Oleh : Al Haris *
Ada masa-masa dalam hidup yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Waktu boleh terus berjalan, usia boleh bertambah, tanggung jawab semakin banyak, tetapi kenangan tentang masa kecil selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hati.
Salah satu kenangan yang sering kembali hadir dalam ingatan saya adalah masa ketika pertama kali mengenal sekolah. Sekolah Dasar di kampung halaman tercinta menjadi tempat pertama saya menimba ilmu. Di sanalah saya mulai mengenal huruf, angka, membaca, menulis, mengenal guru, berteman dengan anak-anak sebaya, dan perlahan memahami bahwa dunia ternyata begitu luas.
Kalau hari ini saya mengingat kembali masa itu, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rindu dengan suasana kampung, rindu dengan teman-teman masa kecil, rindu dengan guru-guru yang dengan sabar mengajarkan ilmu, dan tentu saja rindu dengan suasana sekolah yang sederhana tetapi penuh makna.
Dulu, keadaan memang berbeda dengan sekarang. Ketika saya masih kecil, di kampung belum ada TK atau PAUD seperti yang banyak kita temui saat ini. Anak-anak tidak melewati tahapan pendidikan usia dini seperti sekarang. Setelah cukup umur, kami langsung masuk Sekolah Dasar.
Bagi saya, SD bukan sekadar tempat belajar. Sekolah itu menjadi pintu pertama yang membuka perjalanan panjang kehidupan saya.
Ketika Saya Meminta untuk Sekolah
Saya masih mengingat bagaimana keinginan untuk masuk sekolah itu muncul dalam diri saya. Sebagai seorang anak kecil, tentu saya belum memahami sepenuhnya apa arti pendidikan bagi masa depan. Yang saya tahu, saya ingin sekolah.
Saya ingin seperti anak-anak lainnya. Saya ingin memakai pakaian sekolah, membawa perlengkapan sekolah, duduk di dalam kelas, bertemu guru, dan belajar bersama teman-teman.
Namun, keinginan seorang anak untuk bersekolah ternyata tidak selalu mudah diwujudkan. Saat itu saya belum memiliki baju sekolah dan perlengkapan lainnya. Kondisi keluarga dan kehidupan di kampung membuat semuanya harus dijalani dengan sederhana.
Tetapi keinginan untuk belajar tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan.
Akhirnya, saya mendapatkan pinjaman baju bekas dari seseorang. Baju yang mungkin bagi orang lain sederhana dan tidak terlalu berarti, tetapi bagi saya saat itu memiliki arti yang sangat besar.
Dengan baju pinjaman itulah perjalanan pendidikan saya dimulai.
Saya masih melihat kembali kenangan itu dalam pikiran. Seorang anak kecil dengan pakaian sederhana, berangkat sekolah dengan semangat yang mungkin jauh lebih besar daripada apa yang bisa terlihat dari luar.
Saya tidak pernah merasa malu dengan keadaan tersebut.
Justru dari sanalah saya belajar satu hal penting: pendidikan tidak harus dimulai dengan segala sesuatu yang sempurna. Pendidikan bisa dimulai dari apa yang kita punya, dari keterbatasan yang kita hadapi, dan dari keberanian untuk terus melangkah.
Baju Bekas yang Mengubah Perjalanan Hidup
Kadang-kadang sesuatu yang terlihat kecil dalam kehidupan seseorang justru menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya.
Bagi saya, baju sekolah pinjaman itu adalah salah satunya.
Baju tersebut mungkin hanyalah pakaian bekas bagi orang lain. Tetapi bagi seorang anak yang ingin bersekolah, baju itu menjadi jalan untuk memasuki dunia pendidikan.
Dari sana saya mulai belajar.
Hari demi hari saya datang ke sekolah. Saya belajar membaca, menulis, berhitung, memahami pelajaran, dan mengenal banyak hal yang sebelumnya belum saya ketahui.
Semakin lama, saya semakin memahami bahwa sekolah bukan hanya tentang mendapatkan nilai. Sekolah mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, persahabatan, keberanian, dan bagaimana kita menghargai orang lain.
Guru-guru menjadi sosok penting dalam perjalanan itu. Mereka mengajarkan ilmu dengan segala keterbatasan yang ada. Fasilitas mungkin belum seperti sekarang, tetapi semangat untuk mendidik anak-anak tidak kalah besarnya.
