Al Haris Ways Always: Melepas Tamu Allah dari Jambi, Tentang Doa, Pelayanan, dan Harapan Besar untuk Tanah Pilih

al haris, gubernur jambi
Al Haris, Gubernur Jambi. Foto: jambiserucom

Oleh : Al Haris *

Ada suasana yang selalu berbeda setiap kali musim haji tiba di Jambi. Wajah-wajah haru bercampur bahagia terlihat di setiap sudut Asrama Haji. Ada keluarga yang memeluk orang tuanya lebih lama dari biasanya. Ada anak-anak yang menggenggam tangan ayah ibunya dengan mata berkaca-kaca. Dan ada pula para calon jemaah yang diam sambil menunduk, mungkin sedang menyimpan banyak doa sebelum berangkat menuju tanah suci.

Malam itu, ketika melepas kloter perdana keberangkatan haji Provinsi Jambi Tahun 2026 di Asrama Haji Kota Baru, saya kembali merasakan bahwa tugas seorang pemimpin bukan hanya memastikan administrasi berjalan baik. Lebih dari itu, kami harus memastikan para tamu Allah ini berangkat dengan rasa aman, nyaman, dan terlayani dengan baik sejak dari tanah air hingga nantinya berada di Arab Saudi.

Saya selalu percaya bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ini perjalanan hati. Perjalanan yang mungkin sudah ditunggu bertahun-tahun oleh masyarakat. Bahkan ada yang menabung puluhan tahun, menjual hasil kebun sedikit demi sedikit, menyisihkan uang pensiun, atau menahan banyak keinginan demi bisa sampai ke Baitullah.

Karena itu saya merasa pemerintah tidak boleh setengah-setengah dalam melayani jemaah haji. Jangan sampai ada jemaah yang merasa diabaikan. Jangan sampai ada yang kebingungan tanpa pendampingan. Dan jangan sampai pelayanan hanya bagus di atas laporan, tetapi kurang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Alhamdulillah, tahun ini Provinsi Jambi mendapatkan kabar baik dengan adanya peningkatan kuota haji dibanding tahun sebelumnya. Jumlah calon jemaah haji dan petugas yang diberangkatkan mencapai lebih dari 3.300 orang dari delapan kloter keberangkatan. Ini tentu menjadi harapan besar bagi masyarakat yang sudah lama menunggu antrean keberangkatan.

Saya memahami betul bagaimana panjangnya masa tunggu haji di Indonesia, termasuk di Jambi. Karena itu setiap tambahan kuota selalu menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi masyarakat. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan ketika melihat warga akhirnya bisa berangkat setelah bertahun-tahun menanti.

Namun saya juga mengingatkan para jemaah bahwa perjalanan haji membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang kuat. Di tanah suci nanti, semua akan diuji. Kesabaran diuji. Emosi diuji. Fisik diuji. Bahkan ego kita sebagai manusia juga diuji. Kadang fasilitas tidak selalu sesuai harapan. Kadang cuaca sangat panas. Kadang perjalanan melelahkan.

Tetapi justru di situlah letak makna ibadah haji. Kita belajar ikhlas, belajar sabar, dan belajar menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah SWT. Saya selalu percaya bahwa haji mabrur bukan hanya tentang menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, tetapi tentang bagaimana sepulangnya nanti seseorang menjadi pribadi yang lebih baik untuk lingkungan dan masyarakatnya.

Saya juga menitipkan doa kepada para jemaah agar turut mendoakan Provinsi Jambi. Doakan negeri ini tetap aman, damai, dan diberi keberkahan. Sebab doa dari tanah suci selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat kita.

Ada satu harapan besar yang terus saya perjuangkan terkait penyelenggaraan haji di Jambi. Saya ingin suatu hari nanti jemaah haji asal Jambi bisa langsung berangkat menuju tanah suci melalui Bandara Sultan Thaha Jambi tanpa harus transit panjang seperti saat ini. Karena itu Pemerintah Provinsi Jambi terus mengusulkan agar Bandara Sultan Thaha bisa menjadi bandara internasional. Dan alhamdulillah, proses serta peninjauan sudah mulai berjalan.

Bagi sebagian orang mungkin ini hanya soal bandara. Tetapi bagi saya ini soal kemudahan pelayanan masyarakat. Bayangkan jika para orang tua yang lanjut usia tidak lagi harus menempuh perjalanan tambahan yang melelahkan sebelum terbang ke Arab Saudi. Tentu itu akan menjadi kemajuan besar bagi pelayanan haji di Jambi.

Saya sering mengatakan bahwa pembangunan daerah bukan hanya soal gedung dan jalan. Pelayanan kepada masyarakat juga bagian penting dari pembangunan. Ketika masyarakat merasa dipermudah, dihargai, dan dilayani dengan baik, maka di situlah sesungguhnya pemerintah hadir.

Saya juga sangat mengapresiasi seluruh petugas haji yang selama ini bekerja membantu jemaah, mulai dari proses pendaftaran, manasik, keberangkatan, hingga nantinya mendampingi di tanah suci. Tugas mereka tidak ringan. Mereka harus sabar menghadapi berbagai situasi dan memastikan seluruh jemaah tetap dalam kondisi aman dan nyaman.

Kepada seluruh petugas, saya selalu berpesan bahwa tugas utama kita adalah melayani tamu Allah dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya bekerja secara administratif, tetapi bekerjalah dengan hati. Karena yang kita layani ini bukan sekadar peserta perjalanan biasa, melainkan orang-orang yang sedang menjalankan rukun Islam yang sangat sakral.

Saya juga merasa bangga melihat semangat masyarakat Jambi yang begitu besar untuk berangkat haji. Ini menunjukkan bahwa nilai religius masih sangat kuat di tengah masyarakat kita. Dan saya berharap semangat itu juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, dalam sikap saling menghargai, saling membantu, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Al Haris Ways Always kali ini mengingatkan saya bahwa melepas jemaah haji bukan hanya seremoni tahunan. Ini tentang melepas doa-doa masyarakat Jambi menuju langit Makkah. Tentang harapan keluarga yang ditinggalkan di rumah. Tentang pemerintah yang harus hadir memberi pelayanan terbaik. Dan tentang ikhtiar panjang agar suatu hari nanti Jambi benar-benar memiliki sistem pelayanan haji yang semakin modern, nyaman, dan membanggakan bagi seluruh masyarakat.(*)

* Al Haris, Gubernur Jambi

Pos terkait