Oleh : Al Haris *
Saya masih ingat betul momen itu… sederhana, tapi penuh makna. Kami berdiri di lahan yang sama, menggenggam benih jagung, menatap tanah yang akan menjadi harapan. Bersama Wakil Menteri Pertanian, Kajati Jambi, Wakapolda Jambi, dan Kasi Intel Korem 042/Gapu, kami tidak hanya menanam jagung… kami sedang menanam masa depan.
Di tengah dunia yang tidak sedang baik-baik saja, langkah kecil seperti ini justru menjadi sangat besar artinya. Krisis global bukan lagi isu jauh di layar televisi. Ia nyata, terasa, dan perlahan mengetuk pintu kita. Konflik di Timur Tengah, ketegangan geopolitik, hingga gangguan rantai pasok dunia… semua itu berujung pada satu hal: ancaman terhadap pangan.
Dan di titik itulah, saya selalu percaya… kita tidak boleh hanya jadi penonton.
Menanam jagung bersama bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan. Pesan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani. Bukan hanya tugas pemerintah pusat. Tapi kerja bersama… kerja nyata… kerja yang harus dimulai dari tanah yang kita pijak sendiri.
Saya sering mengatakan, ketahanan pangan itu bukan pilihan… tapi keharusan.
Kalau kita bicara jujur, dunia saat ini sedang berada dalam fase yang tidak pasti. Harga energi naik, distribusi terganggu, produksi pangan di beberapa negara menurun. Negara-negara besar mulai menahan ekspor. Mereka mengamankan kebutuhan dalam negeri lebih dulu. Dan ini wajar… karena setiap negara pasti akan mendahulukan rakyatnya.
Pertanyaannya, bagaimana dengan kita?
Apakah kita hanya bergantung? Atau kita mulai berdiri di kaki sendiri?
Di Jambi, saya ingin memastikan bahwa kita tidak hanya bertahan… tapi juga bergerak maju. Jagung menjadi salah satu simbol dari gerakan ini. Tanaman yang sederhana, tapi punya nilai strategis yang luar biasa. Dari pangan, pakan ternak, hingga industri… jagung adalah komoditas yang menyentuh banyak sektor.
Makanya, ketika kami turun langsung menanam, itu bukan sekadar aktivitas lapangan. Itu adalah bentuk komitmen.
Saya percaya satu hal… ketahanan pangan selalu berjalan beriringan dengan ketahanan energi.
Kenapa? Karena tanpa energi, produksi pangan tidak akan berjalan. Tanpa bahan bakar, distribusi terhenti. Tanpa listrik, industri pengolahan lumpuh. Dan sebaliknya… tanpa pangan yang cukup, stabilitas energi pun akan terganggu.
Ini seperti dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan.
Makanya, kita tidak boleh berpikir parsial. Tidak bisa hanya fokus di satu sektor. Harus terintegrasi. Harus menyatu. Harus ada keberanian untuk melihat masalah secara utuh. Dan di situlah pentingnya kolaborasi.
Saat saya berdiri bersama Wamentan, Kajati, Wakapolda, dan jajaran Korem… saya melihat sesuatu yang lebih dari sekadar acara. Saya melihat sinergi. Saya melihat bahwa semua elemen memahami satu hal yang sama: pangan adalah isu strategis.
Bukan isu biasa. Ini menyangkut perut rakyat. Menyangkut stabilitas daerah. Bahkan menyangkut kedaulatan negara.
Saya sering bertanya dalam hati… apa yang bisa kita lakukan sebagai daerah? Jawabannya sebenarnya sederhana, tapi butuh konsistensi: memanfaatkan apa yang kita punya.
Jambi punya lahan. Punya petani. Punya semangat. Tinggal bagaimana kita mengelola semuanya dengan serius. Tidak setengah-setengah. Tidak hanya program di atas kertas. Harus turun ke lapangan. Harus menyentuh tanah. Harus mendengar langsung suara petani.
Karena di sanalah realitas sebenarnya.
Menanam jagung hari itu mengingatkan saya pada satu hal penting… bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, justru dari hal kecil yang dilakukan bersama-sama.
Benih yang kita tanam mungkin kecil. Tapi kalau dirawat, dijaga, dan dikelola dengan baik… ia akan tumbuh. Memberi hasil. Memberi kehidupan.
Begitu juga dengan ketahanan pangan.
Ia tidak datang dari satu kebijakan besar saja. Tapi dari ribuan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari desa ke desa. Dari lahan ke lahan. Dan saya percaya… kita sedang berada di jalur itu.
Tentu, jalan ini tidak mudah. Akan ada tantangan. Cuaca, harga, distribusi, hingga minat generasi muda di sektor pertanian. Semua itu nyata. Semua itu harus kita hadapi.
Tapi saya selalu yakin… selama kita tidak berhenti bergerak, selalu ada jalan.
Saya juga ingin menekankan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi. Tapi juga soal kesadaran. Kesadaran untuk mencintai produk lokal. Kesadaran untuk tidak bergantung sepenuhnya pada impor. Kesadaran bahwa apa yang kita tanam hari ini… akan menentukan apa yang kita makan besok.
Dan di tengah situasi global yang semakin tidak pasti, kesadaran itu menjadi semakin penting.
Momen menanam jagung bersama itu, bagi saya, bukan sekadar kegiatan simbolis. Itu adalah pengingat. Bahwa kita punya tanggung jawab. Bahwa kita punya peran.
Dan yang paling penting… bahwa kita tidak boleh lengah.
Dunia boleh bergejolak. Konflik boleh memanas. Tapi kita harus tetap berdiri tegak. Tetap bekerja. Tetap menanam harapan.
Karena pada akhirnya… ketahanan sebuah daerah, sebuah bangsa, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militernya… tapi juga oleh kemampuannya memberi makan rakyatnya sendiri.
Dan di Jambi, saya ingin memastikan… kita tidak hanya cukup… tapi juga kuat. Kuat menghadapi tantangan. Kuat menjaga stabilitas.
Dan kuat memastikan bahwa setiap benih yang kita tanam hari ini… akan menjadi masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang. (*)
* Al Haris, Gubernur Jambi












