Review Film Spectral (2016): Prajurit Hantu di Medan Perang Modern yang Bikin Tegang dari Awal Sampai Akhir

Review Film Spectral (2016): Prajurit Hantu di Medan Perang Modern yang Bikin Tegang dari Awal Sampai Akhir
Review Film Spectral (2016): Prajurit Hantu di Medan Perang Modern yang Bikin Tegang dari Awal Sampai Akhir.Foto: Jambiseru.com

FILM, Jambiseru.com – Ada tipe film yang kalau kita klik, ekspektasinya biasa saja. Kirain cuma film perang standar, tembak-tembakan, tentara lari di lorong gelap, lalu selesai. Tapi begitu lampu mati, volume dinaikkan sedikit… dan tiba-tiba muncul sosok tak kasat mata yang membunuh pasukan elite dalam hitungan detik — kita langsung sadar, ini bukan film perang biasa.

Itulah pengalaman pertama saya saat nonton Spectral.

Film ini seperti mencampur dua dunia yang jarang disatukan dengan rapi: militer modern dan teror supranatural. Hasilnya? Tegang. Intens. Dan cukup bikin merinding.

Sinopsis Singkat Tanpa Spoiler Berat

Film ini mengikuti Dr. Mark Clyne, ilmuwan DARPA yang diperankan oleh James Badge Dale. Ia menciptakan kacamata khusus yang bisa mendeteksi anomali spektrum cahaya — teknologi canggih yang awalnya hanya untuk riset.

Namun teknologi itu tiba-tiba menjadi sangat penting ketika pasukan militer Amerika yang dikirim ke Moldova mulai tewas secara misterius. Rekaman kamera menunjukkan sosok transparan, seperti bayangan manusia, yang bergerak super cepat dan mematikan.
Militer pun mengira ini semacam “prajurit hantu”.

Di lapangan, Clyne bekerja sama dengan tim Delta Force yang dipimpin oleh Kapten Fran Madison (diperankan Emily Mortimer) dan anggota tim berpengalaman seperti Clyne dan anggota pasukan elit lainnya termasuk tokoh yang diperankan oleh Max Martini.

Masalahnya sederhana tapi mengerikan: bagaimana cara menembak sesuatu yang bahkan tidak bisa disentuh?

Atmosfer Perang yang Beda

Biasanya film perang mengandalkan musuh manusia. Tapi Spectral mengambil pendekatan berbeda. Musuhnya bukan tentara lain. Bukan juga zombie. Melainkan entitas yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Menariknya, film ini tidak langsung menyebut mereka “hantu” secara mistis. Justru pendekatannya ilmiah. Ada penjelasan fisika, spektrum energi, dan eksperimen militer yang melenceng.

Di sinilah kekuatan film ini.

Alih-alih menjual jumpscare murahan, Spectral membangun ketegangan lewat ketidakpastian. Kita melihat prajurit bersenjata lengkap, tank, drone, dan perlengkapan canggih… tapi semua itu terasa sia-sia ketika musuh bisa menembus tubuh manusia tanpa perlawanan.

Ada satu adegan di gedung apartemen terbengkalai yang benar-benar membuat jantung berdegup cepat. Kamera night vision, lorong sempit, komunikasi radio yang mulai kacau… lalu satu per satu prajurit tumbang tanpa bisa melawan.

Sunyi. Cepat. Brutal.

Performa Para Pemain

James Badge Dale tampil cukup meyakinkan sebagai ilmuwan yang bukan tentara, tapi terpaksa masuk zona perang. Karakternya bukan pahlawan super. Ia gugup, cemas, tapi cerdas.

Emily Mortimer memberi warna berbeda sebagai perwira wanita yang tegas dan rasional. Ia tidak digambarkan sebagai karakter lemah, melainkan pemimpin yang percaya pada data dan logika.

Sementara Max Martini membawa aura tentara senior yang realistis. Tidak banyak drama emosional berlebihan. Lebih ke arah profesional yang sudah biasa melihat kematian.

Chemistry mereka terasa natural. Tidak dipaksakan.

Visual dan Efek CGI

Untuk ukuran film tahun 2016 dengan rilis langsung ke platform streaming, kualitas visualnya terbilang solid.

Desain makhluknya unik. Mereka tidak sepenuhnya transparan, tapi seperti distorsi energi berbentuk manusia. Ketika bergerak, efeknya seperti asap bercampur listrik statis.
Yang paling menarik adalah cara film ini menjelaskan asal-usul makhluk tersebut. Bukan sekadar “roh penasaran”, melainkan hasil eksperimen yang salah arah.

Pendekatan sci-fi ini membuat Spectral terasa lebih masuk akal dibanding film hantu biasa.

Ketegangan yang Konsisten

Banyak film aksi kehilangan momentum di tengah cerita. Spectral relatif stabil.
Durasi sekitar 1 jam 47 menit terasa pas. Tidak bertele-tele. Tidak terlalu cepat.

Konfliknya meningkat perlahan:
Awalnya misteri.
Lalu investigasi.
Kemudian eksperimen.
Hingga akhirnya konfrontasi besar.

Skala ancamannya juga terasa global. Jika makhluk ini menyebar, bukan cuma satu kota yang hancur.

Kekurangan Film

Tentu saja film ini bukan tanpa cela.

Beberapa dialog ilmiah terasa agak terlalu teknis, seperti ingin terdengar pintar. Bagi penonton yang tidak terlalu suka teori fisika, mungkin terasa sedikit berat.

Selain itu, pendalaman latar belakang karakter tidak terlalu dalam. Kita tahu siapa mereka, tapi tidak benar-benar masuk ke sisi personal mereka.

Namun mungkin itu memang pilihan sadar. Film ini ingin fokus pada ancaman, bukan drama keluarga.

Pembahasan Ending (Spoiler Warning)
Di bagian akhir, film mengungkap bahwa makhluk-makhluk tersebut bukan sekadar hantu. Mereka adalah bentuk energi dari eksperimen senjata canggih berbasis partikel yang gagal.

Artinya, ancaman ini adalah hasil ambisi manusia sendiri.

Ada pesan yang cukup jelas: ketika teknologi dikembangkan tanpa kendali moral, hasilnya bisa menghancurkan.

Ending-nya cukup memuaskan. Tidak menggantung berlebihan, tapi juga menyisakan kemungkinan dunia yang masih belum sepenuhnya aman.

Makna yang Bisa Dipetik

Spectral sebenarnya bukan cuma soal tentara melawan hantu.

Ini tentang:
Ketakutan terhadap teknologi yang tidak sepenuhnya dipahami.
Dampak eksperimen militer rahasia.
Batas antara sains dan keserakahan.

Film ini juga memperlihatkan bahwa keberanian bukan hanya soal menembak musuh, tapi menghadapi sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Tidak?

Kalau kamu suka:
Film perang dengan sentuhan sci-fi
Atmosfer gelap dan mencekam
Cerita militer yang sedikit realistis
Misteri ilmiah yang perlahan terungkap
Maka Spectral adalah tontonan yang layak.

Bukan film revolusioner. Tapi cukup solid, tegang, dan berbeda dari film perang kebanyakan.

Rating pribadi: 7,5/10.

Kadang yang paling menyeramkan bukanlah hantu…

melainkan eksperimen manusia yang berjalan terlalu jauh.

Dan Spectral berhasil mengingatkan itu dengan cara yang cukup efektif. (gie)

Pos terkait