Oleh : Musrii Nauli *
Secara harfiah, seloko ini tampak seperti aturan sederhana dalam dunia pertanian. Namun, jika dibedah menggunakan pendekatan semiotika (ilmu tentang tanda), ungkapan ini menyimpan filosofi hidup yang sangat mendalam tentang etika, kesabaran, dan hubungan manusia dengan alam.
Secara denotasi (makna kamus/literal), petai dak boleh ditutuh berarti larangan menebang pohon atau memotong dahan petai yang sedang berbuah lebat.
Penanda (Signifier). Tindakan fisik melarang orang memotong pohon petai yang berbuah.
Dalam tradisi pertanian, memotong dahan secara sembarangan (ditutuh) hanya demi mengambil buahnya dengan cepat akan merusak struktur pohon. Hal ini bisa membuat pohon mati atau tidak akan berbuah lagi di musim berikutnya.
Petanda dan Konotasi: Melawan Keserakahan dan Menjaga Kesabaran
Ketika kita melihat makna konotasi dan mitos yang berkembang di masyarakat, seloko ini beralih dari sekadar aturan berkebun menjadi pedoman perilaku sosial.
Petanda (Signifier). Larangan terhadap sifat keserakahan saat memanen hasil bumi atau menikmati rezeki.
Mitos Kesabaran dan Antrean. Ada keyakinan lokal yang dibungkus dalam mitos bahwa memotong dahan petai akan mendatangkan “sial” atau merusak keberkahan. Secara tersirat, mitos ini mengajarkan manusia untuk sabar menunggu buah matang dan memanennya dengan cara yang benar (misalnya dipanjat atau dikait), bukan dihancurkan demi kepuasan sesaat. Ini juga mengajarkan etika “antrean” atau bergantian—berbagi rezeki dengan orang lain atau generasi masa depan yang juga berhak menikmati pohon tersebut.
Simbol: Prinsip Etika Pemanenan dan Keberlanjutan
Dalam dimensi yang lebih luas, seloko Petai dak boleh ditutuh bertindak sebagai Simbol Prinsip Etika Pemanenan
Seloko ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh mengeksploitasi sumber daya alam secara membabi buta. Mengambil keuntungan hari ini tidak boleh mengorbankan hari esok.
Jika dikontekstualisasikan ke kehidupan modern, simbol ini sangat relevan dengan isu lingkungan dan ekonomi:
Larangan menghalalkan segala cara demi keuntungan instan yang berisiko merusak ekosistem bisnis itu sendiri.
Dalam Lingkungan Larangan melakukan over-exploitation (pemanfaatan berlebih) terhadap alam yang dapat memicu bencana moral dan ekologis.
Seloko “Petai dak boleh ditutuh” adalah bukti nyata betapa jeniusnya nenek moyang suku Melayu Jambi dalam merumuskan hukum adat. Melalui metafora pohon petai, masyarakat diajarkan untuk mengerem hawa nafsu dan keserakahan.
Memanen rezeki harus dilakukan dengan etika, kesabaran, dan rasa hormat terhadap keberlangsungan hidup mahluk lain. Sebab, apa yang kita potong hari ini dengan serakah, mungkin adalah apa yang akan membuat anak cucu kita kelaparan di masa depan. (*)
* Penulis ialah Advokat tinggal di Jambi



