Oleh: Edi Purwanto *
Saya selalu percaya, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak boleh kita maknai sekadar sebagai agenda seremonial. Ia harus dibaca lebih dalam, direnungi lebih lama, lalu dijadikan pijakan untuk melangkah ke depan.
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Ibu Megawati Soekarnoputri bagi kami di PDI Perjuangan Jambi adalah salah satu momen itu.
Bukan karena angka usianya semata, tetapi karena nilai yang terus beliau tanamkan: keberpihakan pada rakyat, kesetiaan pada sejarah, dan keberanian menjaga masa depan bangsa.
Itulah mengapa kami memilih menandainya dengan aksi nyata—menanam pohon, serentak, dari tingkat DPD hingga DPC se-Provinsi Jambi.
Bagi saya pribadi, menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan. Ia adalah pernyataan sikap. Pernyataan bahwa politik tidak boleh berhenti pada pidato dan baliho, tetapi harus menyentuh tanah, akar, dan kehidupan nyata masyarakat.
Di Jambi, kami memusatkan kegiatan ini di Candi Muaro Jambi. Bukan tanpa alasan.
Kawasan ini adalah saksi bisu peradaban besar Nusantara, dibangun berabad-abad lalu, jauh sebelum republik ini lahir. Luasnya hampir 4.000 hektare, menjadikannya kompleks percandian terluas di Asia Tenggara. Namun di balik kebesarannya, ada kegelisahan yang tidak bisa kita tutupi.
Sejarah bisa rapuh jika alam di sekitarnya rusak.
Dan alam akan kehilangan makna jika sejarah yang dikandungnya kita abaikan.
Ketika saya berdiri di kawasan Candi Muaro Jambi, melihat kader-kader PDI Perjuangan menanam pohon dengan penuh kesadaran, saya merasa pesan itu begitu kuat. Menjaga sejarah dan menjaga lingkungan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Keduanya saling menghidupi.
Tanpa alam yang lestari, situs bersejarah hanya akan menjadi puing yang menunggu waktu. Tanpa kesadaran sejarah, alam akan terus dieksploitasi tanpa rasa bersalah.
Inilah yang sering luput dalam diskusi kebijakan publik kita. Pembangunan kerap dimaknai semata-mata sebagai pertumbuhan ekonomi. Hutan dilihat sebagai angka, tanah sebagai komoditas, dan lingkungan sebagai variabel yang bisa dikompromikan.
Padahal, kerusakan lingkungan—terutama akibat pembalakan liar—adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi bangsa.
Saya menyebutnya ancaman, karena dampaknya tidak berhenti hari ini. Ia menjalar ke masa depan anak-anak kita, cucu kita, bahkan generasi yang belum lahir. Banjir, longsor, krisis air, hingga konflik sosial hanyalah efek lanjutan dari keputusan-keputusan yang tidak berpihak pada kelestarian alam.
Di sinilah negara seharusnya hadir lebih tegas.
Tidak cukup dengan regulasi di atas kertas. Dibutuhkan keberanian politik untuk menegakkan aturan, termasuk dalam persoalan Hak Guna Usaha (HGU). Saya berulang kali menegaskan, HGU tidak boleh hanya berorientasi pada menebang dan mengeruk.
Harus ada tanggung jawab ekologis.
Harus ada keberlanjutan.
Jika tidak, maka kita sedang mewariskan masalah, bukan solusi.
Aksi tanam pohon ini kami maknai sebagai ajakan. Ajakan untuk seluruh elemen masyarakat—pemerintah, swasta, komunitas, hingga individu—agar ikut terlibat merawat bumi. Bukan dengan cara besar yang sulit dijangkau, tetapi dengan langkah konkret yang bisa dilakukan hari ini.
Menanam satu pohon mungkin terlihat kecil.
Namun jika dilakukan bersama, dengan kesadaran kolektif, ia akan menjadi gerakan yang besar.
Saya meyakini, politik lingkungan bukan isu pinggiran. Ia adalah inti dari perjuangan menjaga keberlanjutan hidup manusia. Dan PDI Perjuangan, sejak awal berdirinya, selalu menempatkan alam sebagai bagian dari ideologi perjuangan.
Ibu Megawati berkali-kali mengingatkan kami bahwa bumi ini bukan warisan dari orang tua kita, melainkan titipan untuk anak cucu kita. Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya besar jika benar-benar kita hayati.
Di Jambi, tantangan lingkungan ke depan tidak ringan. Tekanan terhadap hutan, kawasan resapan air, dan situs bersejarah akan terus ada. Karena itu, keteladanan menjadi penting. Partai politik tidak boleh hanya menjadi penonton atau komentator.
Kami harus berada di garis depan, memberi contoh.
Itulah semangat yang ingin kami hidupkan lewat peringatan HUT ke-79 Ibu Megawati ini. Bukan dengan euforia berlebihan, tetapi dengan kerja yang membumi. Kerja yang mungkin tidak langsung viral, tetapi meninggalkan jejak jangka panjang.
Saya berharap, aksi ini tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Ia harus menjadi kebiasaan, menjadi budaya, dan menjadi cara pandang baru dalam melihat pembangunan.
Bahwa kemajuan daerah tidak boleh dibayar dengan kerusakan alam.
Bahwa kesejahteraan rakyat harus berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, bumi ini memang bukan hanya milik kita hari ini. Ia milik masa depan.
Dan tugas kita sekarang adalah memastikan, ketika masa depan itu tiba, kita tidak meninggalkan penyesalan.
Itu sebabnya saya percaya, menanam pohon hari ini adalah bentuk cinta paling jujur kepada generasi yang akan datang. (*)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Jambi yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jambi












