Kesan Nonton Film Filipina Haliparot (2023): Drama tentang Godaan, Kepercayaan, dan Hancurnya Hubungan Keluarga

Haliparot 2023, film Filipina Haliparot, review Haliparot, kesan nonton Haliparot, film Vivamax 2023, Aiko Garcia Haliparot, Maui Taylor Haliparot, Matthew Francisco, Aerol Carmelo, Bobby Bonifacio Jr
Haliparot 2023, film Filipina Haliparot, review Haliparot, kesan nonton Haliparot, film Vivamax 2023, Aiko Garcia Haliparot, Maui Taylor Haliparot, Matthew Francisco, Aerol Carmelo, Bobby Bonifacio Jr. Foto: Istimewa

JAMBI, Jambiseru.comFilm Filipina Haliparot (2023) adalah drama produksi Viva Films dan Vivamax yang disutradarai Bobby Bonifacio Jr. Film berdurasi sekitar 111 menit ini pertama kali dirilis pada 20 Oktober 2023. Pemeran utamanya antara lain Aiko Garcia sebagai Abigail atau Ging, Maui Taylor sebagai Libay, Matthew Francisco sebagai Jeric, dan Aerol Carmelo sebagai Gabo.

Sejak awal, Haliparot memang bukan film yang menawarkan cerita ringan. Judulnya sendiri sudah memberikan gambaran bahwa film ini akan berbicara mengenai godaan, ketertarikan, keputusan impulsif, serta konsekuensi yang muncul ketika batas-batas hubungan mulai dilanggar. Namun, setelah menonton film ini, kesan yang tertinggal bagi saya justru bukan sekadar soal kontroversi atau unsur sensual yang menjadi ciri sebagian produksi Vivamax. Hal yang lebih menarik untuk dibicarakan adalah bagaimana film ini menggambarkan keretakan kepercayaan dalam sebuah keluarga.

Haliparot berkisah tentang Abigail, seorang perempuan muda yang hidup bersama ibunya, Libay. Keduanya mempunyai hubungan yang cukup dekat setelah menjalani kehidupan berdua dalam waktu yang lama. Situasi kemudian berubah ketika Libay menjalin hubungan dengan Jeric, seorang pria yang hadir sebagai sosok baru dalam kehidupan mereka.

Abigail pun mulai mengenal Jeric dan dari sinilah konflik utama perlahan berkembang. Gambaran premis tersebut juga tercantum dalam sejumlah sumber film yang mencatat hubungan antara Abigail, Libay, dan Jeric sebagai pusat cerita.

Yang membuat cerita menjadi rumit adalah posisi Jeric. Ia bukan sekadar orang asing yang tiba-tiba masuk ke lingkungan keluarga tersebut. Kehadirannya mendapatkan kepercayaan dari Libay dan secara tidak langsung membuat Abigail berada dalam situasi yang penuh konflik.

Ketika kepercayaan yang diberikan kepada seseorang ternyata disalahgunakan, persoalannya tidak lagi hanya berkaitan dengan hubungan antarindividu. Dampaknya bisa merembet kepada hubungan ibu dan anak, rasa aman di dalam rumah, serta cara seseorang melihat orang lain setelah mengalami pengkhianatan.

Cerita yang Mengandalkan Konflik Moral

Buat saya, kekuatan utama Haliparot sebenarnya terletak pada konflik moralnya. Film ini mencoba memperlihatkan bagaimana sebuah keputusan yang tampaknya dilakukan secara pribadi dapat menimbulkan konsekuensi terhadap banyak orang.

Abigail berada di tengah situasi yang membuatnya sulit memahami batas antara rasa penasaran, ketertarikan, kepercayaan, dan keputusan yang benar. Di sisi lain, Libay juga mempunyai persoalan sendiri sebagai seorang ibu yang ingin membangun kembali kehidupannya. Kehadiran Jeric kemudian menjadi pemicu yang membuat hubungan mereka diuji.

Film Movement Plus menggambarkan Abigail sebagai sosok yang awalnya cukup terlindungi, kemudian terseret ke dalam situasi penuh godaan setelah ibunya menjalin hubungan dengan seorang misionaris yang masuk ke lingkungan keluarga mereka.

