Aksi di Depan Stockpile Pasir CV LMS, Eri: Kita Tunggu Bupati Muaro Jambi BBS Datang!

7743f6bc 305b 4cd6 bc33 26b6fcd46bb0
7743f6bc 305b 4cd6 bc33 26b6fcd46bb0

Jambiseru.com – Kesabaran warga Desa Penyengat Olak, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, tampaknya semakin menipis. Merasa keresahan mereka belum mendapatkan penyelesaian yang diharapkan, warga kembali menggelar aksi damai di jalan nasional depan stockpile pasir milik CV Lintas Makmur Sejahtera (LMS), Senin (26/10/2026) pagi.

Kali ini, warga yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Desa Penyengat Olak tidak hanya datang menyampaikan protes.

Mereka juga mendirikan tenda tepat di depan lokasi stockpile di RT 03 sebagai bentuk keseriusan dalam memperjuangkan tuntutan mereka.

Aksi tersebut turut melibatkan Yayasan Keadilan Rakyat (YKR). Pesan yang disampaikan jelas, warga mendesak pemerintah dan instansi berwenang segera turun tangan, mengevaluasi aktivitas perusahaan, serta menindaklanjuti dampak yang selama ini mereka keluhkan.

Bagi warga, persoalan ini bukan lagi sekadar perbedaan pandangan antara masyarakat dan pelaku usaha. Mereka mengaku harus menghadapi gangguan yang dinilai memengaruhi kenyamanan hidup di lingkungan tempat tinggal sendiri.

Dalam aksi tersebut, warga menyuarakan tiga tuntutan utama melalui poster bernuansa hitam-merah yang menjadi simbol protes mereka.

Pertama, mendesak penyegelan lokasi stockpile pasir CV LMS. Kedua, meminta pencabutan persetujuan lingkungan yang dimiliki perusahaan. Ketiga, menuntut penutupan pelabuhan atau stockpile pasir tersebut.

Tuntutan itu menunjukkan bahwa warga menginginkan langkah konkret, bukan sekadar penanganan yang berhenti pada dialog tanpa kejelasan tindak lanjut.

Dikatakan Eri, aksi ini akan tetap berlangsung sampai Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno (BBS) datang melihat langsung ke sini.

“Kami tunggu bupati di sini,” kata Kapten Eri, Ketua Warga Kelompok Masyarakat Desa Penyengat Olak.

Eri menyebut, Pemkab Muaro Jambi baru malam tadi mengirmkan undangan rapat terkait stockpile tersebut. Namun, warga tetap melakukan aksi dari pada menghadiri rapat itu.

“Ada undangan masuk malam tadi. Warga tetap aksi, karena gendang sudah ditabuh, tetap aksi menunggu bupati hadir,” jelasnya.

Kapten Eri, menegaskan, aksi ini murni merupakan bentuk keputusasaan warga akibat dampak lingkungan dan sosial yang dirasakan selama ini.

“Menurut Kapten Eri, keresahan masyarakat Penyengat Olak sudah tidak tertahankan lagi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan stockpile pasir tersebut telah sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan hidup warga sekitar, terutama terkait dengan debu, akses jalan yang rusak, serta potensi kerusakan lingkungan.

“Kami sudah mencoba bersabar, tetapi dampaknya semakin hari semakin parah. Ini bukan sekadar penolakan, tapi upaya warga untuk menyelamatkan lingkungan tempat tinggal kami. Kami berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mendengar aspirasi ini sebelum situasi semakin memanas,” tambahnya.(red)

Pos terkait