Kalau saya melihat pendidikan hari ini, saya bersyukur sekali karena banyak hal yang sudah berubah. Anak-anak sekarang memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Ada TK, PAUD, sekolah dasar dengan fasilitas yang semakin baik, teknologi pembelajaran yang semakin maju, serta berbagai program pemerintah yang bertujuan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan belajar.
Namun, kemajuan fasilitas jangan sampai membuat kita lupa bahwa semangat belajar tetap menjadi bagian paling penting dari pendidikan.
Pendidikan Mengubah Cara Kita Melihat Dunia
Perjalanan hidup saya mengajarkan bahwa pendidikan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Pendidikan membuka pintu.
Pendidikan memberikan kesempatan.
Pendidikan membuat seseorang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan membuat kita berani bermimpi. Pendidikan juga memberikan kemampuan kepada seseorang untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Saya merasakan sendiri bagaimana perjalanan itu dimulai dari sebuah sekolah sederhana di kampung halaman.
Tidak pernah terbayang oleh saya ketika masih kecil bahwa perjalanan yang dimulai dari sekolah dasar tersebut akan membawa saya melewati begitu banyak pengalaman dalam kehidupan.
Saya terus belajar.
Dari SD, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Setiap tahapan memberikan pelajaran yang berbeda. Ada masa yang mudah, ada masa yang sulit. Ada keberhasilan, ada juga kegagalan.
Tetapi satu hal yang selalu saya pegang adalah jangan pernah berhenti belajar.
Belajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Kehidupan sendiri adalah sekolah yang tidak pernah selesai.
Kita belajar dari orang tua. Kita belajar dari guru. Kita belajar dari masyarakat. Kita belajar dari pengalaman. Kita juga belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan.
Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa ilmu bukan hanya sesuatu yang membuat seseorang pintar. Ilmu seharusnya membuat seseorang menjadi lebih bijaksana, lebih peduli, dan lebih mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Mengenang Kampung Halaman
Ketika seseorang sudah dewasa dan menjalani berbagai aktivitas, terkadang ada kerinduan untuk kembali melihat tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil.
Begitu juga dengan saya.
Ada sesuatu yang berbeda ketika kembali mengingat kampung halaman. Suasananya mungkin sudah berubah. Jalan-jalan mungkin sudah berbeda. Bangunan-bangunan mungkin sudah semakin banyak.
Tetapi kenangan masa kecil tidak ikut berubah.
Sekolah pertama tetap menjadi sekolah pertama.
Tempat kita belajar membaca tetap menjadi tempat yang memiliki nilai sejarah dalam kehidupan kita. Guru-guru yang pernah mengajarkan ilmu tetap memiliki tempat di hati.
Saya percaya, setiap orang memiliki cerita masing-masing tentang sekolah pertamanya.
Ada yang datang dengan sepatu baru. Ada yang memakai sepatu bekas. Ada yang membawa tas bagus. Ada pula yang menggunakan tas sederhana.
Ada yang memiliki perlengkapan lengkap. Ada yang harus meminjam dari saudara atau orang lain.
Tetapi yang paling penting bukanlah seperti apa perlengkapan yang kita gunakan ketika pertama kali masuk sekolah.
Yang paling penting adalah semangat untuk belajar.
Jangan Pernah Meremehkan Mimpi Seorang Anak
Kenangan tentang masa kecil tersebut juga membuat saya semakin memahami bahwa setiap anak memiliki mimpi yang harus kita jaga.
Kadang-kadang bagi orang dewasa, keinginan seorang anak terlihat sederhana.
Anak ingin sekolah.
Anak ingin punya buku.
Anak ingin punya seragam.
Anak ingin bertemu teman.
Tetapi di balik keinginan sederhana tersebut terdapat sebuah harapan besar tentang masa depan.
Karena itu, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan hanya karena persoalan ekonomi.
Saya percaya pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak mendapatkan kesempatan yang sama.
Saya pernah merasakan bagaimana rasanya ingin sekolah tetapi belum memiliki perlengkapan yang cukup.
Karena itu, saya sangat memahami bahwa bantuan kecil sekalipun dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan seorang anak.
Sebuah seragam bisa membuat anak berani datang ke sekolah.