Di sinilah Haliparot menjadi lebih menarik apabila dilihat sebagai drama tentang konsekuensi. Penonton tidak hanya diajak melihat sebuah hubungan yang bermasalah, tetapi juga mempertanyakan bagaimana seseorang dapat menggunakan kepercayaan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.

Meski demikian, saya merasa pembangunan karakter dalam film ini belum sepenuhnya merata. Ada bagian-bagian yang terasa terlalu cepat sehingga beberapa keputusan karakter terlihat muncul tanpa fondasi emosional yang cukup kuat. Sejumlah ulasan terhadap film ini juga menyoroti persoalan pengembangan cerita dan karakter yang dianggap masih kurang mendalam.

Bagi saya, kekurangan tersebut cukup terasa. Ada beberapa konflik yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih kuat apabila film memberikan waktu lebih banyak kepada penonton untuk memahami latar belakang masing-masing tokoh.

Aiko Garcia Membawa Beban Terbesar

Salah satu alasan Haliparot menarik untuk diperhatikan adalah keberadaan Aiko Garcia sebagai pemeran Abigail atau Ging. Film ini menjadi salah satu kesempatan penting bagi Aiko untuk tampil sebagai pemeran utama.
Dalam materi promosi resmi film, Aiko Garcia diperkenalkan sebagai pemeran utama dalam Haliparot setelah memenangkan Pantaxa: Laiya.

Menurut saya, Aiko berhasil membuat Abigail menjadi karakter yang mudah diperhatikan. Ia mampu memperlihatkan perubahan emosi karakter ketika situasi yang dihadapi semakin rumit. Pada bagian awal, Abigail terlihat seperti seseorang yang masih mencari pemahaman mengenai lingkungan dan hubungan di sekitarnya. Ketika konflik berkembang, ekspresi dan cara bicaranya ikut berubah.

Yang paling penting, karakter Abigail seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi kontroversial cerita. Ia juga merupakan seseorang yang berada dalam posisi rentan karena berhadapan dengan orang yang lebih dewasa dan mendapatkan kepercayaan dari keluarganya. Karena itu, saya melihat karakter ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari drama mengenai penyalahgunaan kepercayaan dan batas relasi, bukan sebagai sesuatu yang perlu dirayakan.

Aiko sendiri menjadi salah satu nama yang paling menonjol dalam film tersebut. Keberadaannya membuat Haliparot mempunyai pusat emosional yang cukup jelas.

Maui Taylor dan Karakter Libay

Maui Taylor memerankan Libay, ibu Abigail. Kehadiran Maui memberikan dimensi berbeda karena ia merupakan salah satu nama lama yang sudah dikenal dalam perfilman Filipina, termasuk dalam produksi bergenre dewasa.
Dalam Haliparot, Libay bukan hanya karakter pendukung. Ia merupakan salah satu titik penting yang menentukan arah konflik.

Hubungan Libay dengan Abigail menjadi fondasi emosional cerita. Ketika seseorang baru masuk ke dalam kehidupan mereka, keseimbangan hubungan ibu dan anak perlahan berubah.

Bagi saya, bagian menarik dari karakter Libay adalah bagaimana film memperlihatkan seorang ibu yang juga mempunyai keinginan untuk menemukan kebahagiaan pribadi. Persoalannya, pilihan seseorang sebagai individu bisa memiliki konsekuensi berbeda ketika ia juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga.

Karakter Libay membuat penonton dapat melihat konflik dari perspektif berbeda. Kalau Abigail berhadapan dengan situasi yang tidak mudah dipahami, Libay harus menghadapi konsekuensi dari keputusan dan kepercayaannya sendiri.

Matthew Francisco sebagai Jeric

Matthew Francisco memainkan karakter Jeric, sosok yang menjadi pusat konflik dalam hubungan antara Abigail dan Libay. Dari sinilah karakter Jeric menjadi sangat penting karena ia bukan hanya bagian dari kisah percintaan, melainkan juga simbol penyalahgunaan kepercayaan.

Film membangun Jeric sebagai seseorang yang pada awalnya terlihat dapat dipercaya. Ia hadir dengan citra yang membuat orang lain merasa nyaman berada di dekatnya. Namun, seiring cerita berjalan, sisi lain dari karakter tersebut mulai terlihat.

