FILM, Jambiseru.com – Nonton Petaka Gunung Gede itu rasanya… campur aduk. Di satu sisi, film ini punya semua elemen yang biasanya bikin horor Indonesia laku keras: gunung, mitos, larangan adat, dan kerasukan. Bahkan secara popularitas, film ini benar-benar meledak—tembus jutaan penonton dan jadi salah satu film Indonesia terlaris 2025.
Tapi di sisi lain… ada sesuatu yang terasa “nggak maksimal”.
Seperti masakan yang bahan-bahannya sudah enak, tapi cara masaknya kurang pas.
Alur Cerita: Pendakian yang Berubah Jadi Teror
Cerita berpusat pada dua sahabat, Maya dan Ita, yang memutuskan untuk mendaki Gunung Gede bersama teman-temannya.
Awalnya ringan. Bahkan terasa seperti film remaja biasa.
Tapi semuanya mulai berubah ketika Ita melanggar salah satu kepercayaan yang dianggap sakral—mendaki dalam kondisi tertentu yang dianggap tabu oleh masyarakat sekitar.
Dari situ… satu per satu kejadian aneh mulai muncul.
Kerasukan. Penampakan. Perasaan “tidak diinginkan” di gunung.
Dan seperti pola klasik horor Indonesia, kesalahan kecil berubah menjadi bencana besar.
Masalahnya… alurnya terasa terlalu familiar.
Tidak banyak kejutan yang benar-benar baru.
Atmosfer: Gunung yang Harusnya Mencekam, Tapi Kurang Dalam
Film ini sebenarnya punya potensi besar dari setting-nya.
Gunung Gede itu sendiri sudah punya “aura” mistis yang kuat.
Kabut, hutan, jalur pendakian—semuanya bisa jadi elemen horor yang sangat efektif.
Dan memang, secara visual, film ini cukup rapi menampilkan suasana pendakian.
Tapi sayangnya… atmosfernya terasa kurang digali.
Banyak momen yang seharusnya bisa dibuat lebih sunyi, lebih tegang, justru diisi dengan jumpscare yang terasa berulang. Jadi bukannya makin dalam… malah terasa datar.
Unsur Horor: Banyak, Tapi Kurang Nempel
Kalau bicara jumlah adegan horor, film ini tidak pelit.
Penampakan ada. Kerasukan ada. Gangguan gaib ada.
Masalahnya bukan di jumlah… tapi di dampaknya.
Banyak adegan terasa seperti “template”:
muncul → kaget → selesai.
Tidak ada buildup yang benar-benar bikin penonton tenggelam dalam ketakutan.
Dan ini yang bikin horornya terasa cepat hilang setelah adegan selesai.
Padahal konsep dasarnya—melanggar aturan gunung—itu sebenarnya kuat banget.
Drama Persahabatan: Justru Jadi Fokus Tersembunyi
Hal menarik dari film ini… justru bukan horornya. Tapi hubungan antara Maya dan Ita.
Film ini beberapa kali terasa seperti drama persahabatan dibanding horor murni.
Dan di beberapa momen, ini justru jadi kekuatan.
Chemistry mereka cukup terasa, bahkan membuat pembuka film terasa hangat sebelum masuk ke teror.
Tapi di sisi lain, ini juga jadi kelemahan.
Karena fokus film jadi terpecah. Mau jadi horor? Atau drama? Akhirnya… terasa setengah-setengah.
Pemeran dan Perannya
Film ini dibintangi deretan aktor muda dengan beberapa nama senior sebagai pendukung.
Daftar Pemeran dan Perannya:
Arla Ailani sebagai Maya – tokoh utama yang memiliki sensitivitas terhadap hal gaib
Adzana Ashel sebagai Ita – sahabat yang menjadi pusat teror
Endy Arfian – anggota rombongan pendakian
Raihan Khan – karakter pendukung dalam perjalanan
Teuku Rifnu Wikana sebagai ayah Ita – salah satu karakter paling kuat secara akting
Mieke Amalia – figur orang tua dengan nuansa misterius
Menariknya, justru karakter orang tua (terutama ayah Ita) terasa lebih hidup dibanding karakter utama.
Kelebihan Film
Film ini punya beberapa keunggulan yang tidak bisa diabaikan.
Pertama, premisnya relatable bagi penonton Indonesia. Mitos gunung, larangan adat, dan cerita pendakian itu sangat dekat dengan budaya kita.
Kedua, film ini berhasil menarik penonton dalam jumlah besar, yang berarti secara hiburan tetap punya daya tarik kuat.
Ketiga, chemistry persahabatan jadi nilai emosional yang cukup terasa.
Kekurangan Film
Namun kekurangannya juga cukup jelas.
Alur cerita terasa generik dan mudah ditebak.
Eksekusi horor terlalu bergantung pada jumpscare.
Dan yang paling terasa… film ini seperti tidak berani mengambil arah yang lebih dalam.
Padahal kalau digarap lebih serius, ini bisa jadi horor pendakian yang jauh lebih kuat.
Makna yang Tersembunyi
Di balik semua itu, film ini sebenarnya mencoba menyampaikan pesan sederhana.
Tentang menghormati alam.
Tentang aturan yang mungkin terlihat sepele… tapi punya konsekuensi besar.
Dan tentang bagaimana kesalahan kecil bisa berdampak panjang.
Ada juga tema rasa bersalah dan hubungan manusia dengan hal yang tidak terlihat.
Seramnya Ada, Tapi Tidak Menghantui
Petaka Gunung Gede adalah film yang “ramai”… tapi tidak terlalu membekas.
Seram? Ada.
Menarik? Lumayan.
Membekas? Tidak terlalu.
Ini tipe film yang enak ditonton di bioskop bareng teman—teriak bareng, kaget bareng.
Tapi setelah selesai… cepat dilupakan.
Kalau kamu penggemar horor pendakian, film ini tetap layak ditonton.
Tapi kalau kamu mencari horor yang benar-benar dalam dan menghantui… Film ini mungkin terasa kurang menggigit.(gie/berbagai sumber)