Sebuah buku bisa membuka pengetahuan baru.
Sebuah dukungan dari orang tua bisa membuat anak percaya diri.
Sebuah perhatian dari guru bisa membuat seorang anak tidak menyerah.
Dan sebuah kesempatan pendidikan bisa mengubah seluruh masa depan seseorang.
Dari Kesederhanaan, Saya Belajar Bersyukur
Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup, saya justru bersyukur pernah mengalami masa-masa sederhana tersebut.
Kesederhanaan mengajarkan saya untuk menghargai sesuatu.
Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak mudah diperoleh, kita akan lebih memahami nilainya. Ketika harus berjuang untuk sekolah, kita akan lebih menghargai ilmu yang diberikan guru.
Pengalaman masa kecil juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari keadaan yang serba ada.
Banyak orang besar lahir dari keluarga sederhana. Banyak orang yang kemudian berhasil dalam kehidupannya memulai perjalanan dari tempat yang jauh dari kemewahan.
Yang membedakan bukan selalu apa yang dimiliki pada awal perjalanan, tetapi bagaimana seseorang menggunakan kesempatan yang ada.
Saya mendapatkan baju pinjaman.
Tetapi saya tidak hanya mendapatkan sebuah pakaian. Saya mendapatkan kesempatan untuk masuk sekolah.
Dari sekolah itu saya mendapatkan ilmu.
Dari ilmu saya mendapatkan cara berpikir.
Dari pengalaman belajar saya mendapatkan keberanian untuk melanjutkan perjalanan.
Dan perjalanan itu terus berlangsung sampai hari ini.
Pendidikan Anak Hari Ini Adalah Masa Depan Kita
Ketika saya melihat anak-anak Jambi hari ini, saya selalu memiliki harapan besar.
Saya ingin mereka memiliki kesempatan yang jauh lebih baik daripada generasi kami dahulu.
Saya ingin tidak ada lagi anak yang merasa harus berhenti sekolah karena tidak memiliki perlengkapan.
Saya ingin anak-anak di desa dan di kota mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama.
Saya ingin sekolah menjadi tempat yang membuat anak-anak merasa aman, nyaman, dan bahagia untuk belajar.
Sebab kita sedang tidak hanya membangun sekolah.
Kita sedang membangun manusia.
Ketika sebuah sekolah berdiri di sebuah desa, sesungguhnya kita sedang membuka pintu masa depan bagi anak-anak di desa tersebut.
Ketika seorang guru mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, sesungguhnya ia sedang menanam sesuatu yang manfaatnya bisa dirasakan puluhan tahun kemudian.
Ketika pemerintah memberikan perhatian kepada pendidikan, sesungguhnya pemerintah sedang melakukan investasi yang sangat panjang untuk masa depan bangsa.
Karena itu, pembangunan pendidikan harus terus menjadi perhatian.
Bukan hanya pembangunan gedung, tetapi juga kualitas guru, fasilitas belajar, akses pendidikan, kesejahteraan masyarakat, serta lingkungan yang mendukung anak-anak untuk tumbuh dan berkembang.
Anak-Anak Harus Berani Bermimpi
Kepada anak-anak yang hari ini sedang duduk di bangku sekolah, saya ingin menyampaikan satu hal.
Jangan pernah merasa rendah karena keadaan.
Jangan merasa minder hanya karena sepatu yang dipakai tidak semahal milik teman.
Jangan merasa kecil hanya karena tas yang dibawa sederhana.
Jangan merasa bahwa keluarga sederhana berarti masa depan juga sederhana.
Saya pernah berada di posisi itu.
Saya pernah memulai sekolah dengan baju pinjaman.
Tetapi perjalanan hidup tidak berhenti di sana.
Yang penting adalah terus belajar, terus berusaha, dan jangan pernah kehilangan mimpi.
Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan akan menjadi apa dirinya di masa depan. Tetapi dengan pendidikan, kita memiliki bekal untuk menentukan arah perjalanan tersebut.
Karena itu, rajinlah belajar.
Hormati guru.
Sayangi orang tua.
Bertemanlah dengan baik.
Jauhi hal-hal yang dapat merusak masa depan.
Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti bermimpi.
Rindu yang Mengajarkan Banyak Hal
Hari ini, ketika saya kembali mengenang masa kecil, ternyata rasa rindu itu membawa banyak pelajaran.
