JAMBI, Jambiseru.com – Pelantikan Pengurus Wanita Penulis Indonesia (WPI) Jambi menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam mengembangkan budaya literasi, melestarikan kearifan lokal, serta melahirkan gagasan dan karya tulis yang bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Paduko Berhalo, Rumah Dinas Gubernur Jambi ini mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Jambi sebagai bagian dari upaya mendorong kemajuan literasi di daerah.
Bunda Literasi Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, S.E., yang akrab disapa Hesti Haris, mengapresiasi kehadiran WPI Jambi sebagai wadah bagi perempuan untuk terus berkarya dan menjaga tradisi menulis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Hesti, kemajuan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan menghasilkan tulisan. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, bernalar, menganalisis, serta menghadirkan sentuhan hati dan jiwa dalam setiap karya.
“Teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa begitu saja digantikan, yaitu hati, jiwa, dan rasa dalam sebuah tulisan. Karena itu, kita bersyukur ada Wanita Penulis Indonesia yang terus menggerakkan semangat perempuan untuk menulis dengan penuh rasa,” ujar Hesti.
Ia menilai, kemampuan menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan juga proses mengolah pikiran, memahami persoalan, menyampaikan pengalaman, serta menawarkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Hesti juga mengajak para pengurus WPI Jambi untuk menjadikan literasi sebagai gerakan yang berkelanjutan. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat, termasuk dalam membangun karakter generasi muda melalui kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis.
Dalam kesempatan tersebut, Hesti menegaskan bahwa dirinya sebagai Bunda Literasi memiliki tanggung jawab untuk menggerakkan dan mendukung para pegiat literasi. Sementara itu, kemampuan teknis, pengalaman, dan keterampilan menulis harus terus dikembangkan oleh para penulis melalui proses belajar, berkarya, dan berbagi pengetahuan.
Ia turut menyoroti pentingnya keterkaitan antara literasi dan kebudayaan. Menurutnya, karya tulis yang baik tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mampu merekam nilai-nilai luhur dan identitas budaya daerah.
Salah satu upaya yang terus didorong adalah pelestarian budaya berpantun di Provinsi Jambi. Hesti menyampaikan bahwa tradisi pantun memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan, menghidupkan suasana, serta menjaga etika dan kesantunan dalam berkomunikasi.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Hesti juga mengembangkan karya tulis bertema pantun melalui buku berjudul Membuat Pantun dalam 5 Menit. Buku tersebut direncanakan terbit melalui Penerbit Erlangga pada akhir November 2026, sebagaimana disampaikan dalam sambutannya.
Ia berharap, melalui penguatan literasi berbasis budaya, perempuan Jambi semakin mampu menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai secara intelektual, tetapi juga mencerminkan karakter, kearifan lokal, dan kepribadian bangsa.
Sementara itu, Ketua WPI Jambi, Ramayani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi, khususnya Gubernur Jambi beserta jajaran yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ramayani menjelaskan, Wanita Penulis Indonesia merupakan organisasi yang memberikan ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan kemampuan menulis. Ruang lingkupnya tidak terbatas pada penulis fiksi, tetapi juga mencakup penulis nonfiksi, penulis lagu, wartawan, serta berbagai profesi lain yang menjadikan tulisan sebagai sarana menyampaikan gagasan dan pengetahuan.
Menurutnya, literasi harus dimaknai secara luas, bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan menyerap informasi, mengambil keputusan, memahami kehidupan, dan meningkatkan kesejahteraan.
“Perempuan bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menjadi penafsir zamannya. Perempuan harus bisa membaca perubahan, mengkritisi keadaan, menawarkan jalan keluar, serta mewariskan pemikiran bagi masa depan melalui tulisan,” ungkap Ramayani.
Ia menambahkan, Provinsi Jambi memiliki kekayaan tradisi pengetahuan dan kebudayaan Melayu, mulai dari pepatah petitih, pantun, seloko, hingga tradisi lisan yang menyimpan nilai-nilai kehidupan. Kekayaan tersebut perlu terus dirawat, ditafsirkan, dan dituliskan kembali agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Ramayani berharap, WPI Jambi dapat menjadi rumah yang terbuka bagi perempuan untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan menyampaikan pemikirannya kepada masyarakat luas.
Ia juga menginginkan agar karya-karya perempuan Jambi tidak hanya tersimpan dalam buku catatan atau koleksi pribadi, tetapi dapat diterbitkan, hadir di media, dibicarakan di ruang publik, serta menjadi bagian dari percakapan mengenai pembangunan dan masa depan daerah.
Pelantikan pengurus WPI Jambi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Pesona Literasi WPI. Kegiatan ini diisi dengan lokakarya penulisan kreatif bersama penulis dan pegiat literasi Gol A Gong, yang juga dikenal sebagai Duta Baca Indonesia, serta kegiatan pendukung lainnya berupa pameran dan bazar buku, pertunjukan musikalisasi puisi, dan orasi literasi.
Sambutan Gubernur Jambi disampaikan oleh Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Sumber Daya Manusia, dr. Ferry Kusnadi, Sp.OG. Dalam sambutan tersebut, ia menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua dan seluruh pengurus WPI Jambi yang dilantik, sekaligus berharap organisasi tersebut dapat menjalankan perannya dengan baik dalam mendorong perkembangan literasi di Provinsi Jambi.
Ia juga mengingatkan bahwa organisasi sosial membutuhkan semangat pengabdian dan kepedulian bersama. Para pengurus diharapkan tidak hanya berorientasi pada apa yang diperoleh dari organisasi, tetapi juga memikirkan kontribusi yang dapat diberikan kepada organisasi, pemerintah, dan masyarakat. (fok)











