FILM, Jambiseru.com – Menonton The Dreadful, terasa seperti menyelam ke horor gothic abad pertengahan di mana ketakutan bukan hanya berasal dari hantu, tapi dari kutukan, dendam masa lalu, dan konflik batin manusiawi. Film ini merupakan karya Natasha Kermani, yang menyorot kisah penuh ketegangan dan suasana gelap dengan desain visual yang intens dan penuh atmosfer medieval.
Yang membuatnya menarik adalah ini juga menjadi reuni di layar lebar antara Sophie Turner dan Kit Harington, setelah keduanya terkenal lewat serial hit Game of Thrones. Namun kali ini, dinamika mereka sangat berbeda — bukan bersaudara, tapi sepasang kekasih dalam cerita horor yang menegangkan.
Sinopsis Tanpa Spoiler Berat
Cerita berlangsung di Inggris abad ke-15, di tengah pergolakan Wars of the Roses. Sophie Turner berperan sebagai Anne, seorang wanita yang hidup di pinggiran masyarakat bersama ibu mertuanya, Morwen (diperankan oleh Marcia Gay Harden). Ketika kabar tentang kematian suaminya di medan perang muncul, kehidupan Anne berubah secara dramatis setelah Jago (Kit Harington) — seorang pria dari masa lalunya — kembali. Kehadirannya memicu rangkaian kejadian supranatural dan kutukan misterius yang mengancam mereka semua.
Film ini bukan sekadar horor jump scare biasa. Ia menggabungkan elemen psikologis, kutukan tradisional, dan konflik keluarga yang saling berkaitan, sehingga suasana ketegangan terus terjaga dari awal sampai akhir.
Atmosfer: Horor Gothic yang Kental
Visual film ini memanfaatkan latar era medieval dengan sangat efektif — bangunan tua, hutan gelap, dan suasana sunyi yang mudah membuat penonton merasa terasing, bahkan sebelum ancaman supernatural muncul. Musik latar dan pencahayaan yang suram semakin memperkuat nuansa ketidakpastian dan ancaman terus-menerus.
Ini bukan horor modern dengan CGI cepat atau jump scares berlebihan. The Dreadful lebih mengandalkan gaya horor tradisional, dengan ketakutan yang datang perlahan lewat simbol, bisikan masa lalu, dan karakter yang terjebak di dunia yang tak sepenuhnya dapat mereka kendalikan.
Anne & Jago: Hubungan yang Intens dan Kompleks
Karakter Anne — diperankan Sophie Turner — tidak hanya menjadi pusat cerita horor, tetapi juga menjadi inti emosional film. Ia digambarkan sebagai wanita yang tegar di tengah penderitaan dan ketidakadilan hidup. Ketika Jago kembali, bukan hanya janji cinta lama yang diuji tapi juga trauma, ketakutan, dan rasa bersalah yang selama ini dipendam.
Chemistry antara Turner dan Harington terasa berbeda dari peran mereka sebelumnya di layar. Ketegangan emosional antara Anne dan Jago memberi dimensi personal di tengah atmosfir horor yang tebal — membawa cerita lebih dari sekadar cerita seram biasa.
Tema & Makna Tersirat
The Dreadful mengeksplorasi tema-tema gelap seperti:
Dosa dan Penebusan – bagaimana masa lalu bisa menghantui masa kini.
Takdir & Kutukan – kutukan bukan sekadar elemen supernatural, melainkan simbol trauma yang membekas.
Hubungan Keluarga – konflik antara Anne dan Morwen memberi lapisan konflik emosional kuat.
Film ini seakan berkata bahwa ketakutan terbesar bukan hanya makhluk supranatural, tapi juga ketakutan yang lahir dari hubungan manusia sendiri.
Sinematografi & Eksekusi Visual
Cinematography film ini sangat menyatu dengan tone cerita. Kamera sering menyorot lanskap abad pertengahan dengan warna yang dingin dan redup, menciptakan rasa kehilangan, tekanan, dan isolasi.
Skor musik dari Jamal Green juga berhasil menghadirkan suasana mencekam tanpa memaksakan emosional yang dibuat-buat. Ini membantu suara-suara kecil — langkah kaki, bisikan, atau angin dingin malam — menjadi bagian horor itu sendiri.
Analisis Ending (Spoiler Section)
Spoiler alert — Ending The Dreadful membawa cerita ke titik yang ambigu tetapi penuh makna. Ritual kutukan terungkap lebih kompleks daripada sekadar kekuatan supranatural. Film ini menutup dengan Anne menghadapi trauma lama dan simbol kutukan sebagai bagian dari dirinya — bukan hanya sebagai musuh yang harus dihapus, tetapi sebagai bagian dari identitas dan perjalanan batinnya.
Beberapa penonton merasa ending ini terlalu lambat atau tidak memberi jawaban tegas seperti horor mainstream, tetapi bagi yang menikmati horor psikologis dan naratif berlapis, endingnya justru memberi ruang refleksi setelah lampu bioskop menyala.
Kelebihan
Nuansa horor gothic yang kuat dan konsisten
Chemistry emosional antara Sophie Turner dan Kit Harington
Tema masa lalu dan kutukan yang menambah kedalaman
Visual abad pertengahan yang gelap dan atmosferik
Kekurangan
Ritme cerita terasa lambat bagi penonton yang mencari jump scare cepat
Beberapa elemen horor kurang berdampak dibanding ekspektasi genre
Penggunaan trope horor modern kadang mengganggu atmosfera klasik
Kesimpulan & Rating
The Dreadful bukan horor biasa. Ia mencoba membangun ketakutan lewat drama periode, hubungan kompleks, dan kutukan psikologis. Meski tidak sempurna sebagai horor murni, film ini memikat lewat nuansa gelapnya, chemistry pemeran utama, dan atmosfir abad pertengahan yang unik di era modern.
Untuk penonton yang menyukai horor dengan lapisan emosional dan simbolik, ini adalah tontonan yang menarik dan berbeda dari kebanyakan film horor tahun 2026.
Rating pribadi: 7.5/10
Cocok untuk penonton yang siap merasakan horor lebih atmosferik, psikologis, dan emosional, bukan sekadar jump scare atau efek CGI cepat.(gie)












