Derita Rakyat Penyengat Olak (5) : Kehidupan Lansia dalam Kebisingan dan Debu Stockpile Pasir CV Lintas Makmur Sejahtera

derita rakyat penyengat olak (5)
Sofia, Warga RT 03 Desa Penyengat Olak. Foto : Istimewa

Jambiseru.com, Penyengat Olak – Warga Penyengat Olak, Muaro Jambi, kini menanggung beban hidup yang tak lagi ringan. Selama lebih dari dua tahun terakhir, mereka mengaku hidup dalam cengkeraman kebisingan, debu, dan getaran yang datang silih berganti dari aktivitas pelabuhan dan lalu lintas kendaraan berat di sekitar permukiman mereka.

Sofia, lansia yang sudah berusia 71 tahun telah menetap di RT 03 Desa Penyengat Olak dari lahir tersebut, mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan tempat tinggalnya kini jauh berubah. Ia menyebut, gangguan yang dirasakan bukan lagi sekadar ketidaknyamanan biasa, melainkan telah merangsek ke ranah kesehatan fisik dan ketenangan batin.

“Sudah dua tahun ini kami tidak pernah benar-benar tenang. Mau istirahat siang pun susah, apalagi waktu ibadah. Suara bising terus, debu masuk ke rumah, belum lagi getaran yang membuat rumah terasa tidak aman,” ujar Sofia dengan nada pasrah.

Ia menjelaskan, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini justru menjadi sumber kecemasan. Aktivitas di luar rumah yang diduga kuat berasal dari operasional Pelabuhan atau stockpile pasir CV Lintas Makmur Sejahtera dan kendaraan berat membuat kualitas hidup warga menurun drastis. Tidak hanya soal kebisingan, debu yang beterbangan setiap hari turut memperburuk kondisi kesehatan keluarga.

Yang lebih menyakitkan, kata Sofia, warga seolah tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pihak berwenang. Mereka merasa “dikambinghitamkan” dan dibiarkan menghadapi persoalan ini sendiri, tanpa solusi yang jelas.

“Kami bukan menolak pembangunan. Tapi tolong dengarkan kami. Kami juga punya hak untuk hidup tenang,” tegas Sofia.

Dalam kesempatan itu, Sofia secara spesifik meminta pemerintah dan pihak berwenang untuk mempertimbangkan penutupan stockpile pasir yang dinilai telah sangat mengganggu kehidupan warga sekitar. Menurutnya, evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan sebelum dampak yang lebih buruk terjadi.

“Kalau memang harus ditutup, ya ditutup. Kalau tidak bisa ditutup, setidaknya dibatasi. Jangan sampai kami terus begini tanpa kepastian,” harap Sofia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak CV Lintas Makmur Sejahtera maupun pemerintah daerah terkait keluhan warga tersebut. Namun, desakan dari masyarakat Penyengat Olak kian menguat. Mereka berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap penderitaan yang telah berlangsung selama dua tahun ini.

Nasib warga Penyengat Olak menjadi cermin bahwa pembangunan dan aktivitas industri di sekitar permukiman harus selalu mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Tanpa evaluasi yang berpihak pada rakyat kecil, derita mereka akan terus berlanjut—tanpa ujung, tanpa keadilan. (red)\

Pos terkait