Opini Musri Nauli: Ancaman “Horor” dan “Teror” musim Kemarau 2026

Opini Musri Nauli: Ancaman “Horor” dan “Teror” musim Kemarau 2026
Opini Musri Nauli: Ancaman “Horor” dan “Teror” musim Kemarau 2026. Foto: Jambiseru.com

Oleh: Musri Nauli

Hujan yang Dinanti. Akhirnya Jambi Lepas dari “Teror” Panas Bedengkang. Setelah berhari-hari (bahkan berminggu-minggu) diterpa cuaca panas terik yang oleh warga lokal sering disebut dengan istilah “panas bedengkang”, langit Jambi akhirnya mencair. Guyuran hujan yang turun seolah menjadi angin segar dan pelepas penat bagi masyarakat yang merasa tersiksa oleh suhu tinggi dan udara gerah ekstrem.

Istilah “panas bedengkang” sendiri bukan sekadar kiasan biasa di kalangan masyarakat Jambi. Frasa ini menggambarkan kondisi cuaca panas yang begitu menyengat, menyilaukan dan seolah membakar kulit. Suhu yang tinggi membuat aktivitas di luar ruangan terasa melelahkan, tanah menjadi kering, debu beterbangan, dan kebutuhan akan air meningkat drastis. Tak heran jika cuaca ekstrem ini sering diibaratkan sebagai bentuk “teror” atau “horor” harian yang menguji kesabaran warga.

Kehadiran hujan ini membawa berbagai kelegaan dan manfaat nyata bagi lingkungan maupun warga.

Udara Jambi yang tadinya terasa seperti di dalam oven perlahan menjadi sejuk, memberikan kenyamanan beristirahat bagi warga setelah lelah beraktivitas.

Musim panas yang ekstrem sangat rentan memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Jambi. Hujan turun sebagai penyelamat alami untuk melembapkan kembali lahan gambut dan semak belukar.

Meskipun hujan membawa berkah dan mengakhiri teror panas bedengkang, warga Jambi tetap perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem susulan, seperti Genangan air atau banjir rob/lokal di beberapa titik drainase kota yang kurang lancar. Angin kencang atau petir yang biasa menyertai hujan lebat pertama setelah periode panas panjang.

Secara keseluruhan, turunnya hujan ini disambut penuh rasa syukur oleh masyarakat Jambi setelah berhari-hari berdamai dengan teriknya matahari yang membara.

Musim kemarau di Provinsi Jambi tidak sekadar pergantian iklim tahunan, melainkan sebuah siklus yang kerap menghadirkan kecemasan kolektif. Karakteristik geografis Jambi yang didominasi oleh ekosistem lahan gambut, terutama di wilayah pesisir seperti Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, serta beberapa wilayah konsesi dan perkebunan, menjadikan musim kemarau sebagai ancaman ekologis yang nyata.

Ketika curah hujan drastis menurun, muka air tanah gambut (groundwater level) turun secara signifikan. Kondisi ini mengubah gambut yang semula basah menjadi material kering yang sangat mudah terbakar (pyrophilic). Asap tebal (haze) yang mengepung wilayah perkotaan, lumpuhnya aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha, terganggunya kegiatan pendidikan, hingga ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat—khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)—menjadi bentuk “teror” yang berulang kali dirasakan oleh warga Jambi setiap kali kemarau panjang tiba.

Tahun 2013 mencatatkan sejarah kelam ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Sumatera, termasuk Jambi, dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun ke belakang. Titik api (hotspot) mendadak melonjak tajam akibat pembukaan lahan yang tidak terkendali serta kombinasi anomali cuaca. Asap pekat menyelimuti Kota Jambi selama berbulan-bulan, membatasi jarak pandang, dan memicu protes luas dari masyarakat akibat lambatnya respons mitigasi saat itu.

Jika tahun 2013 adalah peringatan keras, maka tahun 2015 merupakan puncak bencana ekologis dan kemanusiaan akibat karhutla. Didorong oleh fenomena El Nino yang kuat, musim kemarau pada tahun tersebut berlangsung sangat panjang.

Tahun 2015 menyajikan data-data mengerikan. Total area terbakar: 2,6 juta hektar (sumber: Kemenkominfo) atau 2 juta hektar (sumber: Bank Dunia). Luas area terbakar di Sumatera: 832.999 hektar (terdiri dari 267.974 ha lahan gambut dan 565.025 ha non-gambut). Luas area terbakar di Kalimantan: 806.817 hektar (319.386 ha gambut dan 487.431 ha non-gambut). Dan di Jambi Luas lahan terbakar di Jambi 115.634,34 hektare (menurut KLHK).

Kabut asap beracun (toxic haze) mengepung Provinsi Jambi, memaksa ribuan warga mengungsi, dan melumpuhkan perekonomian regional.