Saya rindu sekolah pertama.
Saya rindu suasana kampung.
Saya rindu masa ketika kehidupan belum dipenuhi begitu banyak tanggung jawab.
Tetapi di balik kerinduan itu, saya menemukan kembali sebuah pelajaran sederhana tentang kehidupan.
Bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Perjalanan pendidikan saya dimulai dari sebuah sekolah dasar di kampung halaman. Bahkan untuk bisa masuk sekolah pun, saya harus menggunakan baju pinjaman.
Namun saya terus melangkah.
Saya terus belajar.
Saya terus berusaha.
Dan dari perjalanan sederhana itulah banyak hal kemudian terjadi dalam kehidupan saya.
Karena itu, saya tidak pernah malu mengingat masa lalu.
Justru masa lalu itulah yang mengingatkan saya dari mana saya berasal.
Ia mengajarkan saya untuk tidak melupakan kesederhanaan.
Ia mengajarkan saya untuk menghargai kesempatan.
Ia mengajarkan saya untuk peduli kepada anak-anak yang mungkin hari ini sedang menghadapi kesulitan yang pernah saya rasakan.
Terus Belajar Sampai Hari Ini
Bagi saya, belajar tidak pernah berhenti ketika kita lulus sekolah.
Sampai hari ini pun saya merasa masih harus terus belajar.
Belajar memahami masyarakat.
Belajar mendengar aspirasi.
Belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Belajar mengambil keputusan.
Belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebab dunia terus berubah. Tantangan kehidupan semakin kompleks. Anak-anak kita menghadapi persoalan yang mungkin berbeda dengan persoalan generasi kami.
Maka ilmu dan pengetahuan juga harus terus berkembang.
Saya percaya seseorang yang mau terus belajar akan selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Itulah pesan yang saya dapatkan dari perjalanan masa kecil saya.
Dulu, saya hanya seorang anak kampung yang ingin sekolah. Saya tidak memiliki perlengkapan yang lengkap. Bahkan baju sekolah pun harus meminjam.
Tetapi saya memiliki keinginan untuk belajar.
Keinginan itulah yang kemudian menjadi modal awal untuk menjalani perjalanan panjang.
Dan ketika hari ini saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya semakin yakin bahwa pendidikan memang salah satu jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
Penutup
Kenangan tentang sekolah dasar mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi saya, sekolah pertama adalah bagian penting dari perjalanan hidup.
Dari sanalah semuanya dimulai.
Dari sebuah kampung halaman, dari ruang kelas yang sederhana, dari guru-guru yang penuh kesabaran, dari teman-teman masa kecil, dan bahkan dari sebuah baju bekas yang dipinjamkan kepada saya.
Baju itu mungkin sudah lama tidak ada. Sekolah itu mungkin sudah banyak berubah. Teman-teman masa kecil pun sudah menjalani jalan hidup masing-masing.
Namun pelajaran yang saya dapatkan dari masa itu tetap tinggal sampai hari ini. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bahwa kesempatan kecil bisa menjadi awal perjalanan besar.
Dan bahwa pendidikan adalah bekal yang akan terus kita bawa sepanjang kehidupan.
Karena itu, setiap kali mengingat masa kecil, saya tidak hanya merasakan rindu. Saya juga merasakan syukur.
Syukur pernah mendapatkan kesempatan untuk bersekolah.
Syukur pernah bertemu guru-guru yang mengajarkan ilmu.
Syukur pernah merasakan perjuangan.
Dan syukur karena perjalanan belajar tersebut terus berlanjut sampai hari ini.
Semoga anak-anak kita hari ini mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Semoga mereka dapat belajar dengan tenang, bermimpi setinggi mungkin, dan kelak menjadi generasi yang mampu membawa daerah dan bangsa ini menjadi lebih baik.
Sebab pada akhirnya, apa yang kita tanam melalui pendidikan hari ini akan menentukan seperti apa wajah masa depan kita nanti.
Dan bagi saya, semuanya bermula dari sebuah sekolah dasar di kampung halaman tercinta, dari sebuah keinginan sederhana seorang anak untuk belajar, bahkan dengan baju pinjaman sekalipun. (*)
* Al Haris, Gubernur Jambi











