FILM, Jambiseru.com – Nonton One Flew Over the Cuckoo’s Nest itu bukan sekadar menonton drama klasik. Ini pengalaman emosional. Film tahun 1975 ini seperti tamparan pelan… tapi makin lama makin keras.
Disutradarai oleh Miloš Forman dan dibintangi luar biasa oleh Jack Nicholson sebagai Randle P. McMurphy, film ini membawa kita masuk ke dunia rumah sakit jiwa yang terasa dingin, sunyi, dan penuh tekanan psikologis.
Ceritanya sederhana. Seorang narapidana berpura-pura gila agar dipindahkan ke rumah sakit jiwa, berharap hidupnya lebih santai dibanding penjara. Tapi yang ia temukan bukan kebebasan… melainkan sistem yang lebih mengekang.
Dan di situlah semuanya dimulai.
McMurphy: Simbol Kebebasan yang Berisik
Karakter McMurphy itu seperti percikan api di ruang yang penuh bensin. Dia tertawa keras, melawan aturan, menggoda perawat, dan memprovokasi sistem. Dia bukan orang suci. Dia kasar, egois, kadang sembrono. Tapi dia hidup.
Dan justru karena dia hidup itulah dia terasa berbeda.
Di sisi lain ada Nurse Ratched, antagonis yang tidak berteriak, tidak memukul, tidak terlihat jahat secara fisik. Tapi justru ketenangannya itulah yang menyeramkan. Ia mengontrol pasien lewat psikologi, rasa malu, dan manipulasi.
Konflik mereka bukan soal fisik. Ini duel mental.
Dan penonton dibuat tegang bukan karena adegan aksi, tapi karena dialog… tatapan… dan keputusan-keputusan kecil yang terasa besar.
Drama Psikologi yang Tidak Tua Dimakan Zaman
Yang mengejutkan, meski film ini rilis tahun 1975, rasanya masih relevan. Tema tentang sistem yang menekan individu, tentang bagaimana “normalitas” didefinisikan oleh otoritas, itu masih terasa sampai hari ini.
Film ini menyapu bersih lima Oscar utama di ajang Academy Awards — Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Adapted Screenplay. Pencapaian yang sangat jarang dalam sejarah perfilman.
Dan setelah menonton, rasanya wajar.
Karena film ini bukan hanya cerita. Ini refleksi sosial.
Emosi yang Pelan Tapi Menghantam
Tidak ada musik dramatis berlebihan. Tidak ada efek sinematik mewah. Tapi justru kesederhanaannya membuat semuanya terasa nyata.
Adegan-adegannya berjalan lambat, penuh dialog panjang. Tapi anehnya tidak membosankan. Setiap percakapan terasa penting. Setiap ekspresi menyimpan makna.
Dan ketika klimaksnya datang…
Itu bukan ledakan. Itu luka.
Film ini tidak memberikan kepuasan heroik seperti film Hollywood modern. Yang ada justru rasa pahit, getir, dan sunyi.
Tapi di situlah kekuatannya.
Kesimpulan: Film yang Harus Ditonton Sekali Seumur Hidup
One Flew Over the Cuckoo’s Nest bukan tontonan santai. Ini film yang mengajak berpikir, merenung, bahkan mungkin tidak nyaman.
Tapi justru karena itu film ini layak disebut mahakarya.
Akting Jack Nicholson terasa liar namun penuh lapisan. Interaksi antar pasien terasa natural. Dan pesan tentang kebebasan manusia terasa universal.
Kalau kamu mencari film klasik yang bukan sekadar nostalgia, tapi benar-benar meninggalkan bekas…
Film ini jawabannya.
Dan setelah selesai menonton, kamu mungkin akan bertanya dalam hati:
Siapa sebenarnya yang gila? Mereka… atau sistemnya? (gie)












