Cakap Ketua Edi : Tragedi Kereta Bekasi Timur dan Alarm Keras untuk Keselamatan Transportasi Nasional

Cakap Ketua Edi : Tragedi Kereta Bekasi Timur dan Alarm Keras untuk Keselamatan Transportasi Nasional
Cakap Ketua Edi : Tragedi Kereta Bekasi Timur dan Alarm Keras untuk Keselamatan Transportasi Nasional.Foto: Jambiseru.com

Oleh : Edi Purwanto *

Atas nama saya pribadi dan sebagai bagian dari Pimpinan serta Anggota Komisi V DPR RI, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas tragedi kereta di Bekasi Timur. Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar bagi kita semua. Seberapa serius kita menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam sistem transportasi nasional?

Saya melihat kejadian ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah alarm keras… peringatan nyata bahwa ada sesuatu yang belum beres dalam sistem yang kita bangun. Kita tidak bisa lagi memandang peristiwa seperti ini sebagai insiden yang berdiri sendiri, lalu selesai setelah berita mereda. Karena di balik setiap kejadian, selalu ada pola yang seharusnya bisa kita baca dan kita perbaiki.

Memang, kita semua menunggu hasil investigasi dari pihak kepolisian. Itu penting sebagai dasar penegakan hukum dan penentuan tanggung jawab. Namun, sebagai pembuat kebijakan, saya merasa tidak cukup hanya menunggu. Ada hal-hal yang secara kasat mata sudah lama menjadi persoalan, dan seharusnya tidak perlu menunggu korban berikutnya untuk diselesaikan.

Perlintasan sebidang adalah salah satunya. Saya sudah berkali-kali melihat langsung bagaimana titik-titik ini menjadi potensi bahaya yang terus berulang. Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, sampai kapan kita akan membiarkan masyarakat berhadapan langsung dengan risiko setiap hari? Apakah kita akan terus menunggu kejadian demi kejadian sebagai pengingat?

Pembangunan flyover atau underpass bukan lagi sekadar opsi, tetapi kebutuhan. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal keberanian mengambil keputusan. Karena setiap keterlambatan berarti kita sedang mempertaruhkan keselamatan masyarakat. Dan bagi saya, itu bukan hal yang bisa ditoleransi.

Saya juga melihat pentingnya percepatan penerapan teknologi keselamatan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Di era sekarang, kita tidak kekurangan teknologi. Yang sering menjadi kendala adalah kecepatan dalam mengadopsinya dan keseriusan dalam mengimplementasikannya.

Kadang saya berpikir, apakah kita terlalu nyaman dengan sistem yang ada sehingga lupa untuk terus memperbaikinya? Atau mungkin kita terlalu sering berkompromi dengan keadaan, sampai akhirnya risiko dianggap sebagai hal biasa? Ini pertanyaan yang harus kita jawab bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh semua pihak yang terlibat dalam sistem transportasi.

Sebagai wakil rakyat, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingatkan bahwa keselamatan tidak boleh dinegosiasikan. Tidak boleh ada alasan anggaran, birokrasi, atau proses yang berlarut-larut ketika yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia.

Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat tragedi ini sebagai titik balik. Bukan sekadar momen duka, tetapi juga momentum untuk berubah. Kita harus berani melakukan evaluasi menyeluruh, bukan tambal sulam. Kita harus berani mengakui kelemahan, lalu memperbaikinya dengan serius.

Dalam setiap kebijakan yang kita buat, seharusnya ada satu prinsip yang selalu menjadi dasar: apakah ini membuat masyarakat lebih aman? Jika jawabannya belum, maka pekerjaan kita belum selesai.

Saya percaya, kita punya kemampuan untuk membangun sistem transportasi yang lebih aman dan lebih baik. Yang kita butuhkan adalah komitmen… komitmen untuk tidak menunda, komitmen untuk tidak setengah-setengah, dan komitmen untuk benar-benar menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

Di akhir refleksi ini, saya ingin menegaskan satu hal yang sederhana, tetapi sering terlupakan. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi pijakan dalam setiap keputusan yang kita ambil.

Dan jika prinsip itu benar-benar kita pegang, maka tragedi seperti ini seharusnya tidak lagi menjadi cerita yang berulang. (*)

* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Provinsi Jambi

Pos terkait