Jambiseru.com, MUARO JAMBI – Perwakilan warga Desa Penyengat Olak menegaskan bahwa hari ini merupakan batas akhir bagi Kepala Desa Rutomi untuk merealisasikan janji memfasilitasi dialog tiga pihak antara warga dan pemilik stockpile CV Lintas Makmur Sejahtera. Jika hingga batas waktu yang ditetapkan tidak ada pertemuan yang terwujud, warga menilai Kades Rutomi telah ingkar janji dan tidak mau memenuhi permintaan warga.
Penegasan ini disampaikan perwakilan warga menyusul pertemuan sebelumnya yang menghasilkan komitmen Kades Rutomi untuk memfasilitasi pertemuan tersebut. Namun hingga kini, mekanisme dialog yang dijanjikan masih menunggu pembuktian. Warga menilai janji tersebut harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan lisan.
Sebelumnya, warga yang resah akibat debu, getaran, dan kerusakan infrastruktur akibat operasional stockpile menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah desa pada 23 September lalu. Surat tersebut memuat sejumlah tuntutan, termasuk penghentian sementara operasional, koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk evaluasi ulang, serta pemenuhan hak-hak warga terdampak.
Namun, pasca-penyampaian surat terbuka, Kades Rutomi sempat dilaporkan tidak berada di kantor selama tiga hari berturut-turut. Akibatnya, penanganan persoalan ini mandek dan memicu kecemasan warga. Warga menilai kehadiran dan respons cepat pemerintah desa sangat dibutuhkan mengingat dampak operasional stockpile yang terus dirasakan.
Perselisihan antara warga dan CV Lintas Makmur Sejahtera diketahui telah berlangsung lama. Bahkan pada 21 September, saat 13 tuntutan warga belum mendapat jawaban jelas dari pihak perusahaan, stockpile tersebut justru kembali beroperasi. Hal ini memicu kemarahan warga. Tuntutan tersebut mencakup kewajiban perusahaan menyiram jalan lima kali sehari untuk mengendalikan debu, pembatasan kecepatan kendaraan pengangkut demi melindungi rumah warga, pembatasan jam operasional, serta penyerahan dokumen izin dari warga sekitar.
Surat terbuka yang beredar mengungkapkan bahwa operasional stockpile telah menimbulkan dampak serius bagi kehidupan warga. Getaran dari alat berat digambarkan “seperti gempa bumi”, menyebabkan genteng lepas, dinding serta tiang rumah retak, dan merusak tempat ibadah serta infrastruktur jalan. Kesehatan anak-anak terancam akibat menghirup debu; sejumlah warga melaporkan anak mereka jatuh sakit. Selain itu, material yang berserakan di jalan dan lalu lalang truk pengangkut besar telah berulang kali memicu kekhawatiran kecelakaan.
Persoalan ini juga telah menarik perhatian instansi lingkungan. DLH Muaro Jambi sebelumnya menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi provinsi untuk melakukan pemeriksaan bersama terhadap dokumen izin lingkungan (SPPL) dan kelayakan operasional perusahaan. Namun hingga kini, operasional di lapangan belum dihentikan.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan warga menegaskan tuntutan utama mereka: operasional yang menimbulkan kerusakan lingkungan harus dihentikan sebelum tercapai kesepakatan yang mengikat antara perusahaan dan masyarakat. Warga menyatakan akan terus mengawal tindak lanjut janji tersebut dan tidak menutup kemungkinan mengambil langkah advokasi lebih lanjut apabila dialog tak kunjung terwujud hingga batas waktu yang telah ditetapkan hari ini.
“Jika hari ini tidak ada pertemuan, maka Kades telah ingkar janji dan tidak mau memenuhi permintaan warga. Kami akan mencatat ini sebagai bentuk pengabaian terhadap aspirasi masyarakat,” tegas perwakilan warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kades Rutomi maupun pihak CV Lintas Makmur Sejahtera mengenai realisasi dialog tiga pihak yang dijanjikan. Warga mendesak agar pemerintah desa segera menetapkan jadwal pasti dan melibatkan semua pihak, termasuk DLH, agar persoalan ini tidak berlarut-larut dan segera menemukan titik terang.(red)











