FILM, Jambiseru.com – Ada jenis film aksi yang hanya mengandalkan ledakan dan kejar-kejaran. Lalu ada film aksi yang mencoba menyentuh sesuatu yang lebih dalam—tentang kehilangan, kemarahan, dan keputusasaan yang memaksa seseorang berubah menjadi sosok yang bahkan dirinya sendiri tak pernah bayangkan.
Lazarus: The Awakening masuk kategori kedua.
Film ini terasa seperti surat gelap untuk kota yang sudah terlalu lama dibiarkan rusak. Bukan sekadar cerita tentang pria yang bangkit dan membalas dendam, tetapi tentang seseorang yang merasa sistem sudah gagal total… dan memilih bertindak sendiri.
Premis yang Simpel Tapi Sarat Emosi
Ceritanya berpusat pada Ray Lazarus, seorang pria yang secara metaforis “bangkit dari kematian” setelah hidupnya dihancurkan oleh jaringan narkoba yang merajalela di kotanya. Kota Jackson digambarkan bukan sebagai latar biasa, melainkan ruang hidup yang perlahan membusuk karena korupsi dan kecanduan.
Lazarus tidak kembali sebagai pahlawan dengan jubah. Ia kembali sebagai pria yang marah.
Dan kemarahan itu terasa nyata.
Film ini tidak terburu-buru. Ia membangun alasan mengapa seseorang bisa sampai pada titik di mana hukum tak lagi cukup. Trauma pribadi Lazarus tidak dipamerkan berlebihan, tetapi cukup untuk membuat kita mengerti motivasinya.
Anti-Hero yang Lebih Dekat ke Realitas
Karakter Lazarus bukan tipe superhero kebal peluru. Ia berdarah. Ia terluka. Ia ragu. Namun ia terus maju karena merasa tak ada pilihan lain.
Di sinilah film ini terasa berbeda. Kita tidak sedang menonton penyelamat dunia. Kita menonton seseorang yang mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya.
Ada momen-momen sunyi ketika ia duduk sendirian, menatap kota dari kejauhan. Adegan-adegan seperti itu memperlihatkan bahwa di balik aksi brutal, ada rasa kehilangan yang belum selesai.
Aksi yang Keras, Tapi Tidak Kosong
Adegan laga di film ini tergolong intens dan cukup realistis. Koreografi pertarungannya tidak terlalu dibuat-buat. Tembakan terasa berat. Pukulan terasa menyakitkan.
Yang menarik, film ini tidak menjadikan kekerasan sebagai hiburan kosong. Setiap konfrontasi punya konsekuensi. Ada dampak emosional setelahnya.
Kamera sering mengambil sudut sempit dan dekat, membuat penonton merasa berada tepat di tengah kekacauan. Atmosfer kota yang gelap dan penuh grafiti memperkuat kesan urban yang kasar.
Kota sebagai Karakter Kedua
Jackson di film ini bukan sekadar latar belakang. Ia adalah korban sekaligus saksi.
Gang-gang kumuh, gedung kosong, lampu jalan redup—semuanya membangun perasaan bahwa kota ini telah kehilangan arah. Film ini dengan halus menyinggung krisis sosial dan ekonomi tanpa terlalu menggurui.
Lazarus bukan hanya melawan kartel. Ia melawan simbol kehancuran yang lebih besar.
Konflik Moral yang Mengganggu
Pertanyaan besar yang terus muncul selama menonton adalah: apakah tindakan Lazarus benar?
Film ini tidak memberi jawaban hitam putih. Ia membiarkan penonton menilai sendiri.
Ada momen ketika Lazarus tampak hampir melewati batas. Kita mulai bertanya apakah ia masih membela keadilan, atau hanya memuaskan amarah.
Dan justru di situ letak kekuatan dramanya.
Sinematografi dan Musik
Visual film ini didominasi warna dingin dan tone abu-abu kebiruan. Cahaya minim, bayangan tebal, dan kontras tajam memperkuat nuansa kelam.
Musiknya cenderung elektronik dengan sentuhan urban yang berat. Dentuman bass rendah memberi tekanan psikologis di beberapa adegan penting.
Semua elemen teknis ini mendukung narasi tanpa terasa berlebihan.
Refleksi Pribadi Setelah Menonton
Setelah kredit akhir berjalan, perasaan yang tersisa bukan sekadar puas melihat penjahat tumbang.
Yang tersisa adalah pertanyaan.
Bagaimana jika sistem benar-benar gagal?
Sejauh mana seseorang boleh bertindak demi “kebaikan”?
Apakah kekerasan bisa membersihkan kekerasan?
Film ini tidak sempurna. Ada beberapa bagian yang terasa repetitif dalam ritme aksi. Namun secara keseluruhan, ia berhasil menjaga ketegangan emosional dari awal sampai akhir.
Dan yang paling penting, ia tidak terasa seperti film aksi generik.
Apakah Film Ini Layak Ditonton?
Jika kamu mencari film dengan ledakan spektakuler dan humor ringan, mungkin ini bukan pilihan utama.
Namun jika kamu ingin film aksi dengan nuansa lebih berat, karakter yang berjuang secara emosional, dan tema sosial yang relevan, Lazarus: The Awakening bisa jadi tontonan yang menarik.
Ia bukan film yang mencoba menyenangkan semua orang. Ia memilih jalannya sendiri—gelap, keras, dan reflektif.
Kesimpulan
Lazarus: The Awakening (2026) adalah film aksi yang mencoba menggabungkan balas dendam pribadi dengan isu sosial modern. Ia menghadirkan anti-hero yang rapuh sekaligus tegas, kota yang terasa hidup, dan konflik moral yang cukup mengganggu untuk dipikirkan setelah film selesai.
Bukan sekadar cerita kebangkitan.
Ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang bertahan ketika dunia di sekelilingnya runtuh.(fok)












