Al Haris Ways : Pelantikan Pengurus MUI 2025–2030, Menguatkan Tali Tiga Sepilin untuk Persatuan Umat dan Bangsa

Al Haris Ways : Pelantikan Pengurus MUI 2025–2030, Menguatkan Tali Tiga Sepilin untuk Persatuan Umat dan Bangsa
Al Haris Ways : Pelantikan Pengurus MUI 2025–2030, Menguatkan Tali Tiga Sepilin untuk Persatuan Umat dan Bangsa.Foto: Jambiseru.com

Oleh : Al Haris *

Alhamdulillah, pelantikan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa khidmad 2025–2030 berlangsung dengan khidmat, hangat, dan penuh nuansa kekeluargaan. Suasana yang saya rasakan bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan pertemuan hati, pertemuan niat, dan pertemuan tanggung jawab besar dalam membimbing umat.

Saya menyampaikan selamat dan doa terbaik kepada seluruh pengurus MUI yang baru saja dilantik. Semoga senantiasa berada dalam rida Allah SWT, diberikan kekuatan lahir dan batin, serta dibimbing dalam setiap langkah pengabdian. Amanah ini bukan amanah ringan, tetapi amanah mulia yang menyangkut umat, akhlak, dan masa depan bangsa.

Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, peran MUI semakin strategis. MUI bukan hanya rujukan keagamaan, tetapi juga penopang moral, penjaga kesejukan, dan perekat umat di tengah perbedaan. Dalam kondisi bangsa yang majemuk, keberadaan ulama yang menyejukkan dan menuntun dengan hikmah adalah kebutuhan yang tak tergantikan.

Saya meyakini, kekuatan bangsa ini terletak pada kemampuannya menjaga harmoni dalam kebhinekaan. MUI memiliki peran penting untuk memastikan nilai-nilai keislaman tetap sejalan dengan nilai kebangsaan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Islam yang rahmatan lil ‘alamin harus terus menjadi spirit utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam tradisi Melayu, kita mengenal falsafah Tali Tiga Sepilin atau Tungku Tiga Sejarangan. Sebuah filosofi yang sangat dalam maknanya. Ulama, umara, dan lembaga adat adalah tiga pilar utama yang menopang kehidupan masyarakat. Jika satu pilar goyah, keseimbangan akan terganggu. Namun jika ketiganya kokoh, bersatu, dan saling menguatkan, maka masyarakat akan berdiri tegak dan bermartabat.

Ulama dengan kebijaksanaan ilmunya, umara dengan kewenangan dan tanggung jawab kepemimpinannya, serta lembaga adat dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun—semua memiliki peran yang tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinergi inilah yang harus terus kita rawat, kita jaga, dan kita hidupkan dalam praktik sehari-hari.

Saya mengajak kita semua untuk bergandengan tangan, menanggalkan sekat-sekat yang tidak perlu, dan fokus pada tujuan besar: kemaslahatan umat dan keutuhan bangsa. Ketika ulama memberi nasihat dengan ketulusan, umara membuka diri dengan kerendahan hati, dan adat menjadi penyeimbang nilai, insyaallah peran kita akan terasa nyata di tengah masyarakat.

Saya percaya, jika Tali Tiga Sepilin ini benar-benar kita rajut dengan keikhlasan, kita tidak hanya menjaga stabilitas sosial, tetapi juga menanam harapan. Harapan akan masyarakat yang religius, beradab, dan berkeadilan. Harapan akan daerah dan bangsa yang maju tanpa kehilangan jati diri.

Semoga kepengurusan MUI yang baru ini menjadi sumber keberkahan, menjadi penyejuk umat, dan menjadi mitra strategis dalam membangun kehidupan berbangsa yang harmonis. Amin ya Rabbal ‘Alamin. (*)

* Al Haris, Gubernur Jambi

Pos terkait