SoulMate: Film China Tentang Persahabatan, Cinta, dan Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

soulmate film china tentang persahabatan, cinta, dan luka yang tidak pernah benar benar pergi
SoulMate: Film China Tentang Persahabatan, Cinta, dan Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi. Foto: AI/jambiserucom

JAMBI, Jambiseru.com – Ada film yang selesai ditonton lalu perlahan hilang begitu saja dari kepala. Tapi ada juga film yang diam-diam menetap, seperti lagu lama yang tiba-tiba teringat saat malam sedang sunyi. Film China SoulMate termasuk jenis film kedua. Ia tidak berisik. Tidak mencoba tampil terlalu megah. Namun justru karena kesederhanaannya, film ini terasa begitu dekat dan menyakitkan.

Saat pertama kali menonton SoulMate, saya kira ini hanya drama persahabatan biasa. Dua perempuan, masa kecil, konflik cinta, lalu berpisah. Formula seperti itu sebenarnya sudah sering dipakai. Tetapi semakin lama film berjalan, semakin terasa bahwa SoulMate bukan sekadar cerita tentang sahabat. Ia adalah kisah tentang dua jiwa yang saling membutuhkan, saling melukai, tetapi tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan satu sama lain.

Film ini seperti menampar pelan penontonnya. Tidak keras, tetapi terasa lama.

Variasi judul seperti SoulMate film China paling emosional tentang persahabatan dan cinta memang terasa berlebihan jika dibaca sekilas. Namun setelah menontonnya sampai akhir, kalimat itu justru terasa masuk akal.

Ketika Persahabatan Menjadi Rumah Sekaligus Luka

Film SoulMate mengikuti kisah dua perempuan bernama An Sheng dan Qi Yue. Mereka bertemu sejak kecil dan langsung menjadi sahabat dekat. Meski sama-sama perempuan muda, karakter mereka benar-benar bertolak belakang.

Qi Yue adalah gadis tenang, teratur, dan hidup dalam ekspektasi keluarga yang rapi. Sementara An Sheng lebih liar, bebas, dan seperti tidak pernah benar-benar punya tempat pulang. Hubungan mereka terasa seperti dua sisi dunia yang berbeda, tetapi justru karena itulah mereka saling tertarik.

Yang menarik dari film ini bukan konflik besar atau adegan dramatis berlebihan. Justru kekuatannya ada di detail-detail kecil. Cara mereka saling memandang. Cara mereka tertawa. Cara mereka diam saat terluka.

Ada momen ketika penonton mulai sadar bahwa hubungan mereka jauh lebih rumit dibanding sekadar sahabat biasa. Mereka saling iri. Saling kagum. Kadang saling benci. Tetapi juga saling mencintai dengan cara yang sulit dijelaskan.
Film ini memahami satu hal penting: hubungan manusia tidak selalu bisa diberi label sederhana.

Cinta Segitiga yang Tidak Pernah Menjadi Inti Cerita

Secara garis besar, memang ada elemen cinta segitiga dalam SoulMate. Kehadiran seorang pria bernama Jia Ming menjadi titik retak hubungan mereka. Namun anehnya, setelah menonton, saya justru merasa Jia Ming bukan pusat cerita.

Tokoh laki-laki itu seperti hanya alat untuk memperlihatkan luka terdalam dua perempuan ini.

Yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan siapa mendapatkan pria tersebut. Yang dipertaruhkan adalah rasa kehilangan. Ketakutan ditinggalkan. Ketakutan tidak lagi menjadi orang paling penting dalam hidup sahabatnya sendiri.

Dan di situlah film ini terasa sangat dewasa.
Banyak film cinta terlalu sibuk menjelaskan romansa. Tetapi SoulMate lebih tertarik membahas kesepian. Tentang bagaimana seseorang bisa merasa sangat dekat dengan orang lain sekaligus sangat jauh pada saat bersamaan.

Film China SoulMate perlahan berubah menjadi refleksi tentang hubungan yang tidak pernah benar-benar sehat, tetapi juga tidak bisa diputuskan.

Akting Zhou Dongyu dan Ma Sichun yang Luar Biasa

Kalau ada alasan utama mengapa film ini begitu kuat secara emosional, jawabannya ada pada dua pemeran utamanya.

Zhou Dongyu tampil sangat natural sebagai An Sheng. Ia membawa energi liar, rapuh, dan pemberontak dalam waktu bersamaan. Ada aura kesepian yang terasa terus muncul bahkan ketika karakternya sedang tertawa.

Sementara Ma Sichun memainkan Qi Yue dengan sangat tenang namun menyimpan tekanan batin besar. Penampilannya terlihat sederhana, tetapi justru karena itulah emosinya terasa realistis.

