Oleh: Martayadi Tajuddin*
(Pengamat Kebijakan Publik dan Digital)
Ada satu lembaga keuangan di Jambi yang detaknya selalu selaras dengan detak ekonomi daerah. Saat panen sawit bagus, ia yang menyalurkan kredit ke petani. Saat ada proyek infrastruktur, ia yang menyiapkan pembiayaan. Saat UMKM butuh modal di pasar, ia yang hadir paling awal. Lembaga itu adalah Bank 9 Jambi.
Karena itu wajar jika kita menyebut Bank 9 Jambi sebagai urat nadi ekonomi daerah. Ia bukan sekadar tempat menyimpan uang. Ia adalah mesin penggerak. Ia adalah mitra pembangunan. Ia adalah bukti nyata bahwa Jambi punya kemampuan mengelola uangnya sendiri, untuk kepentingan orang Jambi sendiri.
Peran strategis Bank 9 Jambi bisa dilihat dari 3 napas utamanya.
*Pertama, napas pembangunan.* Sebagai Bank Pembangunan Daerah, setiap keuntungan Bank 9 Jambi kembali ke kas daerah dalam bentuk dividen dan pajak. Uang itu kemudian berputar lagi menjadi jalan, sekolah, puskesmas, dan program bantuan sosial. Artinya, setiap kali kita menabung atau bertransaksi di Bank 9 Jambi, kita ikut membiayai pembangunan Jambi. Tidak ada uang yang lari ke pusat. Semua kembali ke Jambi. Ini bentuk kemandirian ekonomi yang paling nyata.
*Kedua, napas UMKM.* Lebih dari 70% nasabah Bank 9 Jambi adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Dari warung di Pasar Angso Duo, kedai kopi di Kerinci, sampai pengrajin batik di Batanghari. Bank 9 Jambi memahami karakter mereka. Bunganya bersaing, prosesnya tidak berbelit, dan petugasnya mau turun ke lapangan. Di saat bank besar ragu memberi kredit tanpa agunan besar, Bank 9 Jambi hadir dengan skema KUR dan kredit produktif yang membuat roda usaha tetap berputar. Tanpa Bank 9 Jambi, banyak mimpi usaha di Jambi akan mati sebelum berkembang.
*Ketiga, napas inklusi keuangan.* Bank besar mungkin hanya buka di kota. Tapi Bank 9 Jambi ada sampai ke kecamatan. Ia yang memastikan dana desa tersalurkan, gaji ASN dan honorer cair tepat waktu, dan layanan perbankan bisa diakses warga di pelosok. Digitalisasi yang sedang digencarkan Bank 9 Jambi hari ini, seperti mobile banking dan QRIS, justru memperluas jangkauan ini. Anak muda di desa kini bisa jualan online dan menerima pembayaran digital karena ada Bank 9 Jambi di belakangnya.
Dan kabar baiknya, mesin ini tidak berhenti. Di tengah tantangan ekonomi nasional, Bank 9 Jambi justru menambah akselerasi. Penyaluran kredit ke sektor prioritas seperti pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif terus ditingkatkan. Kolaborasi dengan Pemprov Jambi untuk program pembiayaan daerah juga semakin erat. Ini menunjukkan satu hal: Bank 9 Jambi sadar betul bahwa ia memikul tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar mencari laba.
Tentu, menjadi urat nadi berarti harus paling kuat dan paling sehat. Karena itu penguatan tata kelola, digitalisasi keamanan, dan peningkatan SDM harus terus dilakukan. Tapi penguatan itu tidak boleh membuat Bank 9 Jambi menjadi takut bergerak. Justru sebaliknya, ia harus semakin berani menjadi motor.
Bayangkan Jambi 5 tahun ke depan. Jika Bank 9 Jambi diperkuat permodalannya, didukung penuh oleh Pemprov, dan dipercaya penuh oleh masyarakat, maka ia bisa menjadi BPD nomor 1 di Sumatera. Ia bisa membiayai proyek-proyek strategis daerah tanpa harus banyak bergantung ke bank luar. Ia bisa menjadi kebanggaan Jambi.
Karena pada akhirnya, membangun daerah tidak bisa hanya mengandalkan APBN. Daerah harus punya kekuatan finansialnya sendiri. Dan kekuatan itu bernama Bank 9 Jambi.
Maka tugas kita sederhana: dukung, awasi, dan gunakan. Dukung dengan kebijakan. Awasi dengan transparansi. Dan gunakan dengan menabung, bertransaksi, dan mengambil pembiayaan di Bank 9 Jambi.
Karena selama urat nadi ini terus berdetak, maka ekonomi Jambi akan terus hidup, tumbuh, dan maju. (*)








