Dari Rp144 Miliar yang Hilang Hingga Bank Daerah Anti-Fraud, Saatnya Bank 9 Jambi Jadi Contoh Nasional

gedung mahligai bank jambi
Gedung Mahligai Bank Jambi. Foto: Dokumen/jambiserucom

Oleh: Martayadi Tajuddin*

_Pengamat Kebijakan Publik dan Digital_

 

Sebuah krisis sebesar Rp144,82 miliar bisa melumpuhkan. Tapi bisa juga melahirkan. Dan jika kita melihat gerak cepat yang dilakukan Bank 9 Jambi dalam dua bulan terakhir, maka kita punya alasan kuat untuk optimis: krisis ini sedang melahirkan bank daerah yang paling siap menghadapi perang siber di masa depan.

Penangkapan 3 tersangka oleh Polda Jambi adalah langkah awal yang penting. Tapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah itu di dalam tubuh Bank 9 Jambi. Informasi yang kami terima, manajemen tidak memilih diam atau defensif. Mereka memilih membongkar. Audit forensik menyeluruh sudah berjalan. Sistem inti perbankan sedang di-upgrade dengan lapisan keamanan berlapis. Pelatihan anti-fraud untuk seluruh pegawai juga sudah dimulai. Ini bukan langkah biasa. Ini adalah deklarasi bahwa Bank 9 Jambi tidak mau jadi korban kedua kali.

Pertanyaannya sekarang, mau sampai di mana? Apakah cukup sampai “kembali normal”? Atau berani melangkah lebih jauh: menjadi standar baru bagi seluruh BPD di Indonesia.

Saya berpendapat, Bank 9 Jambi harus mengambil jalan kedua. Jadikan peristiwa 22 Februari 2026 ini sebagai titik nol. Titik nol untuk membangun “Bank Daerah Anti-Fraud Pertama di Indonesia”. Kedengarannya ambisius? Memang. Tapi justru di saat seperti inilah keberanian dibutuhkan.

Bayangkan jika Bank 9 Jambi adalah bank pertama yang secara sukarela mempublikasikan laporan insiden siber dan langkah mitigasinya. Bayangkan jika Bank 9 Jambi menggandeng BSSN, OJK, dan kampus-kampus di Jambi untuk membangun pusat riset keamanan siber perbankan daerah. Bayangkan jika setiap transaksi mencurigakan bisa dideteksi oleh sistem AI dalam hitungan detik, bukan hitungan hari. Semua ini tidak mustahil. Infrastruktur dasarnya sudah mulai dibangun. Komitmennya sudah terlihat. Yang dibutuhkan sekarang adalah dorongan dan dukungan penuh dari pemegang saham, yaitu Pemerintah Provinsi Jambi.

Kita tidak bisa menutup mata. Serangan siber bukan lagi ancaman. Ia sudah jadi kenyataan. Bank besar di Jakarta, Singapura, bahkan di Eropa pernah dijebol. Tidak ada sistem yang 100% aman. Tapi ada bank yang siap, dan ada bank yang lengah. Bank yang siap adalah bank yang transparan kepada nasabahnya, yang berani mengakui celah dan menutupnya di depan publik, yang menjadikan nasabah sebagai mitra, bukan hanya sebagai pemilik rekening.

Dan tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat dari Bank 9 Jambi. Keterbukaan informasi kepada media, koordinasi intens dengan aparat, dan jaminan bahwa dana nasabah tetap aman dan dijamin LPS adalah langkah awal yang benar. Sekarang saatnya naik level.

Jika ini berhasil, maka 10 tahun dari sekarang orang tidak akan ingat Bank 9 Jambi sebagai “bank yang pernah dibobol Rp144 miliar”. Orang akan ingat Bank 9 Jambi sebagai “bank daerah pertama yang berani berubah total setelah krisis, dan menjadi contoh bagi 26 BPD lainnya di Indonesia”.

Rp144,82 miliar adalah harga yang sangat mahal. Tapi jika harga itu bisa membeli kepercayaan nasional, membeli reputasi sebagai bank paling aman, dan membeli masa depan perbankan Jambi yang lebih kuat, maka itu adalah transaksi terbaik dalam sejarah Bank 9 Jambi.

Tantangannya ada di depan mata. Peluangnya juga. Dan dari apa yang sudah mulai dilakukan hari ini, saya percaya Bank 9 Jambi sedang memilih peluang itu. Tinggal kita kawal bersama agar langkah itu tidak berhenti di tengah jalan (*)

Pos terkait