FILM, Jambiseru.com – Ada film yang ditonton untuk menikmati cerita. Ada film yang ditonton untuk menikmati aksi. Dan ada film yang ditonton karena kita penasaran: “Seberapa jauh mereka berani melangkah?”
Itulah perasaan saya saat pertama kali menonton Riki-Oh: The Story of Ricky.
Film ini bukan sekadar brutal. Ia seperti menertawakan konsep realitas itu sendiri. Tulang bisa dihancurkan dengan tangan kosong. Perut bisa ditembus kepalan. Kepala bisa… meledak. Dan semua itu ditampilkan tanpa malu-malu.
Ini bukan film untuk yang lemah hati.
Sinopsis Tanpa Spoiler Berat
Ricky Ho, diperankan oleh Fan Siu-wong, adalah seorang pemuda dengan kekuatan super manusia. Ia dipenjara setelah membalas dendam atas kematian kekasihnya yang tragis.
Penjara dalam film ini bukan penjara biasa. Tempat itu dikuasai oleh para sipir dan kepala blok yang korup, kejam, dan seolah punya hukum sendiri.
Ricky yang pendiam dan tenang tidak berniat membuat masalah. Tapi di tempat seperti itu, kekuatan selalu diuji.
Dan ketika ketidakadilan menjadi sistem, kekerasan menjadi bahasa yang dipahami semua orang.
Tingkat Kekerasan yang Di Luar Nalar
Mari kita jujur.
Riki-Oh bukan sekadar film laga. Ia adalah pertunjukan gore yang hampir terasa seperti komik hidup. Darah menyembur seperti selang bocor. Tubuh manusia hancur dengan cara yang mustahil.
Tapi anehnya, justru karena terlalu berlebihan, film ini terasa seperti satire.
Ada adegan di mana Ricky merobek dagingnya sendiri untuk memperbaiki urat yang putus. Adegan lain memperlihatkan musuh yang perutnya berlubang tapi masih bisa berdiri beberapa detik sebelum tumbang.
Semua ditampilkan dengan efek praktis khas era 90-an. Tidak ada CGI halus. Semuanya kasar, nyata, dan justru itu yang membuatnya ikonik.
Atmosfer Penjara yang Distopia
Penjara dalam film ini seperti dunia kecil yang busuk.
Setiap blok dikuasai bos berbeda. Ada yang bertubuh besar, ada yang licik, ada yang kejam tanpa empati. Mereka memeras tahanan lain dan bekerja sama dengan sipir korup.
Konsepnya sederhana: kekuatan adalah hukum.
Dan Ricky adalah anomali dalam sistem itu.
Ia tidak mencari kekuasaan. Ia hanya ingin bertahan. Tapi ketika melihat penindasan, ia tidak tinggal diam.
Karakter Ricky: Tenang Tapi Menghancurkan
Fan Siu-wong memerankan Ricky dengan wajah polos, hampir lugu. Ia jarang tersenyum. Jarang berbicara panjang.
Tapi ketika bertarung, ekspresinya tetap datar. Tidak ada teriakan dramatis berlebihan. Justru itu yang membuatnya semakin menyeramkan.
Ia seperti simbol keadilan brutal. Tidak banyak debat. Tidak banyak negosiasi.
Kalau salah, dihajar.
Kenapa Film Ini Jadi Kultus?
Riki-Oh mungkin tidak sukses besar secara mainstream saat rilis. Tapi seiring waktu, film ini mendapat status cult classic.
Alasannya jelas:
Kekerasannya ekstrem tapi terasa seperti komik.
Aksinya tanpa kompromi.
Dialognya kadang terdengar kaku tapi justru menambah pesona absurd.
Film ini sering diputar di festival film tengah malam. Penonton menontonnya bukan hanya untuk cerita, tapi untuk pengalaman.
Ini tipe film yang ditonton bersama teman, lalu semua bereaksi bersamaan saat adegan paling gila muncul.
Kekurangan yang Terlihat
Secara teknis, film ini tentu tidak sempurna.
Akting beberapa karakter pendukung terasa teatrikal. Alurnya sederhana. Dialognya tidak selalu kuat.
Tapi anehnya, semua kekurangan itu justru menjadi bagian dari daya tariknya.
Riki-Oh tidak mencoba jadi film realistis. Ia sadar dirinya berlebihan.
Pembahasan Ending (Spoiler)
Menuju klimaks, Ricky berhadapan dengan penguasa tertinggi penjara. Pertarungan terakhirnya benar-benar puncak absurditas.
Tubuh hancur. Dinding runtuh. Darah di mana-mana.
Tapi di balik semua itu, ada pesan sederhana: sistem yang dibangun di atas ketidakadilan pada akhirnya akan runtuh oleh kekuatan yang lebih besar.
Ending-nya tidak rumit. Ricky tetap menjadi simbol perlawanan terhadap tirani.
Makna di Balik Kebrutalan
Di balik segala darah dan tulang patah, film ini sebenarnya menyindir sistem kekuasaan yang korup.
Penjara menjadi metafora masyarakat yang tidak adil. Para kepala blok adalah simbol elit yang menindas. Dan Ricky adalah perlawanan mentah yang lahir dari penderitaan.
Film ini memang tidak halus dalam menyampaikan pesan. Tapi ia jujur dalam caranya sendiri.
Layak Ditonton atau Tidak?
Kalau kamu suka:
Film bela diri klasik Hong Kong
Aksi ekstrem tanpa sensor berlebihan
Atmosfer absurd ala komik dewasa
Maka Riki-Oh adalah tontonan wajib.
Tapi jika kamu tidak tahan melihat adegan gore eksplisit, film ini mungkin terlalu keras.
Bagi saya pribadi, menonton Riki-Oh seperti membuka kapsul waktu ke era film laga 90-an yang berani dan tidak takut kontroversi.
Ia bukan film yang “indah”.
Ia bukan film yang “halus”.
Tapi ia jujur pada identitasnya: brutal, gila, dan tak terlupakan.(gie)












