Oleh : Edi Purwanto *
Kadang saya berpikir, negara ini terlalu sering melihat pekerjaan hanya dari angka-angka pertumbuhan ekonomi. Kita bicara investasi, bicara aplikasi digital, bicara modernisasi transportasi, tetapi lupa melihat wajah-wajah lelah yang setiap hari mengaspal di jalanan sejak pagi sampai larut malam. Padahal di balik jaket hijau, di balik helm lusuh yang dipakai berulang kali itu, ada keluarga yang harus diberi makan. Ada anak yang harus dibayar uang sekolahnya. Ada cicilan motor yang setiap bulan mengejar tanpa kompromi.
Karena itu, ketika potongan aplikator untuk driver ojek online akhirnya diturunkan menjadi 8 persen, saya melihat ini bukan sekadar perubahan angka. Ini soal rasa keadilan. Ini soal keberpihakan. Dan yang paling penting, ini soal negara yang akhirnya mulai mendengar suara rakyat kecil.
Saya masih ingat bagaimana panjangnya keluhan para driver ojol yang datang menyampaikan aspirasi. Mereka bercerita tentang order yang makin sulit, tentang biaya hidup yang terus naik, tentang pendapatan yang semakin menipis karena terlalu banyak potongan. Ada yang bahkan mengatakan bahwa mereka bekerja hampir seharian penuh, tetapi hasil yang dibawa pulang sering kali tidak sebanding dengan tenaga dan risiko di jalan.
Bagi sebagian orang, mungkin angka 20 persen terlihat biasa saja. Namun bagi driver ojol, potongan itu sangat terasa. Ketika pendapatan harian tidak terlalu besar, setiap ribu rupiah memiliki arti penting. Kadang uang itulah yang menentukan apakah anak bisa membeli buku sekolah atau tidak. Kadang uang itulah yang menentukan apakah dapur bisa tetap mengepul malam itu.
Saya percaya, ekonomi tidak boleh hanya tumbuh di atas kertas. Ekonomi harus terasa manfaatnya di kehidupan masyarakat. Kalau teknologi berkembang tetapi pekerja di dalamnya justru semakin tertekan, maka ada yang salah dengan arah pembangunan kita.
Karena itulah saya memilih untuk ikut bersuara bersama para driver ojol. Saya mendengar langsung keresahan mereka. Saya memahami bahwa persoalan ini bukan semata urusan bisnis antara aplikator dan mitra. Ini sudah menyangkut kehidupan jutaan keluarga di Indonesia.
Ketika ratusan driver ojol di Jambi menggelar syukuran atas turunnya potongan aplikator menjadi 8 persen, saya melihat ada harapan di wajah mereka. Syukuran itu sederhana, tetapi maknanya besar. Itu bukan sekadar perayaan kemenangan kebijakan. Itu adalah ungkapan lega dari orang-orang yang selama ini merasa perjuangannya sering tidak didengar.
Saya datang ke sana bukan untuk pencitraan. Saya datang karena saya ingin memastikan bahwa politik masih punya fungsi untuk mendengar suara rakyat kecil. Politik tidak boleh hanya hadir saat pemilu. Politik harus hadir ketika masyarakat sedang menghadapi ketidakadilan.
Dalam berbagai kesempatan di DPR RI, saya memang terus menyampaikan bahwa potongan aplikator perlu diturunkan. Saya merasa tidak masuk akal jika pihak yang bekerja di lapangan justru menerima bagian yang terlalu kecil. Driver yang kehujanan, driver yang menghadapi macet, driver yang menanggung risiko kecelakaan, seharusnya mendapatkan penghargaan yang lebih layak.
Kita tentu memahami bahwa perusahaan aplikasi juga memiliki biaya operasional. Mereka membangun sistem digital, menyediakan layanan teknologi, dan menjalankan ekosistem bisnis yang besar. Tetapi keseimbangan harus tetap dijaga. Jangan sampai keuntungan perusahaan tumbuh besar sementara mitra pengemudi justru hidup dalam tekanan.
Inilah mengapa saya menilai keputusan penurunan potongan menjadi 8 persen merupakan langkah penting. Kebijakan ini memberi ruang napas yang lebih baik bagi para driver. Pendapatan mereka bisa lebih besar. Ada peluang untuk hidup sedikit lebih tenang.
Namun saya juga mengatakan kepada para driver ojol di Jambi bahwa perjuangan belum selesai. Kebijakan bagus tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikawal dengan serius. Kita harus memastikan aturan benar-benar dijalankan. Jangan sampai di atas kertas potongannya turun, tetapi muncul biaya-biaya lain yang justru membebani driver.
