Terbongkar! Ini Alasan Rahasia di Balik Serangan Mematikan Gabungan AS dan Arab Saudi ke Irak

terbongkar! ini alasan rahasia di balik serangan mematikan gabungan as dan arab saudi ke irak
Terbongkar! Ini Alasan Rahasia di Balik Serangan Mematikan Gabungan AS dan Arab Saudi ke Irak. Foto: antaranews

Jambiseru.com – Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap paramiliter Irak, Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces/PMF), pada Rabu (29/7) dini hari.

Serangan tersebut menandai operasi militer gabungan yang jarang terjadi antara kedua negara dan secara tajam meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Kalangan analis mengatakan bahwa serangan udara tersebut menandai perubahan signifikan dalam strategi keamanan regional Washington dan Riyadh, sekaligus memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan dengan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya dapat menyeret kawasan itu ke dalam konflik yang lebih luas.

Apa yang terjadi?

Serangan itu menyasar sejumlah markas PMF di beberapa provinsi di Irak, termasuk Baghdad, Basra dan Nineveh, menyebabkan sedikitnya 20 orang tewas dan 32 lainnya terluka, sebut pernyataan PMF.

PMF merupakan organisasi payung yang disponsori oleh negara di Irak. Pasukan ini terdiri dari puluhan faksi paramiliter yang secara resmi terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak setelah kampanye melawan kelompok ekstremis ISIS.

Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengonfirmasi serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, komando itu mengatakan bahwa “pesawat tempur AS dan Arab Saudi menyerang beberapa lokasi logistik dan persenjataan teroris di berbagai wilayah Irak timur sebagai respons tegas terhadap lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dalam 72 jam terakhir.”

CENTCOM menyatakan bahwa milisi-milisi “yang bersekutu dengan Iran” di Irak telah melancarkan lebih dari 600 upaya serangan terhadap warga negara dan fasilitas AS selama periode Februari hingga April. Komando itu juga memperingatkan bahwa Iran dan kelompok-kelompok “proksinya” harus menghentikan serangan tersebut atau menghadapi respons militer lebih lanjut dari AS.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi sebelumnya pada pekan ini melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat sejumlah drone yang berasal dari wilayah Irak dan menargetkan fasilitas-fasilitas minyak utama di negara kerajaan tersebut.

Serangan gabungan AS-Arab Saudi itu terjadi di tengah upaya diplomatik yang dilakukan Baghdad.

Dewan Menteri untuk Keamanan Nasional Irak mengecam serangan AS-Arab Saudi itu, seraya mengatakan bahwa serangan tersebut terjadi saat “pemerintah Irak secara aktif berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memverifikasi dan menindaklanjuti kekhawatiran yang disampaikan oleh Arab Saudi maupun AS terkait penargetan wilayah Arab Saudi.”

Apakah pertimbangan strategisnya?

Para analis menilai bahwa koordinasi militer yang jarang terjadi antara Washington dan Riyadh ini menunjukkan perubahan besar dalam dinamika penangkalan regional, bukan sekadar respons terhadap serangan drone yang terjadi belakangan ini.

Nadhum Ali, seorang pakar hubungan internasional dari Irak, mengatakan bahwa serangan gabungan itu menunjukkan “eskalasi keamanan yang sangat berbahaya” yang bertujuan menyampaikan peringatan tegas kepada kelompok-kelompok pro-Iran bahwa serangan terhadap infrastruktur energi vital tidak akan ditoleransi.

“Melawan milisi-milisi yang didukung Iran merupakan salah satu pertimbangan paling penting,” kata Mohammed al-Jubouri, seorang profesor media di Universitas al-Iraqia yang berbasis di Baghdad. (ris)

Sumber: antaranews

Pos terkait