JAMBI, Jambiseru.com – Guardian: The Lonely and Great God atau yang lebih populer dengan judul Goblin adalah salah satu drama Korea yang rasanya sulit dilupakan, bahkan setelah bertahun-tahun sejak pertama kali tayang.
Drama yang dibintangi Gong Yoo, Kim Go-eun, Lee Dong-wook, Yoo In-na, dan Yook Sung-jae ini bukan sekadar menyuguhkan kisah cinta. Ada komedi, tragedi, persahabatan, takdir, kehidupan setelah kematian, hingga pertanyaan tentang arti hidup yang dibungkus dalam cerita fantasi yang indah.
Setelah menonton Guardian: The Lonely and Great God, rasanya mudah memahami kenapa drama ini begitu fenomenal dan masih terus dibicarakan oleh penggemar drama Korea hingga sekarang.
Sinopsis Guardian: The Lonely and Great God
Cerita berpusat pada Kim Shin, seorang jenderal perang hebat yang hidup ratusan tahun lalu. Namun, kehidupannya berubah menjadi tragedi setelah ia menjadi korban fitnah dan akhirnya meninggal dengan pedang yang tertancap di tubuhnya.
Bukannya benar-benar pergi dari dunia, Kim Shin justru mendapatkan kehidupan abadi sebagai seorang Goblin atau Dokkaebi.
Keabadian yang awalnya terdengar seperti sebuah anugerah ternyata menjadi hukuman yang sangat panjang. Selama ratusan tahun, Kim Shin harus menyaksikan orang-orang yang dicintainya pergi satu per satu.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kehidupannya adalah menemukan pengantin Goblin, seorang perempuan yang ditakdirkan mampu mencabut pedang dari tubuhnya.
Perjalanan hidup Kim Shin kemudian berubah ketika ia bertemu Ji Eun-tak, seorang gadis muda yang ternyata memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasatmata dan sejak kecil hidup dalam berbagai kesulitan.
Pertemuan mereka menjadi awal dari kisah cinta yang manis, lucu, tetapi perlahan berubah menjadi perjalanan emosional yang penuh pengorbanan.
Kesan Nonton: Awalnya Lucu, Lama-lama Bikin Hati Hancur
Salah satu kekuatan terbesar Goblin adalah kemampuannya memainkan emosi penonton.
Pada satu adegan, kita bisa tertawa melihat tingkah Kim Shin dan malaikat maut. Namun, beberapa menit kemudian, cerita bisa berubah menjadi begitu menyedihkan hingga membuat hati terasa sesak.
Hubungan antara Kim Shin dan malaikat maut menjadi salah satu bagian paling menghibur dalam drama ini. Dua makhluk abadi dengan karakter yang sangat berbeda justru tinggal bersama dan sering bertengkar seperti anak kecil.
Chemistry Gong Yoo dan Lee Dong-wook benar-benar luar biasa.
Bahkan bagi sebagian penonton, bromance mereka menjadi salah satu alasan terbesar untuk terus mengikuti setiap episode.
Sementara itu, kisah cinta Kim Shin dan Ji Eun-tak menghadirkan nuansa yang berbeda. Ada kehangatan, kepolosan, humor, tetapi juga bayangan perpisahan yang sejak awal terasa seperti sedang menunggu.
Inilah yang membuat Guardian: The Lonely and Great God terasa begitu emosional.
Penonton tahu bahwa kisah mereka tidak akan berjalan mudah. Namun, justru karena itulah setiap momen bahagia terasa semakin berharga.
Lee Dong-wook dan Yoo In-na Juga Bikin Penonton Terbawa Perasaan
Kalau kisah Kim Shin dan Eun-tak sudah membuat hati naik turun, pasangan malaikat maut dan Sunny punya cerita yang tidak kalah menyakitkan.
Hubungan mereka berkaitan dengan masa lalu, kesalahan, karma, dan kesempatan kedua.
Lee Dong-wook berhasil menampilkan karakter malaikat maut yang dingin dan misterius, tetapi sebenarnya memiliki sisi polos dan lucu.
Sementara Yoo In-na tampil sangat memikat sebagai Sunny, perempuan yang terlihat kuat tetapi menyimpan perjalanan emosional yang cukup berat.