Saya memahami kekhawatiran itu. Di era digital seperti sekarang, sistem aplikasi bisa sangat kompleks. Kadang masyarakat sulit mengetahui secara detail bagaimana mekanisme pembagian pendapatan berjalan. Karena itu pengawasan harus kuat. Negara harus hadir memastikan keadilan benar-benar dirasakan oleh para pekerja.
Selain soal potongan aplikator, saya juga melihat perlunya payung hukum yang lebih jelas bagi transportasi online. Selama ini banyak persoalan ojol yang masih berada di wilayah abu-abu regulasi. Padahal transportasi online sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Masyarakat menggunakan ojol bukan hanya untuk bepergian. Mereka memesan makanan, mengirim barang, membantu aktivitas sehari-hari, bahkan menjadi penopang ekonomi keluarga kecil dan UMKM. Artinya, sektor ini sudah menjadi urat nadi ekonomi baru.
Karena itu saya mendorong adanya regulasi yang lebih kuat dan lebih adil. Revisi Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan harus mampu menjawab perkembangan zaman. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara pandang lama untuk menghadapi realitas ekonomi digital yang bergerak cepat.
Saya juga percaya bahwa driver ojol bukan sekadar angka statistik tenaga kerja informal. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang ikut menjaga roda ekonomi tetap bergerak. Ketika banyak sektor mengalami kesulitan, para driver tetap turun ke jalan mencari nafkah. Mereka membantu masyarakat tetap bisa beraktivitas.
Di balik itu semua, ada cerita perjuangan yang sering tidak terlihat. Ada driver yang tetap bekerja meski sedang sakit karena takut tidak bisa membawa uang pulang. Ada yang harus menahan lapar demi mengejar target order. Ada yang tetap berkendara saat hujan deras karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.
Kadang kita sebagai masyarakat lupa menghargai itu. Kita terlalu cepat marah ketika pesanan terlambat beberapa menit, tetapi jarang membayangkan bagaimana beratnya mereka bekerja di tengah panas dan hujan.
Saya selalu percaya bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi. Ukuran kemajuan bangsa juga dilihat dari bagaimana negara memperlakukan pekerja kecilnya. Apakah mereka dilindungi. Apakah mereka mendapatkan keadilan. Apakah mereka memiliki harapan untuk hidup lebih baik.
Karena itu saya merasa perjuangan menurunkan potongan aplikator bukan sekadar isu ekonomi. Ini adalah soal keberpihakan moral. Negara harus memastikan bahwa transformasi digital tidak menciptakan ketimpangan baru.
Saya juga mengajak para driver ojol untuk tetap menjaga solidaritas dan profesionalisme. Ketika hak-hak mulai diperjuangkan, maka kualitas pelayanan juga harus semakin baik. Masyarakat harus merasakan bahwa transportasi online bukan hanya murah dan cepat, tetapi juga aman dan manusiawi.
Kita ingin ekosistem transportasi online tumbuh sehat. Aplikator berkembang, masyarakat mendapatkan layanan baik, dan driver memperoleh penghasilan yang layak. Semua harus berjalan seimbang.
Saya percaya Indonesia bisa menuju ke sana jika semua pihak mau duduk bersama dan mendengar satu sama lain. Jangan hanya melihat persoalan dari sudut keuntungan bisnis semata. Karena di balik sistem aplikasi yang canggih, ada manusia-manusia yang bekerja keras setiap hari.
Bagi saya pribadi, mendengar langsung suara driver ojol memberi banyak pelajaran. Mereka mengajarkan tentang ketabahan. Tentang kerja keras. Tentang bagaimana bertahan hidup di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu mudah.
Dan mungkin karena itulah saya merasa perjuangan mereka tidak boleh berhenti hanya di seremoni syukuran. Kita harus terus mengawal kebijakan ini agar benar-benar memberikan dampak nyata.
Saya ingin para driver ojol di Jambi dan seluruh Indonesia percaya bahwa suara mereka penting. Bahwa perjuangan mereka didengar. Dan bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyat kecil berjalan sendirian menghadapi ketidakadilan.
Sebab pada akhirnya, politik yang baik bukan politik yang paling ramai di media sosial. Politik yang baik adalah politik yang mampu membuat masyarakat kecil merasa lebih dihargai, lebih dilindungi, dan lebih optimistis menghadapi masa depan.
Dan ketika seorang driver ojol bisa pulang membawa penghasilan yang lebih layak untuk keluarganya, bagi saya itu jauh lebih bermakna daripada sekadar pidato panjang tentang pembangunan.(*)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Provinsi Jambi












