkan, dan seolah memberi kepastian. Namun, sawah adalah soal keberlanjutan, soal ketahanan pangan, dan soal masa depan anak cucu kita.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana sawah-sawah di Desa Seling tetap terjaga. Petani-petani dengan wajah yang akrab dengan lumpur dan matahari itu bukan hanya sedang menanam padi, mereka sedang menanam harapan. Harapan agar Jambi tidak kehilangan identitasnya sebagai daerah agraris, dan harapan agar kita tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.
Ketahanan pangan bukan isu jauh yang hanya dibicarakan di ruang rapat ber-AC. Ketahanan pangan dimulai dari desa-desa seperti Seling ini. Dari petani yang setia pada lahannya, dari benih yang ditanam dengan doa, dan dari kerja keras yang sering kali tidak banyak terlihat. Karena itu, menjaga sawah sama artinya dengan menjaga kedaulatan kita sendiri.
Saya percaya, sudah saatnya kita tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak maju. Produksi padi kita harus diperluas dan ditingkatkan. Ini bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan petani tidak berjalan sendiri. Dukungan irigasi, ketersediaan pupuk, akses alat pertanian, hingga kepastian harga panen harus terus kita perbaiki.
Jika petani sejahtera, maka sawah tidak akan ditinggalkan. Jika sawah terjaga, maka swasembada beras bukan mimpi. Jambi memiliki potensi besar. Lahan kita ada, petani kita ada, dan semangat gotong royong masih hidup. Yang kita perlukan adalah konsistensi dan keberpihakan yang nyata.
Turun ke sawah hari ini juga menjadi pesan moral bagi kita semua. Bahwa pembangunan tidak boleh melupakan akar. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti mengganti sawah dengan beton atau kebun monokultur. Justru, kemajuan sejati adalah ketika kita mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.
Mari kita jaga bersama lahan sawah kita. Mari kita perluas tanam padi, kita tingkatkan produksinya, dan kita kuatkan posisi petani sebagai pilar utama pembangunan daerah. Dengan kerja bersama, dengan niat yang lurus, saya yakin Jambi bisa berdiri tegak sebagai daerah yang mandiri pangan.
Insyaallah, dari sawah-sawah seperti di Desa Seling inilah, cita-cita Jambi Swasembada Beras bukan hanya sekadar wacana, tetapi menjadi kenyataan.(***)
* Al Haris, Gubernur Jambi