Saya justru menganggap pendekatan seperti ini lebih efektif daripada membuat tokoh antagonis terlihat jahat sejak menit pertama. Ketika seseorang mendapatkan kepercayaan terlebih dahulu, kemudian menyalahgunakan kepercayaan itu, dampak dramatisnya menjadi lebih kuat.

Matthew Francisco mendapatkan tantangan cukup besar melalui karakter tersebut. Ia harus memperlihatkan perubahan dari sosok yang tampak meyakinkan menjadi karakter yang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penonton.
Beberapa ulasan juga menilai Francisco mampu memberikan perubahan karakter Jeric secara cukup meyakinkan.

Aerol Carmelo sebagai Gabo

Sementara itu, Aerol Carmelo memerankan Gabo. Dibandingkan beberapa karakter utama lainnya, Gabo mempunyai fungsi yang berbeda dalam cerita.

Ia menjadi salah satu tokoh yang memberikan perspektif tambahan terhadap Abigail. Kehadiran Gabo juga membuat cerita tidak sepenuhnya berputar pada hubungan antara Abigail, Libay, dan Jeric.

Aerol Carmelo mampu memberikan energi yang berbeda. Dalam beberapa bagian, karakternya terasa lebih emosional sehingga membantu memberikan variasi terhadap suasana film yang cukup berat.

Sejumlah ulasan film juga memberikan perhatian terhadap kemampuan Aerol Carmelo dalam memainkan adegan

Haliparot disutradarai Bobby Bonifacio Jr., filmmaker yang sudah beberapa kali menangani produksi Vivamax. Dari sisi teknis, film ini memiliki tampilan yang cukup rapi.

Salah satu ulasan yang cukup positif terhadap film ini justru datang dari aspek visual. Sinematografi, penyuntingan, dan tata musik dinilai mampu membuat film terlihat lebih serius secara teknis dibandingkan kesan yang mungkin muncul hanya dari judulnya.

Saya juga melihat ada usaha untuk membuat film ini tidak hanya bergantung pada dialog. Penggunaan lokasi, pencahayaan, dan musik membantu membangun atmosfer yang sesuai dengan perkembangan konflik.

Namun, kualitas teknis tersebut belum sepenuhnya mampu menutupi kelemahan pada penulisan cerita. Film dengan visual bagus tetap membutuhkan karakter yang kuat agar penonton benar-benar peduli terhadap apa yang terjadi.
Haliparot terkadang terasa seperti mempunyai ide besar tetapi tidak selalu mempunyai waktu yang cukup untuk mengembangkan semua ide tersebut.

Kalau berbicara mengenai track record, Haliparot merupakan salah satu film Vivamax yang mendapatkan perhatian sejak sebelum penayangannya. Film ini diumumkan sebagai produksi baru dengan Aiko Garcia sebagai salah satu daya tarik utama, bersama Maui Taylor, Matthew Francisco, dan Aerol Carmelo. Film tersebut kemudian tayang pada 20 Oktober 2023.

Haliparot juga tercatat dalam daftar film Filipina yang dirilis pada Oktober 2023.
Dari sisi penerimaan penonton, datanya memang tidak terlalu kuat untuk dijadikan kesimpulan besar. Rotten Tomatoes mencatat belum adanya ulasan kritikus yang menghasilkan Tomatometer untuk film ini, sementara IMDb menampilkan skor sekitar 4,6 dari 10 berdasarkan ratusan penilaian pengguna yang tercatat pada saat sumber tersebut diakses.

Menariknya, ada juga kritikus yang memberikan penilaian lebih positif terhadap aspek teknis film. Fred Said, misalnya, memasukkan Haliparot sebagai salah satu film Vivamax terbaik tahun 2023 versinya dan memberikan perhatian khusus terhadap kualitas visual serta penyutradaraannya.

Artinya, penerimaan film ini cukup beragam. Ada yang melihatnya sebagai drama kontroversial dengan cerita yang kurang kuat, tetapi ada juga yang menilai kualitas produksinya lebih baik daripada dugaan awal.

Haliparot Lebih Menarik Jika Dilihat sebagai Drama Keluarga

Setelah menonton, saya merasa Haliparot lebih menarik apabila tidak berhenti pada label film sensual. Di balik semua kontroversinya, terdapat cerita mengenai keluarga yang kehilangan rasa aman.