Dinas Kesehatan mencatat puluhan ribu warga terserang ISPA berat. Bencana 2015 menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah bahwa tata kelola gambut konvensional telah gagal total dan membutuhkan restorasi radikal.

Pola Berulang – Kebakaran 2019.

Didorong kembali oleh fase El Nino moderat, musim kemarau 2019 memicu gelombang kebakaran masif yang mengingatkan publik pada tragedi 2015.

Kasus 2019 membuktikan bahwa ancaman karhutla bersifat siklikal dan akan selalu kembali apabila kunci utama pencegahan—yakni menjaga tingkat kebasahan gambut—tidak diintervensi secara permanen.

Berbeda dengan tahun 2013-2015, tahun 2019 kebakaran relative merata, namun kebakaran 2019 praktis terjadi di Londerang, Geragai dan Sekitar Kumpeh. Atau dapat dikatakan di areal pemegang izin konsensi.

Belajar dari sejarah kelam tahun 2013, 2015, dan 2019, pendekatan penanggulangan karhutla bergeser secara fundamental dari pemadaman (suppression) menjadi pencegahan dini (prevention) melalui pengelolaan hidrologi gambut.

Sejak 2018, praktis 821 Unit Sekat Kanal Dinas Kehutanan Provinsi Jambi (Lap. 2023) telah terpasang. Pembangunan infrastruktur pembasahan gambut ini bertujuan untuk Menahan laju air agar tidak mengalir keluar dari ekosistem gambut saat musim kemarau tiba, Mempertahankan tinggi muka air tanah di dalam kubah gambut tetap berada pada batas aman (maksimal 40 cm di bawah permukaan tanah), Menjaga tingkat kejenuhan air (moisture content) pada lapisan gambut bagian atas agar tetap basah meskipun cuaca di atas permukaan sangat panas.

Sehingga tidak salah kemudian disaat ancaman El Nina 2023, disaat bersamaan berbagai Provinsi lain mengalam kebakaran (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya fenomena El Nino kuat pada tahun 2023, yang dikhawatirkan bakal mengulang tragedi kemarau kering seperti tahun 2015 dan 2019), Jambi berhasil melewati periode yang sulit.

Berkat ketersediaan dan fungsi optimal dari 821 unit sekat kanal yang dibangun oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jambi bersama para pihak terkait, skenario terburuk tersebut berhasil dicegah.

Kebakaran sama sekali tidak terjadi di Ekosistem gambut di wilayah-wilayah prioritas. Secara praktis sepanjang tahun 2023 Jambi berhasil melewati masa kritis ancaman El Nino tanpa reproduksi kebakaran masif di areal gambut yang selama ini memiliki pola berulang.

Keberhasilan ini membuktikan intervensi teknis berbasis pemulihan hidrologi gambut adalah kunci mutlak untuk memutus rantai “teror” musim kemarau di Provinsi Jambi.

Angka-angka ini kemudian menunjukkan tahun 2024, data berbagai sumber menunjukkan kebakaran terjadi berada di dalam kawasan konsesi perusahaan perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) (mencapai lebih dari 3.900 hektare). Wilayah Terdampak Utama: Kabupaten Muaro Jambi (khususnya wilayah Kumpeh/gambut), Tanjung Jabung Timur, dan Tanjung Jabung Barat.

Memasuki tahun 2025, Luas Wilayah Terbakar seluas 448,73 hektare (laporan resmi Tim Siaga Darurat Karhutla Provinsi Jambi per 29 Agustus 2025). Angka ini menunjukkan keberhasilan mitigasi dan penurunan drastis dibanding tahun sebelumnya.

Total Hotspot (Januari – September 2025): Tercatat sebanyak 362 hotspot terpantau satelit (Aqua, Terra, Suomi NPP).

Tanpa harus menghilangkan kewaspadaan menghadapi tahun “horror dan terror” tahun 2026, hingga Agustus, estimasi 338 hingga di atas 500 hektare. Walaupun kebakaran masih terjadi di lahan gambut Kabupaten Muaro Jambi (seperti kawasan Sungai Gelam).

Namun setelah masa sulit “el Nina 2023” berhasil dilewati, Jambi telah membuktikan “daya Tangguh” menghadapi ancaman horror dan terror yang setiap mengintai Provinsi yang mempunyai gambut.

Dan akhirnya Minggu Sore dan minggu malam, hujan kembali mengguyur Jambi. Sehingga setidak-tidaknya untuk sementara bisa menarik nafas lega dari ancaman horror dan terror yang mengancam ketika setiap musim kemarau di Jambi. (*)

* Musri Nauli, advokat tinggal di Jambi

Pos terkait