Cerita Lengkap KKN Desa Penari yang Viral Tahun 2019

Trailer KKN Desa Penari 2
Trailer KKN Desa Penari 2

Tidak jauh dari sana ada sungai. Inginnya Pak Prabu, sinden dan sungai bisa dihubungkan, jadi semacam jalan air.

Tanpa terasa, hari sudah siang, Ayu dan Widya sudah memetakan semua yang Pak Prabu tunjukkan, memberinya sampel warna merah sampai biru, dari yang paling diutamakan sampai yang paling akhir dikerjakan.

Namun, tetap saja, selama perjalanan, Widya banyak menemukan keganjilan. Keganjilan yang paling mencolok adalah, tidak satu atau dua kali, namun berkali-kali, ia melihat banyak sesajen yang diletakkan di atas tempeh, lengkap dengan bunga dan makanan yang diletakkan di sana, ditambah bau kemenyan, membuat Widya tidak tenang.

Setiap kali mau bertanya, hati kecilnya selalu mengatakan bahwa itu bukan hal yang bagus.

Nur, setelah dari sinden, ia ijin kembali ke rumah, karena badannya tidak enak, dengan sukarela Bima yang mengantarkannya. Jadi, observasi hanya di lakukan oleh 4 orang saja.

Kemudian, sampailah di titik paling menakutkan.

“Tipak talas.” Kalau kata pak Prabu, sebuah batas di mana rombongan anak-anak dilarang keras melintasi sebuah setapak jalan yang dibuat serampangan, di kiri kanan, ada kain merah lengkap diikat oleh janur kuning layaknya pernikahan.

“Kenapa tidak boleh Pak?” tanya Ayu penasaran.

Pak Prabu diam lama, seperti sudah mempersiapkan jawaban namun ia enggan mengatakannya.

“Iku ngunu Alas D****** , gak onok opo-opo’ne, wedine, nek sampeyan niki nekat, kalau hilang, lalu tersesat bagaimana (itu adalah hutan belantara, gak ada apa-apanya, hanya mempertimbangkan, takutnya kalau kalian ke sana, hilang, tersesat, lalu bagaimana)?”

Sekali lagi, jawaban itu cukup membuat Widya yakin itu bukan yang sebenarnya. Namun, perasaan merinding melihat jalanan setapak itu, nyata.

Lanjut gak??

Jadi cuma ngasih tau. Cerita ini sangat panjang, karena gw harus menulis sedetail mungkin setiap kejadian selama 6 minggu itu. gw gak mau kehilangan setiap detail pengalaman si pencerita.

Btw, waktu denger ini, gw itu lemes tiap ingat waktu diceritain lebaran lalu

Observasi berakhir ketika Pak Prabu mengantar rombongan kembali ke rumah beliau.

Ketika kembali, Wahyu dan Anton bertanya, di mana kamar mandi, ia tidak menemukan tempat itu di tempat mereka menginap, rupanya, setiap rumah di desa ini tidak ada satupun yang punya kamar mandi.

Alasan kenapa tidak ada satupun rumah yang memiliki kamar mandi adalah karena sulitnya akses air.

Tapi, Pak Prabu menjelaskan, di bagian selatan sinden, samping sungai, ada sebuah bilik dengan kendi besar di dalamnya, di sana, bisa di gunakan untuk mandi.

Tidak berhenti di situ, Pak Prabu mengatakan bahwa mulai hari ini, kendi di dalam bilik akan diusahakan selalu terisi penuh, terutama untuk mandi anak-anak perempuan.

Untuk laki-laki, bisa mengisi air di kendi dengan cara menimba air dari sungai.

Semua anak tampak paham, meski muka Wahyu dan Anton tampak keberatan, namun mereka tidak dapat melakukan apa-apa.

Sekembalinya ke penginapan, Widya melihat Nur tengah tidur, hari itu diakhiri rapat dengan semua anak, lalu kembali ke kamar untuk mengerjakan laporan.

Sore menjelang malam Nur sudah bangun. Saat itu juga, Widya memintanya untuk mengantarkan dirinya pergi ke kamar mandi di bilik samping sinden. Awalnya Nur tampak tidak mau, tapi karena dipaksa, akhirnya ia pun ikut dengan catatan, Nur adalah yang pertama masuk bilik.

Widya setuju. Ia gak berpikir aneh-aneh.

Pos terkait