Jambiseru.com, Muaro Jambi – Aktivitas operasional CV Lintas Makmur Sejahtera di Desa Penyengat Olak, Muaro Jambi, terus berlangsung tanpa henti. Perusahaan tampak sama sekali mengabaikan seruan dan tuntutan masyarakat yang telah lama menyuarakan dampak lingkungan akibat aktivitas industri tersebut.
Aktivitas pengangkutan dan penumpukan pasir di lokasi stockpile masih berjalan seperti biasa, seolah menutup mata terhadap keresahan warga yang telah berlangsung sejak pembangunan awal fasilitas pada periode 2023 hingga 2024.
Tak hanya beroperasi secara normal, aktivitas perusahaan justru terkesan semakin masif di tengah gelombang protes yang kian membesar.
Warga menilai sikap tersebut sebagai bentuk arogansi dan tidak adanya itikad baik untuk merespons tuntutan yang telah disampaikan sejak pertengahan September 2026, termasuk soal dampak lingkungan dan operasional yang dinilai merugikan.
Debu, kebisingan, kerusakan jalan, serta perubahan tata air menjadi sejumlah persoalan yang setiap hari dirasakan warga di sekitar lokasi. Namun, keluhan-keluhan itu seolah tidak pernah mendapat perhatian serius dari pihak perusahaan.
Berbagai upaya telah ditempuh warga untuk mencari penyelesaian. Mulai dari musyawarah desa, penyegelan lokasi, pelayangan surat terbuka, mediasi birokrasi yang berujung deadlock, hingga pertemuan langsung dengan Bupati Muaro Jambi.
Warga bahkan telah melakukan kunjungan kerja ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi untuk meminta pengawasan dan penindakan lebih lanjut. Puncaknya, pada 19 Oktober 2026, warga menyerahkan dokumen “Pakta Integritas” ke Kantor DLH Muaro Jambi sebagai bentuk desakan agar pihak berwenang dan perusahaan benar-benar berkomitmen menyelesaikan masalah lingkungan yang telah meresahkan mereka.
Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai hasil akhir dari penyerahan Pakta Integritas tersebut. Tidak ada tindakan tegas yang terlihat, sementara perusahaan terus beroperasi seolah tidak terjadi apa-apa.
Kondisi inilah yang membuat aktivitas penolakan warga masih berlangsung hingga hari ini, Minggu (25/10/2026). Tekad masyarakat untuk menuntut penyelesaian konflik lingkungan yang telah lama meresahkan mereka semakin kuat.
Kekecewaan terhadap lambannya respons pihak berwenang justru menjadi bahan bakar baru bagi perjuangan warga.
Warga bersama Yayasan Keadilan Rakyat (YKR) terus melakukan persiapan dan konsolidasi menjelang aksi damai yang dijadwalkan pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 06.00 WIB di Jalan Lintas Timur RT 03 Desa Penyengat Olak.
Aksi ini berupa penyegelan lokasi stockpile pasir CV Lintas Makmur Sejahtera. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari koordinasi antarwarga, penyusunan massa, hingga penguatan tuntutan agar aksi berjalan damai namun tetap tegas.
Dalam aksi tersebut, warga mendesak pencabutan izin persetujuan lingkungan serta penutupan pelabuhan atau stockpile pasir perusahaan. Mereka menegaskan bahwa dampak yang sudah ditanggung tidak bisa lagi diabaikan.
Ketiadaan titik terang dari pihak berwenang maupun perusahaan menjadi alasan utama mengapa tekad masyarakat semakin kuat untuk melanjutkan perjuangan mereka hari ini.
Warga berharap aksi damai ini menjadi titik balik agar pihak berwenang segera mengambil langkah tegas sesuai peraturan yang berlaku, demi mengembalikan kelestarian lingkungan dan ketenteraman warga Desa Penyengat Olak.(red)











