Oleh : Al Haris *
Perjalanan itu dimulai dari Desa Tenda, Kabupaten Sarolangun. Pagi belum sepenuhnya terang, tapi langkah kami sudah harus dipastikan. Ada kabar yang tak bisa ditunda, ada warga yang menunggu, ada luka yang harus dilihat langsung… bukan sekadar dari laporan di atas meja.
Saya selalu percaya, seorang pemimpin tidak cukup hanya membaca angka dan laporan. Harus turun, harus melihat, harus mendengar. Karena di balik kata “bencana”, selalu ada cerita manusia… ada air mata… ada kehilangan yang tak bisa dihitung dengan angka.
Dari Desa Tenda, kami bergerak menuju Desa Pulau Bayur, Kecamatan Pamenang Selatan, Kabupaten Merangin. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan lokasi, tapi perjalanan hati… menuju tempat di mana alam menunjukkan kekuatannya, dan manusia diuji ketahanannya.
Di sepanjang perjalanan, saya banyak diam. Bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, tapi karena pikiran penuh. Saya membayangkan bagaimana derasnya air saat banjir bandang itu datang. Bagaimana warga berlari menyelamatkan diri. Bagaimana dalam hitungan menit, rumah, ladang, dan harapan bisa hanyut begitu saja.
Sesampainya di Desa Pulau Bayur, pemandangan itu… sulit dijelaskan. Lumpur masih tersisa di banyak sudut. Kayu-kayu berserakan. Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kokoh kini hanya menyisakan rangka atau bahkan hilang tanpa jejak.
Saya berjalan perlahan, menyapa warga satu per satu. Ada yang mencoba tersenyum, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada yang kuat bercerita, ada juga yang hanya diam… mungkin karena masih mencoba menerima kenyataan.
Seorang ibu menghampiri saya. Suaranya pelan, tapi penuh makna. Ia bercerita bagaimana air datang tiba-tiba di malam hari. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Yang ada hanya menyelamatkan diri dan anak-anaknya.
Saya mendengarkan. Tidak memotong. Tidak buru-buru memberi jawaban. Karena kadang, yang dibutuhkan bukan solusi cepat… tapi kehadiran yang benar-benar mendengar.
Di titik itu, saya kembali diingatkan… bahwa tugas ini bukan sekadar jabatan. Ini adalah amanah. Amanah untuk hadir di saat sulit, bukan hanya di saat peresmian dan seremoni.
Kami membawa bantuan. Logistik, kebutuhan pokok, dan hal-hal yang memang dibutuhkan warga dalam kondisi darurat seperti ini. Tapi saya juga sadar… bantuan materi saja tidak cukup.
Yang mereka butuhkan juga adalah kepastian. Kepastian bahwa mereka tidak sendiri. Kepastian bahwa pemerintah hadir. Kepastian bahwa masa depan mereka masih bisa diperjuangkan.
Saya berdiskusi dengan tim di lapangan. Apa yang paling mendesak? Apa yang harus diprioritaskan? Bagaimana langkah jangka pendek dan jangka panjang?
Karena penanganan bencana tidak boleh berhenti di bantuan awal saja. Harus ada pemulihan. Harus ada pembangunan kembali. Harus ada upaya agar kejadian seperti ini bisa diminimalkan ke depan.
Banjir bandang ini bukan hanya soal air yang datang deras. Ini juga tentang bagaimana kita mengelola alam. Tentang bagaimana menjaga hutan. Tentang bagaimana tata ruang harus benar-benar diperhatikan.
Saya tidak ingin hanya menyalahkan keadaan. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa ada hal-hal yang harus dibenahi.
Di tengah kondisi itu, saya melihat sesuatu yang membuat saya sedikit lega… solidaritas warga. Mereka saling membantu. Mereka saling menguatkan. Bahkan di tengah keterbatasan, mereka tetap berbagi.
Inilah kekuatan kita sebenarnya. Gotong royong. Rasa kebersamaan. Nilai yang tidak bisa dibeli, tapi selalu muncul di saat-saat sulit.
Saya berbicara dengan beberapa tokoh masyarakat. Mereka menyampaikan harapan. Mereka tidak menuntut yang berlebihan. Mereka hanya ingin bisa kembali hidup normal. Bisa bekerja lagi. Bisa melihat anak-anak mereka kembali bersekolah tanpa rasa khawatir.
Harapan yang sederhana… tapi sangat berarti.
Dalam perjalanan pulang, pikiran saya terus berputar. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Bagaimana memastikan bantuan ini tepat sasaran? Bagaimana mempercepat pemulihan?
Saya tahu, pekerjaan ini tidak selesai dalam sehari. Tidak selesai dalam satu kunjungan. Ini butuh proses. Butuh komitmen. Butuh kerja bersama.
Dan saya berjanji pada diri sendiri… bahwa ini tidak akan berhenti di sini.
Pemerintah harus terus hadir. Bukan hanya saat bencana terjadi, tapi juga dalam proses pemulihan. Kita harus memastikan bahwa warga bisa bangkit kembali.
Saya juga ingin mengajak semua pihak. Dunia usaha, komunitas, relawan… mari kita bergerak bersama. Karena beban ini akan terasa lebih ringan jika dipikul bersama.
Kepada warga Desa Pulau Bayur, saya ingin mengatakan… kalian tidak sendiri. Kami ada. Pemerintah ada. Dan kita akan melewati ini bersama.
Bencana memang tidak bisa kita hindari sepenuhnya. Tapi cara kita meresponsnya… itulah yang menentukan masa depan kita.
Perjalanan dari Desa Tenda ke Pulau Bayur ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah pengingat. Pengingat bahwa di balik setiap kebijakan, ada manusia yang terdampak.
Dan selama saya diberi amanah ini, saya akan terus berusaha… untuk hadir, untuk mendengar, dan untuk bekerja.
Karena pada akhirnya, tugas ini bukan tentang saya… tapi tentang kita semua.
Dan dari Pulau Bayur, saya pulang dengan satu keyakinan… bahwa di tengah luka, selalu ada harapan. Selalu ada kekuatan untuk bangkit. Selalu ada alasan untuk terus melangkah.
Kita tidak boleh menyerah. Tidak boleh berhenti. Karena di depan sana… masih banyak yang menunggu untuk kita perjuangkan. (*)
* Al Haris, Gubernur Jambi












