Oleh: Edi Purwanto *
Alhamdulillah, saya menyaksikan sendiri bagaimana Musyawarah Anak Cabang, atau MUSCAB, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Merangin berjalan dengan lancar. Bukan hanya sekadar lancar secara teknis, tapi juga terasa hidup… terasa hangat… terasa penuh semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Saya duduk di tengah-tengah para kader, melihat satu per satu wajah yang datang bukan karena kewajiban semata, tapi karena keyakinan. Keyakinan bahwa perjuangan ini bukan sekadar politik, tapi tentang keberpihakan… tentang masa depan masyarakat… tentang arah daerah yang ingin kita bawa bersama.
Di momen seperti ini, saya selalu bertanya dalam hati… apa sebenarnya makna sebuah musyawarah? Apakah hanya forum formal untuk memilih pengurus? Atau lebih dari itu… sebuah ruang untuk menyatukan niat, menyegarkan semangat, dan menegaskan kembali arah perjuangan?
Bagi saya, MUSCAB di Merangin ini memberi jawaban yang cukup jelas.
Saya melihat semangat yang tidak dibuat-buat. Saya merasakan ketulusan yang tidak bisa direkayasa. Para kader berbicara dengan bahasa yang sederhana, tapi penuh makna. Mereka tidak sedang mencari panggung… mereka sedang menjaga rumah besar yang mereka yakini sebagai alat perjuangan rakyat.
Dan di titik itu, saya merasa bangga. Bangga bukan karena posisi atau jabatan, tapi karena melihat bahwa PDI Perjuangan di Merangin masih berdiri dengan akar yang kuat.
Apalagi kita tahu bersama, PDI Perjuangan adalah partai pemenang Pemilu 2024. Kemenangan ini tentu bukan datang begitu saja. Ini adalah hasil dari kerja panjang… kerja sunyi… kerja yang kadang tidak terlihat, tapi dirasakan langsung oleh masyarakat.
Namun saya juga ingin jujur… kemenangan itu bukan akhir dari perjalanan. Justru di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Saya sering berpikir, setelah menang… lalu apa? Apakah kita akan terlena dengan angka dan posisi? Atau kita justru semakin sadar bahwa harapan rakyat kini semakin besar?
Karena ketika rakyat memberikan kepercayaan, yang mereka titipkan bukan hanya suara. Mereka menitipkan harapan… mereka menitipkan masa depan… bahkan kadang mereka menitipkan hidup mereka pada keputusan-keputusan yang kita buat.
Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan diri sendiri dan juga kawan-kawan kader… bahwa menjadi bagian dari PDI Perjuangan bukan hanya soal identitas politik. Ini adalah soal tanggung jawab moral.
Di MUSCAB ini, saya melihat ada kesadaran itu. Bahwa perjuangan tidak boleh berhenti di ruang rapat. Bahwa keputusan tidak boleh jauh dari kebutuhan masyarakat. Bahwa partai harus tetap menjadi rumah rakyat… bukan sekadar kendaraan kekuasaan.
Saya juga teringat perjalanan panjang PDI Perjuangan. Dari masa sulit… dari tekanan… dari berbagai dinamika yang tidak selalu mudah. Tapi justru dari situlah karakter partai ini terbentuk.
Partai ini besar bukan karena kekuasaan semata, tapi karena kedekatannya dengan rakyat. Karena keberaniannya untuk tetap berdiri di sisi masyarakat, bahkan ketika situasi tidak menguntungkan.
Dan hari ini, di Merangin, saya melihat nilai-nilai itu masih hidup.
Namun tentu saja, kita tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Karena tantangan ke depan tidak semakin ringan… justru semakin kompleks.
Bagaimana kita memastikan bahwa kemenangan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? Bagaimana kita menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika politik yang terus berubah? Bagaimana kita tetap konsisten di jalur perjuangan, ketika godaan kekuasaan selalu ada?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan pidato. Tidak bisa diselesaikan dalam satu forum. Tapi harus dijawab dengan kerja nyata… dengan kebijakan yang berpihak… dengan keberanian untuk mengambil keputusan yang benar, meskipun tidak selalu populer.
Saya percaya, kader PDI Perjuangan di Merangin memiliki potensi itu. Saya melihatnya langsung. Tinggal bagaimana semangat ini dijaga… dirawat… dan diarahkan dengan baik.
Saya juga ingin menyampaikan satu hal yang sering saya renungkan… bahwa politik seharusnya tidak menjauhkan kita dari rakyat. Justru sebaliknya, harus semakin mendekatkan.
Kalau kita mulai sibuk dengan urusan internal saja… kalau kita mulai lupa mendengar suara masyarakat… maka di situlah awal dari jarak yang berbahaya.
Dan saya tidak ingin itu terjadi.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukan pada seberapa besar partai ini… tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan.
MUSCAB ini bagi saya bukan hanya agenda organisasi. Ini adalah pengingat. Pengingat bahwa perjuangan ini harus terus dijaga. Bahwa kepercayaan rakyat harus terus dirawat. Bahwa kemenangan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Dalam perjalanan pulang, saya membawa satu keyakinan… bahwa Merangin punya energi besar. Energi yang jika dikelola dengan baik, bisa menjadi kekuatan untuk mendorong kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Dan saya percaya, PDI Perjuangan bisa menjadi bagian penting dari proses itu.
Tentu dengan satu syarat… kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal.
Karena kita lahir dari rakyat… kita besar bersama rakyat… dan kita harus kembali untuk rakyat.
Itulah yang saya rasakan dari MUSCAB ini.
Dan semoga, ini bukan hanya cerita hari ini… tapi menjadi langkah awal untuk perjalanan panjang yang lebih bermakna ke depan. (***)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Jambi yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jambi












