Oleh : Edi Purwanto *
Lebih dari satu tahun terakhir ini, saya menjalani hari-hari sebagai Anggota DPR RI dengan satu kesadaran yang tidak pernah berubah: amanah dari masyarakat Jambi bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab moral yang harus dijawab dengan kerja nyata. Amanah ini bukan untuk disimpan dalam pidato, apalagi dipajang dalam baliho, tapi harus diwujudkan dalam keberpihakan yang jelas dan konsisten.
Saya selalu percaya, menjadi wakil rakyat berarti siap mendengar lebih banyak daripada berbicara. Siap menerima kritik, bahkan ketika itu terasa tidak nyaman. Karena di situlah demokrasi bekerja—di ruang dialog antara harapan rakyat dan keterbatasan kebijakan.
Setahun ini saya lalui dengan ritme kerja yang padat. Banyak rapat, pembahasan anggaran, kunjungan lapangan, hingga pertemuan dengan masyarakat yang sering kali berlangsung tanpa sorotan kamera. Justru di ruang-ruang itulah saya belajar, bahwa persoalan di daerah tidak selalu bisa diselesaikan dengan satu kebijakan tunggal.
Paragraf ini saya tulis dengan jujur: tidak semua keinginan masyarakat bisa langsung terpenuhi. Ada prosedur, ada regulasi, ada keterbatasan anggaran negara. Tapi di tengah semua itu, tugas saya adalah memastikan suara masyarakat Jambi tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik nasional.
Salah satu fokus yang saya kawal sejak awal adalah sektor infrastruktur. Bagi sebagian orang, infrastruktur mungkin sekadar jalan, jembatan, atau bangunan. Tapi bagi masyarakat di daerah, infrastruktur adalah urat nadi kehidupan. Jalan yang baik bukan hanya mempermudah mobilitas, tapi juga membuka akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Dalam satu tahun ini, beberapa program infrastruktur yang saya kawal akhirnya bisa terealisasi di Provinsi Jambi. Ada yang berbentuk peningkatan jalan, ada pula yang berkaitan dengan akses dasar masyarakat. Saya bersyukur, karena setiap program yang berjalan selalu saya niatkan untuk memberi manfaat langsung, bukan sekadar memenuhi target administrasi.
Namun saya juga tidak menutup mata, masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Masih ada wilayah yang infrastrukturnya tertinggal, masih ada aspirasi masyarakat yang menunggu perhatian lebih serius. Inilah realitas yang harus saya hadapi dengan jujur, tanpa menutupinya dengan narasi manis.
Menjadi wakil rakyat bukan tentang merasa paling benar, tetapi tentang kesediaan untuk terus belajar. Saya belajar dari masyarakat desa, dari para petani, nelayan, buruh, dan pelaku UMKM yang setiap hari berjuang dalam keterbatasan. Dari mereka saya paham, bahwa kebijakan yang baik harus berangkat dari realitas lapangan, bukan dari meja rapat semata.
Saya sering mengingatkan diri sendiri: keberpihakan itu harus nyata. Keberpihakan terlihat dari program apa yang diperjuangkan, anggaran mana yang dikawal, dan suara siapa yang dibela ketika kepentingan rakyat berhadapan dengan kepentingan besar.
Di DPR RI, saya berusaha memastikan bahwa setiap pembahasan kebijakan selalu membawa perspektif daerah. Jambi tidak boleh hanya menjadi catatan kaki dalam pembangunan nasional. Kita punya potensi besar, tapi juga tantangan yang tidak kecil.
Paragraf ini penting saya sampaikan: dukungan masyarakat Jambi adalah energi terbesar saya. Setiap pesan, masukan, bahkan kritik yang datang, selalu saya catat sebagai pengingat bahwa jabatan ini tidak berdiri sendiri. Ada harapan banyak orang yang dititipkan di pundak saya.
Ke depan, saya berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog dengan masyarakat. Mendengar aspirasi bukan kegiatan seremonial, melainkan proses yang harus dilakukan terus-menerus. Saya ingin kebijakan yang saya perjuangkan benar-benar lahir dari kebutuhan riil masyarakat, bukan dari asumsi.
Harapan saya sebenarnya sederhana, namun maknanya besar. Saya ingin Jambi terus bergerak maju. Bukan hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga berkembang dalam kualitas hidup masyarakatnya. Pembangunan harus dirasakan merata, adil, dan berkelanjutan.
Saya sadar, perjalanan ini masih panjang. Amanah ini tidak selesai dalam satu atau dua tahun. Tapi selama kepercayaan itu masih diberikan, saya akan terus menjaga niat, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memastikan bahwa suara masyarakat Jambi tetap terdengar di pusat pengambilan keputusan.
Akhirnya, saya ingin menegaskan satu hal: menjadi wakil rakyat adalah proses belajar tanpa henti. Selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, bekerja, dan berpihak. Karena bagi saya, itulah cara paling jujur untuk menjawab amanah. (*)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Jambi