Hubungan ibu dan anak merupakan elemen yang sebenarnya paling potensial untuk dikembangkan. Abigail dan Libay digambarkan sebagai dua orang yang sudah lama saling bergantung. Ketika Jeric hadir, hubungan tersebut mengalami perubahan.

Konflik seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia. Kepercayaan tidak selalu hancur karena pertengkaran besar. Terkadang kepercayaan runtuh karena seseorang membuat satu keputusan yang salah, menyimpan rahasia, atau memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak tepat.
Haliparot juga memperlihatkan bahwa sebuah rumah belum tentu selalu menjadi tempat yang aman ketika orang-orang di dalamnya menyimpan rahasia.

Walaupun mempunyai gagasan menarik, saya tidak bisa mengatakan Haliparot sebagai film yang sempurna.

Kelemahan terbesarnya berada pada pengembangan cerita. Beberapa konflik terasa terlalu terburu-buru. Ada karakter yang sebenarnya mempunyai potensi besar tetapi tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang.

Kritik serupa juga muncul dalam sejumlah ulasan independen yang menilai film ini kurang dalam membangun koneksi emosional antarkarakter.

Bagi saya, film akan terasa lebih kuat apabila penulis memberikan lebih banyak waktu untuk membangun hubungan Abigail dan Libay sebelum konflik utama muncul. Dengan begitu, penonton akan memiliki ikatan emosional yang lebih besar terhadap keduanya.

Beberapa keputusan karakter juga terasa terlalu mendadak. Padahal, jika diberikan petunjuk sejak awal, perkembangan tersebut mungkin akan terasa lebih alami.

Kalau pertanyaannya apakah Haliparot layak ditonton, jawaban saya tergantung pada ekspektasi penonton.

Bagi penonton yang mencari drama Filipina dengan konflik keluarga, karakter kontroversial, dan cerita mengenai kepercayaan yang disalahgunakan, film ini mempunyai sesuatu untuk ditawarkan.

Namun, bagi penonton yang mengharapkan drama dengan penulisan karakter sangat mendalam, mungkin akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang memuaskan.
Film ini juga jelas bukan tontonan keluarga. Tema dan materi ceritanya ditujukan untuk penonton dewasa. Karena itu, keputusan untuk menonton sebaiknya disesuaikan dengan batas kenyamanan masing-masing.

Yang menurut saya penting adalah melihat film ini secara kritis. Jangan hanya melihat bagian yang kontroversial, tetapi perhatikan juga bagaimana cerita menggambarkan konsekuensi dari penyalahgunaan kepercayaan dan keputusan yang buruk.

Secara keseluruhan, Haliparot (2023) adalah film Filipina yang menarik untuk dibahas karena berada di antara drama keluarga, kisah tentang godaan, dan cerita mengenai konsekuensi dari kepercayaan yang salah tempat.

Bobby Bonifacio Jr. berhasil menghadirkan film dengan kualitas visual yang cukup rapi. Aiko Garcia juga menjadi salah satu daya tarik utama melalui karakter Abigail, sementara Maui Taylor, Matthew Francisco, dan Aerol Carmelo memberikan warna berbeda terhadap konflik yang dibangun.

Kelemahan terbesar film ini ada pada cerita yang terkadang terasa terburu-buru. Beberapa karakter membutuhkan pengembangan lebih jauh agar keputusan mereka terasa lebih masuk akal secara emosional.

Namun, justru karena kontroversial dan mempunyai persoalan moral yang cukup berat, Haliparot tetap menjadi film yang bisa memancing diskusi.

Bagi saya, kesan terbesar setelah menonton bukanlah unsur sensasionalnya, melainkan pertanyaan sederhana mengenai kepercayaan: seberapa jauh seseorang bisa menjaga batas ketika diberi kepercayaan, dan apa yang terjadi ketika kepercayaan tersebut disalahgunakan?
Haliparot mungkin tidak sempurna dalam menjawab pertanyaan itu. Tetapi film ini cukup berhasil membuat penonton memikirkannya.

Dengan durasi sekitar 111 menit dan tema yang berat, Haliparot merupakan salah satu produksi Filipina 2023 yang lebih cocok dinilai sebagai drama kontroversial untuk penonton dewasa daripada sekadar film hiburan biasa. (gie/berbagai sumber)

Pos terkait