Kisah pasangan ini menjadi salah satu bagian paling menyedihkan dalam Goblin.
Ada momen-momen yang mungkin membuat penonton bertanya, apakah cinta benar-benar bisa bertahan ketika seseorang harus menghadapi kesalahan dari kehidupan masa lalu?
Visual Drama yang Terasa Seperti Film
Satu hal yang langsung terasa ketika menonton Guardian: The Lonely and Great God adalah kualitas visualnya.
Drama ini memiliki sinematografi yang sangat indah. Setiap lokasi, warna, pencahayaan, hingga cara kamera mengambil gambar terasa dibuat dengan sangat serius.
Banyak adegan yang terlihat seperti lukisan.
Pemandangan musim gugur, salju, jalanan, rumah Kim Shin, hingga berbagai lokasi ikonik membuat drama ini memiliki identitas visual yang kuat.
Tidak heran jika banyak lokasi syuting Goblin kemudian menjadi perhatian para penggemar drama Korea.
Drama ini juga sangat pintar menggunakan visual untuk membangun suasana.
Ketika cerita sedang romantis, gambar terasa hangat dan indah. Saat cerita mulai memasuki bagian tragedi, suasananya berubah menjadi lebih sunyi dan emosional.
OST Goblin, Salah Satu yang Paling Ikonik
Membicarakan Guardian: The Lonely and Great God tentu tidak lengkap tanpa membahas soundtrack-nya.
OST drama ini benar-benar menjadi bagian penting dari pengalaman menonton.
Lagu seperti Stay With Me yang dibawakan Chanyeol dan Punch, Beautiful oleh Crush, hingga I Will Go to You Like the First Snow oleh Ailee berhasil membuat banyak adegan terasa semakin emosional.
Kadang, hanya mendengar beberapa detik lagu-lagu tersebut saja sudah cukup untuk membawa ingatan kembali ke adegan tertentu.
Itulah kekuatan soundtrack yang bagus.
OST Goblin bukan hanya lagu pengiring, tetapi sudah menjadi bagian dari cerita itu sendiri.
Track Record Guardian: The Lonely and Great God
Guardian: The Lonely and Great God pertama kali tayang di Korea Selatan pada akhir 2016 hingga awal 2017 melalui tvN.
Drama bergenre fantasi dan romantis ini ditulis oleh Kim Eun-sook dan disutradarai Lee Eung-bok.
Serial ini menjadi salah satu drama kabel Korea Selatan paling sukses pada masanya. Episode terakhirnya mencatat rating rata-rata sekitar 20,5 persen, sebuah pencapaian besar untuk drama televisi kabel Korea saat itu.
Kesuksesan Goblin juga terlihat dari berbagai penghargaan yang diraihnya.
Dalam ajang Baeksang Arts Awards 2017, Kim Eun-sook meraih penghargaan tertinggi televisi atau Daesang untuk karyanya, sementara Gong Yoo memenangkan penghargaan Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Kim Shin.
Drama ini juga memenangkan penghargaan Best Drama di Korea Drama Awards, sementara popularitas soundtrack-nya turut membawa berbagai penghargaan untuk lagu-lagu OST yang menjadi fenomena.
Bahkan bertahun-tahun setelah penayangannya, Goblin masih sering disebut sebagai salah satu drama Korea fantasi romantis paling ikonik.
Mengenal Para Pemain Utama
Gong Yoo sebagai Kim Shin
Gong Yoo adalah salah satu aktor papan atas Korea Selatan yang dikenal melalui berbagai drama dan film populer.
Sebelum Goblin, namanya semakin dikenal secara internasional melalui drama Coffee Prince dan film zombie fenomenal Train to Busan.
Dalam Goblin, Gong Yoo berhasil menampilkan Kim Shin sebagai sosok yang terlihat kuat, berwibawa, dan hampir tidak terkalahkan.
Namun, di balik itu semua, ia menyimpan kesepian yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Perpaduan antara humor dan kesedihan yang dimainkan Gong Yoo menjadi salah satu kekuatan utama drama ini.