Yang membuat film ini spesial adalah chemistry mereka. Penonton benar-benar percaya bahwa kedua karakter ini sudah saling mengenal seumur hidup.

Bahkan dalam adegan diam sekalipun, hubungan mereka tetap terasa hidup.

Tidak heran jika kedua aktris ini sama-sama memenangkan penghargaan Aktris Terbaik di Golden Horse Awards. Jarang ada film yang membuat dua pemeran utama terasa sama kuatnya tanpa saling menutupi.

Visual yang Tidak Mewah, Tapi Sangat Intim

Secara visual, SoulMate bukan film yang penuh kemegahan sinematik. Kamera sering bergerak dekat ke wajah karakter. Banyak adegan terasa seperti dokumenter kehidupan sehari-hari.
Namun justru pendekatan itu membuat film terasa intim.

Penonton seperti ikut hidup bersama mereka. Ikut duduk di kamar kecil mereka. Ikut berjalan di jalanan kota. Ikut merasakan canggung setelah pertengkaran.

Warna-warna dalam film juga terasa lembut dan kadang muram. Tidak terlalu cerah, tetapi tidak sepenuhnya gelap. Atmosfer ini cocok dengan emosi cerita yang selalu berada di antara bahagia dan sedih.

Ada rasa nostalgia yang terus mengalir sepanjang film.

Dan ketika ending mulai mendekat, suasana itu berubah menjadi perasaan kosong yang aneh.

SoulMate Bukan Film Sedih Biasa

Banyak film sedih mencoba membuat penonton menangis lewat tragedi besar. Namun SoulMate memilih jalan berbeda. Ia membuat penonton sedih karena merasa dekat dengan karakter-karakternya.

Mungkin banyak orang pernah punya sahabat seperti itu. Seseorang yang begitu dekat sampai terasa seperti bagian dari hidup sendiri. Tetapi waktu, pilihan hidup, dan ego perlahan membuat hubungan berubah.

Film ini terasa menyakitkan karena realistis.
Tidak semua orang punya akhir yang sempurna dengan sahabat masa kecilnya. Tidak semua hubungan bisa tetap utuh meski pernah sangat dekat.

Dan kadang, orang yang paling memahami kita justru juga menjadi orang yang paling mampu melukai kita.

Variasi kalimat seperti review film China SoulMate paling menyentuh tentang persahabatan perempuan terasa cocok karena film ini memang punya kedalaman emosi yang jarang ditemukan dalam drama romantis biasa.

Sutradara yang Paham Emosi Perempuan

Salah satu hal menarik dari SoulMate adalah bagaimana film ini memahami kompleksitas emosi perempuan tanpa terasa menghakimi.
Sutradara Derek Tsang berhasil membuat cerita terasa lembut sekaligus menghancurkan. Ia tidak memaksa penonton memilih siapa yang benar atau salah.

An Sheng punya luka sendiri.
Qi Yue juga punya tekanan hidup sendiri.
Dan seperti kehidupan nyata, tidak semua konflik punya jawaban hitam-putih.

Film ini juga berani memperlihatkan sisi egois manusia. Kadang kita mencintai seseorang, tetapi juga ingin memilikinya sendiri. Kadang kita mendukung sahabat, tetapi diam-diam iri pada hidupnya.

Perasaan-perasaan seperti itu jarang dibahas secara jujur dalam film mainstream.

Daftar Aktor dan Peran
* Zhou Dongyu sebagai An Sheng
* Ma Sichun sebagai Qi Yue
* Toby Lee sebagai Jia Ming

Informasi Produksi Film
* Judul: SoulMate
* Tahun Rilis: 2016
* Negara: China
* Sutradara: Derek Tsang
* Genre: Drama, Romance, Friendship
* Perusahaan Produksi: Jiaflix Enterprises, We Pictures

Tempat Streaming dan Menonton

Film SoulMate biasanya tersedia secara bergantian di beberapa platform streaming Asia dan layanan film internasional, tergantung wilayah distribusi. Beberapa platform yang kadang menyediakan film ini antara lain:

Pada akhirnya, SoulMate bukan hanya film tentang cinta atau persahabatan. Ia adalah cerita tentang dua manusia yang tumbuh bersama tetapi perlahan berubah menjadi orang berbeda. Mereka mencoba bertahan, mencoba mengerti, tetapi hidup ternyata tidak sesederhana kenangan masa kecil.

Film ini meninggalkan rasa pahit yang tenang. Bukan kesedihan meledak-ledak, melainkan rasa kehilangan yang pelan-pelan muncul setelah kredit film selesai.

Dan mungkin itulah alasan mengapa SoulMate terasa begitu membekas.

Karena beberapa hubungan memang tidak pernah benar-benar selesai, bahkan setelah orang-orangnya saling pergi.(gie/berbagai sumber)

Pos terkait