Derita Rakyat Penyengat Olak (2): Getaran, Rumah Rusak, Anak Sakit, Warga Menuntut Stockpile Ditutup

derita rakyat penyengat olak
Syaiful Ansori, Warga RT 03 Desa Penyengat Olak. Foto : Istimewa/Jambiseru.com

Jambiseru.com, Penyengat Olak – Kehidupan tenang warga di RT 03, Penyengat Olak, kini berubah menjadi mimpi buruk. Selama bertahun-tahun, mereka harus berjuang melawan dampak negatif dari operasional sebuah stockpile pasir CV Lintas Makmur Sejahtera yang menggunakan alat berat di sekitar permukiman mereka. Keluhan demi keluhan terus menumpuk, mulai dari kerusakan rumah hingga masalah kesehatan yang mengintai anak-anak.

Bapak Syaiful Ansori, seorang warga yang telah tinggal di wilayah tersebut selama 17 tahun, menjadi saksi bagaimana lingkungannya perlahan rusak. Ia menuturkan bahwa getaran kuat yang ditimbulkan oleh alat berat tersebut telah menyebabkan kerusakan struktural pada rumah-rumah warga.

“Genteng-genteng pada turun, dan atap jadi bocor terutama saat hujan. Ini jelas akibat getaran dari proyek itu,” ungkap Syaiful dengan nada penuh kekesalan.

Bukan hanya kerusakan fisik pada bangunan, dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah ancaman bagi kesehatan warga. Syaiful menyoroti bahwa anak-anak di lingkungannya sering mengalami gangguan kesehatan, seperti pilek yang tak kunjung sembuh. Ia menduga hal ini berkaitan erat dengan polusi debu dan getaran yang terus-menerus dihasilkan oleh aktivitas stockpile yang menggunakan 3 alat berat.

“Anak-anak jadi sering sakit pilek. Kami sangat khawatir dengan kondisi mereka,” tambahnya.

Selain kerusakan rumah dan masalah kesehatan, kenyamanan hidup warga juga telah direnggut. Kebisingan dan getaran yang tiada henti dari operasional alat berat membuat warga tidak bisa beristirahat dengan tenang. Suara bising dan guncangan yang terus-menerus menjadi “musik” sehari-hari yang menyiksa telinga dan fisik mereka.

Merasa sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang berkepanjangan, Bapak Syaiful dan warga lainnya menyuarakan tuntutan tegas kepada pemerintah. Mereka mendesak agar operasional stickpile tersebut segera ditutup atau dihentikan total.

“Kami minta pemerintah tegas. Stockpile ini sudah sangat merugikan kami. Hentikan operasionalnya demi kehidupan warga di sini,” tegas Syaiful.

Kesimpulan

Derita yang dialami warga Penyengat Olak adalah gambaran nyata dari konflik antara pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kerusakan struktural pada rumah, gangguan kesehatan pada anak-anak, serta hilangnya hak atas kenyamanan tempat tinggal menjadi bukti bahwa keberadaan stockpile tersebut telah membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Tuntutan warga untuk menghentikan operasional proyek bukanlah tanpa alasan. Ini adalah seruan putus asa dari masyarakat yang ingin hidup tenang dan terbebas dari penderitaan. Kini, bola berada di tangan pemerintah. Akankah mereka mendengar jeritan rakyat kecil ini, ataukah aktivitas stockpile akan terus berjalan di atas penderitaan warga? Warga Penyengat Olak menunggu jawabannya. (red)

Pos terkait