Oleh : Edi Purwanto *
Politik, dalam pandangan saya, seringkali diuji justru di saat-saat tersulit, yakni saat bencana datang menyapa rakyat kita. Banjir yang melanda beberapa waktu lalu di Kabupaten Sarolangun bukan hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga menyisakan luka pada nadi transportasi kita. Salah satunya adalah kondisi Jembatan Bukit Rantai yang sangat vital bagi mobilitas masyarakat. Bagi saya, jembatan yang rusak bukan sekadar tumpukan beton yang patah, melainkan terputusnya akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga.
Saya ingin menegaskan bahwa kita tidak tinggal diam. Insha Allah, target kita sudah jelas: tahun ini, atau paling lambat tahun depan, perbaikan Jembatan Bukit Rantai bersama enam jembatan terdampak lainnya di Sarolangun harus segera kita upayakan. Rakyat tidak butuh janji yang menggantung di awan, mereka butuh kepastian bahwa pemerintah dan wakilnya hadir di saat jembatan mereka tak lagi bisa dipijak dengan aman.
Kolaborasi: Kunci Mengetuk Pintu Pusat
Kita harus realistis bahwa kemampuan anggaran daerah memiliki keterbatasan. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Inilah gunanya kita berada di dalam sistem: untuk membangun jembatan komunikasi yang kuat antara daerah dan pusat.
Kita terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah agar alokasi anggaran dari pemerintah pusat (APBN) dapat diarahkan secara maksimal ke Provinsi Jambi.
Saya selalu katakan kepada kawan-kawan di struktur maupun di legislatif, kita harus gigih menjemput bola. Percepatan pemulihan infrastruktur pasca bencana ini memerlukan sinergi yang tanpa sekat. Kita mengetuk pintu pusat bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk memastikan kualitas infrastruktur di pelosok Jambi—seperti di Bukit Rantai—memiliki standar yang layak dan tangguh menghadapi tantangan alam ke depan.
Membangun dengan Hati, Bukan Sekadar Proyek
Setiap rupiah yang kita perjuangkan dari APBN maupun APBD untuk infrastruktur ini harus benar-benar bermuara pada kesejahteraan. Saya tidak ingin perbaikan ini dilakukan asal-asalan. Kualitas harus menjadi harga mati. Jangan sampai jembatan dibangun hari ini, tahun depan rusak lagi. Itu namanya mengkhianati amanah rakyat.
Perbaikan infrastruktur ini adalah bagian dari gerakan politik yang hidup. Saat kita memperbaiki jembatan, kita sebenarnya sedang menyambung kembali harapan seorang petani untuk membawa hasil panennya ke pasar. Kita sedang memastikan seorang anak sekolah tidak perlu bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi masa depannya. Inilah esensi politik kemanusiaan yang selalu saya tekankan.
Soliditas Menghadapi Tantangan Pembangunan
Kepada seluruh kader dan pemangku kebijakan, saya instruksikan untuk terus mengawal proses ini. Pantau perkembangannya, pastikan birokrasi berjalan cepat tanpa ada hambatan yang dibuat-buat. Rakyat di Bukit Rantai dan wilayah terdampak banjir lainnya sedang menunggu bukti nyata dari pengabdian kita.
Soliditas kita dalam mengawal pembangunan infrastruktur ini adalah cermin dari kesetiaan kita pada rakyat. Mari kita terus bergerak, bersinergi, dan memastikan bahwa pembangunan di Provinsi Jambi merata hingga ke akar rumput. Jembatan Bukit Rantai hanyalah satu dari sekian banyak perjuangan kita, namun ia adalah simbol bahwa kita hadir dan tidak pernah memunggungi rakyat di saat mereka sulit.
Setia di Garis Perjuangan
Perjalanan membangun Jambi memang masih panjang, dan tantangan alam seperti bencana mungkin akan kembali datang. Namun, selama kita tetap kompak, selama kolaborasi antara pusat dan daerah terjaga, dan selama hati kita tetap terpaut pada penderitaan rakyat, Insha Allah tidak ada jembatan yang terlalu sulit untuk kita bangun kembali.
Mari kita tuntaskan tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Teruslah bekerja dengan niat tulus pengabdian, karena bagi kita, politik adalah jalan untuk menebar manfaat bagi sesama.(*)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Provinsi Jambi












