Cerita Lengkap KKN Desa Penari yang Viral Tahun 2019

Trailer KKN Desa Penari 2
Trailer KKN Desa Penari 2

“Aku wes ijin Pak Prabu, oleh nyilih motor’e (aku sudah ijin Pak Prabu, boleh pinjem motornya).”

“Nggih pon, melu (ya sudah, ikut).”

Wahyu melihat jam di tangannya, pukul 11 lewat, ia harus cepat menyelesaikan urusannya di kota. Karena sesaat sebelum meminta ijin, Pak Prabu sudah mewanti-wanti untuk sudah kembali sebelum hari petang.

Saat Wahyu menanyakan kenapa harus seperti itu, toh ada jalan setapak yang gampang ditelusuri untuk masuk ke hutan ini.

Dengan wajah tidak tertebak, Pak Prabu mengatakan, “gak onok sing ngerti opo sing onok gok jero’ne alas le (tidak ada yang pernah tau apa yang tinggal di dalam hutan nak).”

Mereka berangkat menembus jalan setapak. Lalu sampai di jalan raya besar, menyusurinya, jauh, sangat jauh. Sampai akhirnya mereka tiba di kota B. Di sana mereka berhenti di sebuah pasar, Wahyu dan Widya mulai mencari segala keperluan mereka.

Kurang lebih setelah 2 jam mencari ke sana ke mari dan setelah mendapatkannya, mereka langsung cepat kembali.

Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin full, etika ketika meminjam barang orang lain.

Jam sudah menunjukkan pukul 4, sudah terlalu sore. Sejenak ia melihat Widya dari jauh, ia berhenti tepat di samping penjual cilok. Ketika Wahyu sampai di sana, ia membeli beberapa cilok untuk Widya dan dirinya sendiri. Saat itulah, si penjual cilok melihatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.

“Masnya pendatang?” kata orang itu.

“Mboten Pak, kulo KKN ten mriki (tidak pak, saya hanya KKN di sini).”

“Tetep ae, wong joboh to (tetap saja, orang luar, kan),” kata si penjual, masih melihat Widya dan Wahyu bergantian.

“Nek oleh takon, masnya sama mbaknya KKN di mana?”

Wahyu menceritakan semuanya, termasuk tempat KKN nya, saat itu juga terlihat jelas sekali perubahan wajah si penjual.

“Loh, sampeyan berarti mari iki liwat Alas D********* (berarti sebentar lagi anda akan lewat di hutan **********)?”

“Nggih Pak (iya pak).”

“Loh, loh, halah dalah, wes yang mene mas, opo ra isok mene ae mas, sampeyan golek penginapan ae, soale nek jam yang mene, jarang onok sing liwat (sudah jam segini mas, apa gak bisa besok saja mas, cari saja penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat),” kata si bapak.

“Mboten pak, kulo bablas mawon (tidak pak, saya lanjut saja),” kata Wahyu.

“Ngeten mas, isok kulo nyuwun waktu’ne sampeyan (gini mas, bisa saya minta waktunya sebentar)?” Si penjual cilok, tiba-tiba mengatakan hal itu dengan wajah tegang.

“Nggih Pak,” kata Wahyu.

Widya yang sedari tadi memilih diam, hanya mendengarkan saja saat penjual cilok itu menceritakan apa yang harus mereka lakukan saat masuk ke Alas **********

“Ngeten mas (begini mas).”

“Engken, bade sampun mlebet nang Alas’e sampeyan mlaku ae teros (nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutannya, jalan saja ya terus).”

“Ora usah mandek, utowo ngeladeni opo ae, ngerti ya mas (gak usah berhenti, apalagi mengurusi hal apapun, sampai sini paham ya mas).”

“Ojok lali, moco dungo’e sing katah” (jangan lupa doanya yang banyak).”

“Sing paling penting, nek sampeyan krungu suoro ra onok wujud’e, tetep lanjut, bade sampeyan sampe digawe ciloko, nek isok lanjut, lanjut ae, ra usah diurus mas, sampeyan percoyo ae, dungo nggih. (yang paling penting, jika kalian dengar suara tanpa wujud, tetap lanjut saja. Jika sampai kalian dibikin celaka, lalu kalian masih bisa melanjutkan, lanjutkan saja, jangan pernah berhenti di sana, yang penting tidak usah diperdulikan, kalian percaya saja, doanya juga utamakan).”

Pos terkait