Jambiseru.com — Anggota kelompok komedi legendaris Warkop DKI, Indro Warkop, mengaku takjub sekaligus terharu melihat antusiasme generasi muda saat ini. Di tengah gempuran tren hiburan modern, anak-anak muda dari kalangan Gen Z ternyata masih sangat akrab dan hafal di luar kepala dengan lagu-lagu jenaka karya Warkop DKI.
Hal tersebut diungkapkan Indro saat membahas ikatan historis antara Warkop DKI dan dunia musik dalam konferensi pers jelang penyelenggaraan Synchronize Festival 2026 di Jakarta, Rabu.
Indro menceritakan kembali momen emosional yang dirasakannya saat tampil di ajang Synchronize Festival tahun sebelumnya. Meski tampil di panggung dengan skala yang lebih intim, ia dikejutkan oleh pemandangan penonton muda yang kompak melantunkan karya-karya lama Warkop.
“Terus terang kemarin di Synchronize tahun lalu kita main, walaupun di tempat yang lebih kecil, tapi saya kaget anak-anak sekarang, Gen Z, masih hafal lagu itu,” ungkap Indro.
Melihat respons penonton yang begitu luar biasa, pemilik nama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro itu mengaku langsung diliputi rasa haru. Seketika itu pula, kerinduannya kepada kedua sahabat almarhum yang telah lebih dulu berpulang, Dono dan Kasino, kembali menyeruak.
“Saya bilang di situ, orang masih nyanyiin lagu kita. Dan menurut saya itu membanggakan sekali untuk kami,” tuturnya dengan nada bangga.
Akar Musik di Balik Lawakan Warkop
Lebih lanjut, Indro menjelaskan bahwa musik bukanlah elemen tempelan bagi Warkop DKI, melainkan napas utama yang mengalir sejak mereka merintis karier dari balik studio radio hingga panggung komedi kampus. Pada awal perjalanannya, kelompok legendaris ini bahkan memiliki cita-cita besar untuk tampil sebagai musical comedian (komedian musikal).
Ambisi bermusik tersebut diwujudkan melalui rekam jejak kolaborasi bersama sejumlah tokoh dan musisi besar Tanah Air, seperti Abadi Soesman, Ian Antono, hingga maestro violis Idris Sardi.
Tidak hanya berkarya secara mandiri, Warkop DKI juga memegang andil besar dalam membidani lahirnya grup musik humor legendaris, seperti Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Indro mengenang, cikal bakal PMR bermula dari sekelompok pengamen jalanan yang kerap mengiringi orang-orang menenggak minuman keras.
“Mas Kasino bilang, ‘Ini bukan minuman, ini racun!’ Jadi mereka mengiringi orang minum racun, makanya dinamakan Pengantar Minum Racun,” kenang Indro, seraya menyebut kelompok tersebut awalnya dibentuk untuk mengisi program siaran radio Warkop.
Jejak pengaruh Warkop terhadap kancah orkes dangdut humor semakin kuat ketika mendiang Kasino menjabat sebagai ketua seksi acara Dies Natalis Universitas Indonesia. Inisiatif Kasino menggelar festival dangdut antar-fakultas kala itu turut melahirkan grup Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP).
Jembatan Lintas Generasi Lewat Film
Meski kini Gen Z lebih banyak mengenal Warkop DKI melalui layar kaca dan film-film komedi lawas yang diputar ulang di bioskop atau televisi, Indro menilai medium visual tersebut menjadi jembatan krusial yang membuat warisan seni mereka tetap hidup melintasi zaman.
“Gen Z mungkin tahunya Warkop hanya ada di film, padahal sebetulnya Warkop dimulai dari radio dan panggung. Namun dari film itu jugalah mereka akhirnya kenal musik-musiknya Warkop,” jelasnya.
Tahun ini, Warkop DKI genap menginjak usia 53 tahun tepat pada 23 September lalu. Menandai usia emas tersebut, Indro dijadwalkan bakal kembali mengguncang panggung Synchronize Festival 2026 yang akan digelar di Jakarta pada Oktober mendatang, dengan mempersembahkan set pertunjukan spesial bertajuk “Tribute to Warkop DKI” bersama kolaborasi musisi lintas generasi. (ris)
Sumber: antaranews











