Oleh : Edi Purwanto *
Saya, Edi Purwanto, menegaskan dengan sungguh-sungguh bahwa langkah penyelamatan warga terdampak bencana di Sumatera tidak boleh ditunda satu detik pun. Dalam kondisi darurat, waktu bukan sekadar angka di jam dinding. Waktu adalah penentu hidup dan mati.
Yang paling mendesak saat ini bukanlah urusan administratif atau program-program jangka panjang yang bisa dibahas kemudian. Yang dibutuhkan masyarakat di lapangan adalah hal paling dasar untuk bertahan hidup: pangan, sandang, air bersih, dan listrik. Empat kebutuhan ini wajib segera dipastikan aman dan tersedia di seluruh wilayah terdampak.
Bagi saya, kebutuhan dasar bukan sekadar daftar teknis dalam laporan penanganan bencana. Ia adalah penopang nyawa manusia. Tanpa makanan, tanpa penerangan, tanpa air bersih, sebuah keluarga tidak hanya kehilangan kenyamanan—mereka kehilangan harapan untuk bertahan. Karena itu, negara harus hadir memastikan setiap rumah tangga memiliki kebutuhan minimum tersebut, sebelum berbicara tentang program lain yang kurang relevan dalam situasi darurat.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar, saya juga mendesak pemerintah untuk bergerak cepat memperbaiki infrastruktur kritis. Jalan yang terputus, jembatan penghubung yang rusak, jaringan listrik yang padam, serta akses air bersih yang terganggu harus menjadi prioritas. Banyak wilayah saat ini terisolasi, dan keterisolasian di tengah bencana hanya akan memperbesar risiko korban.
Saya menegaskan satu prinsip yang harus menjadi pegangan bersama: nyawa adalah kepentingan strategis. Karena itu, tidak boleh ada ego sektoral. Seluruh kementerian dan lembaga harus bergerak serempak, saling melengkapi, dan fokus pada keselamatan rakyat. Apalagi kebutuhan tambahan seperti sekitar 3.000 tenaga medis, termasuk dokter, telah diidentifikasi untuk memperkuat layanan kesehatan bagi warga terdampak.
DPR RI mendorong kolaborasi total antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen bangsa. Kita membutuhkan kesadaran politik yang utuh—bahwa penanganan bencana bukan ajang pencitraan, melainkan ujian kehadiran negara di saat rakyat paling membutuhkan.
Tidak ada waktu untuk bergerak lamban. Tidak ada ruang untuk saling menunggu.
Karena dalam situasi seperti ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar data dan laporan— melainkan nyawa rakyat Indonesia. (*)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Jambi












