FILM, Jambiseru.com – Menonton The Demoniacs rasanya seperti membuka kapsul waktu ke era horor Eropa 70-an yang liar, berani, dan tidak peduli dengan batasan moral mainstream.
Disutradarai oleh Jean Rollin, film ini bukan horor konvensional yang hanya mengandalkan jumpscare. Ia lebih terasa seperti mimpi buruk surealis yang dipenuhi simbolisme seksual, balas dendam supranatural, dan atmosfer pantai berkabut yang aneh sekaligus memikat.
Sinopsis Tanpa Spoiler Berat
Cerita berfokus pada dua perempuan muda yang menjadi korban kekerasan brutal sekelompok penyelundup di pesisir pantai terpencil. Setelah ditinggalkan dalam kondisi hampir mati, mereka secara misterius bangkit kembali melalui campur tangan entitas iblis yang memberi mereka kekuatan untuk membalas dendam.
Namun, seperti kebanyakan kisah perjanjian dengan iblis, harga yang harus dibayar jauh lebih besar daripada sekadar darah balasan.
Atmosfer: Suram, Erotik, dan Tidak Nyaman
Hal pertama yang terasa saat menonton film ini adalah atmosfernya yang sangat khas. Pantai kosong dengan kapal karam, reruntuhan benteng tua, langit kelabu, dan kabut laut menciptakan suasana yang hampir seperti lukisan gotik hidup.
Jean Rollin memang dikenal gemar memadukan horor dengan erotisme dan estetika mimpi. Di The Demoniacs, itu terasa sangat dominan. Adegan-adegan kekerasan dan sensualitas ditampilkan dengan cara yang membuat penonton merasa tidak nyaman — bukan karena eksplisit berlebihan, tetapi karena cara penggambarannya terasa dingin dan simbolik.
Film ini lebih seperti ritual visual daripada sekadar cerita linear.
Tema: Balas Dendam & Konsekuensi
Di permukaan, The Demoniacs adalah kisah balas dendam. Dua korban yang mendapatkan kekuatan untuk menghukum pelaku kejahatan mereka.
Namun jika diperhatikan lebih dalam, film ini justru mempertanyakan makna balas dendam itu sendiri. Apakah membalas luka akan menyembuhkan trauma? Ataukah justru memperpanjang siklus penderitaan?
Perjanjian dengan entitas iblis dalam film ini terasa seperti metafora tentang kehilangan kemurnian dan harga diri akibat kekerasan yang dialami. Kekuatan yang mereka dapatkan bukan anugerah, melainkan kutukan yang memperdalam kehancuran.
Gaya Penyutradaraan Jean Rollin
Sebagai sutradara, Jean Rollin punya gaya yang sangat khas: lambat, atmosferik, dan cenderung surealis. Narasinya tidak selalu runtut secara logis. Kadang terasa seperti mimpi yang berpindah adegan tanpa penjelasan eksplisit.
Bagi penonton modern yang terbiasa dengan struktur tiga babak yang jelas, film ini mungkin terasa aneh atau bahkan membingungkan. Tapi justru di situlah daya tariknya sebagai film cult klasik.
Rollin lebih tertarik membangun suasana dan simbolisme daripada menyajikan plot yang rapi.
Sinematografi & Visual
Warna yang digunakan cenderung kontras antara gelap dan pucat. Putih kulit para karakter perempuan menjadi simbol kerapuhan sekaligus kematian. Benteng tua dan kapal karam menjadi latar metaforis tentang dunia yang sudah rusak secara moral.
Beberapa adegan terasa seperti foto artistik yang bergerak pelan. Tidak terburu-buru. Tidak mencoba menyenangkan penonton. Hanya menyajikan dunia yang muram dan sinis.
Analisis Ending (Spoiler Section)
Spoiler.
Bagian akhir film memperlihatkan bahwa balas dendam yang mereka lakukan tidak membawa kedamaian. Justru kekuatan supranatural yang mereka gunakan memperkuat kesan bahwa mereka telah terjebak dalam perjanjian gelap yang tak bisa dibatalkan.
Alih-alih kemenangan heroik, yang tersisa adalah kehampaan dan kehancuran moral. Ending ini terasa pesimis — seolah ingin mengatakan bahwa kejahatan tidak pernah benar-benar bisa ditebus hanya dengan kekerasan balasan.
Ini bukan film tentang kemenangan. Ini film tentang konsekuensi.
Kelebihan
Atmosfer gotik yang sangat kuat dan ikonik
Visual pantai dan benteng yang artistik
Tema balas dendam dengan lapisan simbolisme
Status cult klasik yang berpengaruh di horor Eropa
Kekurangan
Tempo lambat dan tidak ramah penonton mainstream
Unsur erotisme dan kekerasan bisa terasa eksploitatif
Narasi tidak selalu jelas dan cenderung fragmentaris
Kesimpulan & Rating
The Demoniacs bukan film horor untuk semua orang. Ini adalah karya era 70-an yang berani, gelap, dan sangat khas gaya Eropa arthouse exploitation.
Jika kamu mencari horor cepat dengan efek modern, ini bukan pilihan tepat. Tapi jika kamu tertarik pada film cult klasik dengan atmosfer berat, simbolisme kuat, dan keberanian visual yang unik, film ini punya daya tarik tersendiri.
Sebagai pengalaman sinematik yang ganjil dan penuh aura mistis, film ini meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Rating pribadi: 7/10
Cocok untuk penonton yang menyukai horor klasik Eropa, estetika gothic, dan eksplorasi tema balas dendam dalam balutan simbolisme surealis. (gie)












