PDIP Berduka, Bendera Partai Dikibarkan Setengah Tiang untuk Mengenang Guruh Soekarnoputra

pdip berduka, bendera partai dikibarkan setengah tiang untuk mengenang guruh soekarnoputra
PDIP Berduka, Bendera Partai Dikibarkan Setengah Tiang untuk Mengenang Guruh Soekarnoputra. Foto: antaranews

Jambiseru.com – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan ​​​​​​ Rano Karno mengatakan bendera PDI Perjuangan akan dikibarkan setengah tiang selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan kepada Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra yang meninggal dunia diusia 73 tahun pada Sabtu (26/9) dini hari.

Pernyataan itu ia sampaikan saat membacakan pidato pelepasan sekaligus mewakili keluarga besar Proklamator RI Soekarno di TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu.

“Maka hari ini penghormatan kepada Mas Guruh diberikan melalui protokol partai. Seluruh jajaran PDI Perjuangan dari DPP hingga anak ranting juga diminta mengibarkan bendera partai setengah tiang selama 7 hari sebagai bentuk penghormatan dan duka,” ujar Rano Karno.

Rano Karno menyampaikan bahwa masa berkabung ini harus menjadi momentum bersama untuk terus menjaga api semangat dan kepedulian mendiang Guruh terhadap rakyat kecil.

“Biarlah bendera itu turun setengah tiang sebagai tanda duka, namun cita-citanya, tekadnya, kecintaannya kepada rakyat harus tetap hidup dan kecintaan kepada Indonesia harus terus menyala,” lanjutnya.

Prosesi pemakaman almarhum Guruh Soekarnoputra di TPU Karet Bivak berlangsung mulai pukul 13.35 WIB.

Dalam biodata Guruh Soekarnoputra yang dibacakan oleh politikus PDI Perjuangan Yuke Yurike di hadapan keluarga besar, kerabat, serta tokoh nasional yang hadir di TPU Karet Bivak, Jakarta, disebutkan bahwa Guruh telah menorehkan prestasi dengan memenangkan hadiah utama Festival Lagu Populer Tingkat Nasional tahun 1975 lewat komposisi lagu berjudul “Renjana”.

Memasuki tahun 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika yang berfokus pada seni pertunjukan kolosal. Setahun setelahnya, Guruh meraih penghargaan ilustrasi musik film terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 1978 di Ujung Pandang. Sepanjang dekade 1980-an, Guruh bergerak aktif sebagai koreografer, komposer, pengarah seni, hingga sutradara film untuk berbagai pementasan kolosal Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra.

Selain di belakang layar, Guruh pernah unjuk peran sebagai Sunan Muria dalam film kolosal “Wali Songo”. Dedikasinya ini membuat Guruh terpilih sebagai salah satu pemuda berkarya dunia dalam penghargaan The Outstanding Young Person of the World oleh Indonesia Jaycees.

Melalui pementasan besar seperti “Gilang Indonesia Gemilang” pada tahun 1986, Guruh aktif berkeliling dunia demi mempromosikan kebudayaan dan seni Indonesia.

Pada tahun 1987, Guruh menggelar pementasan kolosal “Gempita Swara Maharddhika” dalam rangka memperingati satu dekade organisasi tersebut sekaligus bertindak sebagai koreografer untuk proyek film kerja sama Indonesia-Amerika Serikat.

Ia mendirikan Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production pada tahun 1988, yang sukses membawa rombongan seniman tampil hingga ke negara Denmark dan Swedia, termasuk mementaskan pertunjukan seni di Kota Ksatria.

Di luar panggung pertunjukan, Guruh pernah duduk sebagai salah satu pendiri sekaligus anggota Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) yang memperjuangkan hak cipta para musisi tanah air.

Kontribusi besarnya diakui dunia melalui gelar kehormatan Chevalier de L’Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis, serta trofi penghargaan musik kebudayaan dari Pemerintah Korea Utara dan Korea Selatan. (ris)

Sumber: antaranews

Pos terkait