Kim Go-eun sebagai Ji Eun-tak
Kim Go-eun dikenal sebagai aktris yang memiliki kemampuan akting natural dan berani mengambil karakter-karakter berbeda.
Ia mendapatkan perhatian besar sejak tampil dalam dunia perfilman Korea dan kemudian semakin dikenal secara global melalui sejumlah proyek populer.
Dalam Goblin, Kim Go-eun memerankan Ji Eun-tak, gadis yang terlihat ceria meski kehidupannya tidak mudah.
Karakter Eun-tak mungkin terlihat polos, tetapi sebenarnya ia memiliki kekuatan besar untuk bertahan dalam hidup.
Chemistry Kim Go-eun dengan Gong Yoo menjadi salah satu elemen penting dalam keberhasilan drama ini.
Lee Dong-wook sebagai Malaikat Maut
Lee Dong-wook merupakan aktor Korea Selatan yang telah lama dikenal melalui berbagai drama populer.
Dalam Goblin, ia berhasil memberikan warna berbeda sebagai malaikat maut.
Karakter ini misterius, dingin, dan penuh rahasia. Namun, di sisi lain, ia juga bisa sangat lucu ketika berinteraksi dengan Kim Shin.
Akting Lee Dong-wook membuat karakter malaikat maut terasa kompleks dan menarik.
Yoo In-na sebagai Sunny
Yoo In-na tampil memikat sebagai Sunny, pemilik restoran ayam yang memiliki hubungan penting dengan masa lalu Kim Shin dan malaikat maut.
Karakter Sunny terlihat percaya diri, berani, dan penuh gaya.
Namun, perjalanan emosionalnya menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam drama ini.
Chemistry Yoo In-na dan Lee Dong-wook juga menjadi favorit banyak penonton.
Yook Sung-jae sebagai Yoo Deok-hwa
Yook Sung-jae dari grup BTOB memerankan Yoo Deok-hwa, karakter muda yang membawa banyak unsur komedi dalam cerita.
Deok-hwa menjadi sosok yang sering membuat suasana lebih ringan.
Meski terlihat seperti karakter pendukung yang kocak, kehadirannya tetap memiliki peran penting dalam perjalanan cerita Kim Shin.
Goblin Bukan Sekadar Drama Tentang Cinta
Menurut saya, kekuatan terbesar Guardian: The Lonely and Great God adalah ceritanya yang sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar kisah cinta.
Drama ini berbicara tentang kehidupan dan kematian.
Tentang bagaimana seseorang menghadapi kesalahan.
Tentang penyesalan.
Tentang kesempatan kedua.
Dan tentang bagaimana manusia sering kali baru memahami betapa berharganya waktu ketika mereka mulai kehilangan sesuatu.
Kim Shin memiliki kehidupan abadi, sesuatu yang mungkin diinginkan banyak manusia.
Namun, drama ini justru menunjukkan bahwa hidup selamanya tanpa orang-orang yang kita cintai bisa menjadi sebuah kesepian yang sangat menyakitkan.
Kesimpulan Kesan Nonton Guardian: The Lonely and Great God
Guardian: The Lonely and Great God adalah drama Korea yang lengkap.
Ada komedi yang membuat tertawa.
Ada romance yang membuat tersenyum.
Ada persahabatan yang menghangatkan hati.
Dan tentu saja, ada tragedi yang bisa membuat penonton sulit menahan air mata.
Drama ini mungkin sudah bukan tontonan baru, tetapi ceritanya masih terasa kuat untuk ditonton kembali.
Bagi penggemar drama Korea bergenre fantasi, romantis, komedi, dan melodrama, Goblin adalah salah satu tontonan yang sangat layak masuk daftar.
Siapkan hati sebelum menonton.
Karena perjalanan Kim Shin, Ji Eun-tak, malaikat maut, dan Sunny bukan hanya akan menghibur.
Tetapi juga mungkin akan membuat kita berpikir tentang waktu, cinta, kehilangan, dan orang-orang yang selama ini kita anggap akan selalu ada.
Dan ketika episode terakhir selesai, satu hal yang mungkin terasa adalah: ternyata menjadi abadi tidak selalu berarti menjadi bahagia. (gie/berbagai)











