Kesan Nonton Film Creed 1 dan Creed 2: Bukan Sekadar Tinju, tapi Tentang Warisan dan Perjuangan

Kesan Nonton Film Creed 1 dan Creed 2: Bukan Sekadar Tinju, tapi Tentang Warisan dan Perjuangan
Kesan Nonton Film Creed 1 dan Creed 2: Bukan Sekadar Tinju, tapi Tentang Warisan dan Perjuangan. Foto: Ist

JAMBI, JAMBISERU.COM – Menonton Creed dan Creed II terasa seperti kembali masuk ke dunia tinju yang pernah begitu kuat lewat sosok Rocky Balboa. Namun, dua film ini tidak sekadar menjual nostalgia. Keduanya berhasil menghadirkan cerita baru melalui perjalanan Adonis Creed, seorang petinju muda yang harus keluar dari bayang-bayang nama besar ayahnya.

Yang paling menarik, perjalanan Adonis bukan hanya tentang memenangkan pertandingan. Ia juga harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya pantas berdiri sebagai seorang petinju, bukan sekadar karena ia adalah anak dari legenda Apollo Creed.

Kesan Menonton Creed (2015)

Creed memperkenalkan Adonis “Donnie” Johnson, putra Apollo Creed yang tidak sempat mengenal ayahnya dengan baik. Adonis memiliki bakat bertinju dan akhirnya mencari Rocky Balboa untuk menjadi pelatihnya.

Awalnya, hubungan keduanya terasa seperti pertemuan antara seorang anak muda yang sedang mencari arah dengan seorang legenda yang sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.

Di sinilah kekuatan film mulai terasa.
Rocky tidak hanya melatih Adonis untuk bertinju. Ia juga membantu Adonis memahami siapa dirinya. Sementara Adonis secara tidak langsung memberikan alasan baru bagi Rocky untuk kembali memiliki tujuan.

Pertandingan-pertandingan dalam film terasa intens, tetapi yang membuatnya menarik justru perjuangan sebelum masuk ring. Adonis harus berhadapan dengan rasa minder, kemarahan terhadap masa lalu, serta tekanan karena nama besar ayahnya.

Kesan saya:Creed terasa emosional tanpa kehilangan energi sebagai film olahraga. Film ini mampu membuat penonton peduli terhadap karakter sebelum akhirnya dibuat tegang ketika pertandingan berlangsung.

Creed II (2018): Masa Lalu Datang Kembali

Jika Creed lebih banyak bercerita tentang pencarian identitas, Creed II membawa Adonis menghadapi warisan masa lalu keluarganya.

Adonis mendapat tantangan besar ketika Viktor Drago muncul sebagai calon lawannya. Viktor adalah putra Ivan Drago, petinju yang pernah mengalahkan dan menyebabkan kematian Apollo Creed dalam Rocky IV.

Pertarungan tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertandingan tinju.

Ada luka lama yang belum selesai. Ada nama keluarga yang dipertaruhkan. Ada keinginan untuk membalas masa lalu, sekaligus ketakutan akan mengulang tragedi yang sama.

Rocky kembali menjadi sosok penting dalam perjalanan Adonis. Namun, film ini juga memperlihatkan bahwa Adonis harus belajar mengambil keputusan sendiri.

Menurut saya, Creed II mempunyai sisi emosional yang lebih kuat karena konflik antara Adonis dan keluarga Drago memiliki hubungan langsung dengan sejarah Rocky dan Apollo.
Yang menarik, film tidak hanya memperlihatkan perjalanan Adonis. Viktor Drago juga diberi ruang sebagai karakter yang memiliki tekanan dan perjuangannya sendiri.

Bukan Cuma Tentang Menang dan Kalah

Salah satu hal yang membuat dua film Creed menarik adalah cara keduanya menggambarkan dunia olahraga.

Menjadi juara bukan hanya soal memiliki pukulan keras. Seorang petinju harus mempunyai mental, disiplin, keberanian dan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan.

Adonis beberapa kali harus menghadapi pertanyaan penting: apakah ia bertarung karena ingin menjadi dirinya sendiri atau karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain?
Pertanyaan tersebut membuat film terasa lebih manusiawi.

Track Record Creed

Creed mendapat respons positif dari kritikus maupun penonton. Film pertama juga mendapatkan pengakuan besar di ajang penghargaan, terutama melalui penampilan Sylvester Stallone sebagai Rocky Balboa.
Stallone bahkan mendapatkan nominasi Academy Award untuk Aktor Pendukung lewat perannya tersebut.

Film Creed juga berhasil menghidupkan kembali franchise Rocky dengan cara yang berbeda. Alih-alih menjadikan Rocky sebagai pusat cerita, film menempatkan generasi baru sebagai fokus utama.

Sementara itu, Creed II melanjutkan keberhasilan tersebut dengan menghadirkan kembali karakter Ivan Drago dan menghubungkan cerita generasi baru dengan sejarah Rocky.

Pemain Utama

Michael B. Jordan sebagai Adonis Creed

Michael B. Jordan menjadi pusat perhatian dalam dua film ini melalui perannya sebagai Adonis Creed.

Ia berhasil menunjukkan perubahan karakter Adonis dari seorang petinju muda yang belum menemukan identitasnya menjadi petarung yang lebih matang.

Selain berakting, Jordan juga menjadi sutradara Creed III, sehingga keterlibatannya dalam karakter Adonis semakin kuat.

Sylvester Stallone sebagai Rocky Balboa

Sulit membicarakan Creed tanpa membicarakan Sylvester Stallone.

Sebagai Rocky Balboa, Stallone membawa sejarah panjang franchise Rocky ke dalam cerita baru. Namun, Rocky di sini bukan lagi petinju muda yang mengejar gelar juara.

Ia adalah seorang mentor yang memberikan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Tessa Thompson sebagai Bianca

Tessa Thompson memerankan Bianca, pasangan Adonis yang juga mempunyai perjalanan hidup dan ambisinya sendiri.
Karakter Bianca membuat cerita tidak hanya berkutat pada pertandingan tinju. Hubungannya dengan Adonis memberikan dimensi emosional sekaligus memperlihatkan kehidupan Adonis di luar ring.

Jonathan Majors sebagai Viktor Drago

Dalam Creed II, Jonathan Majors berperan sebagai Viktor Drago.

Karakter ini menarik karena awalnya bisa terlihat sebagai lawan utama yang harus dikalahkan Adonis. Namun, semakin cerita berjalan, penonton dapat melihat bahwa Viktor juga berada di bawah tekanan besar dari ayahnya, Ivan Drago.

Setelah menonton Creed dan Creed II, kesan yang paling kuat adalah bahwa kedua film ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang tinju.
Ini adalah cerita tentang warisan, keluarga, kehilangan, keberanian dan usaha untuk menemukan identitas sendiri.

Creed memperlihatkan bagaimana Adonis berusaha keluar dari bayang-bayang ayahnya.
Sedangkan Creed II mempertemukannya dengan masa lalu keluarganya dan memaksanya menentukan sendiri bagaimana ia ingin dikenang.

Bagi penggemar film olahraga, dua film ini sangat layak ditonton. Bahkan bagi penonton yang tidak terlalu menyukai tinju, kisah hubungan Adonis dan Rocky tetap menawarkan drama yang kuat.

Pada akhirnya, pesan yang terasa paling jelas adalah: kita memang tidak bisa memilih warisan yang diberikan kepada kita, tetapi kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan dengan warisan tersebut.(gie/berbagai sumber)

Pos terkait