JAMBI, Jambiseru.com – Tingginya harga tiket pesawat maskapai nasional kembali menjadi sorotan di tengah kondisi keuangan perusahaan yang masih berdarah-darah.
Anggota Komisi V DPR RI dari Daerah Pemilihan Jambi, Edi Purwanto menilai, situasi yang terjadi pada maskapai pelat merah Garuda Indonesia menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat.
Pasalnya, hingga September 2025, Garuda Indonesia tercatat masih membukukan kerugian sekitar Rp2,39 triliun. Ironisnya, di saat perusahaan terus merugi, harga tiket yang ditawarkan justru dinilai jauh lebih mahal dibandingkan maskapai swasta.
Kondisi ini membuat banyak penumpang memilih beralih ke maskapai lain yang menawarkan harga lebih terjangkau.
“Ini menjadi pertanyaan besar. Maskapai milik negara terus merugi, tetapi harga tiketnya justru lebih mahal dibandingkan maskapai swasta yang bisa menjalankan bisnisnya dengan baik,” kata Edi Purwanto.
Menurutnya, keberadaan maskapai milik negara seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Sebagai perusahaan yang didukung negara, Garuda juga memiliki tanggung jawab pelayanan publik kepada masyarakat.
Edi menegaskan, masyarakat secara tidak langsung turut menanggung keberlangsungan perusahaan tersebut melalui pajak dan dukungan negara. Karena itu, wajar jika publik berharap adanya kebijakan harga yang lebih berpihak pada rakyat.
“Rakyat ikut menanggung keberadaan perusahaan ini. Jadi wajar kalau masyarakat berharap tiket pesawat bisa lebih terjangkau,” jelasnya.
Ia bahkan menyoroti contoh harga tiket yang dinilai sangat tinggi di sejumlah rute. Untuk penerbangan menuju Jambi, harga tiket kelas bisnis bisa mencapai sekitar Rp11 juta. Sementara untuk rute Sorong, harga tiket bahkan disebut bisa menembus Rp21 juta.
Menurut Edi, kondisi ini menjadi ironi di tengah harapan masyarakat yang ingin bepergian dengan lebih mudah, terutama menjelang momentum penting seperti mudik Lebaran.
“Momentum seperti Lebaran seharusnya menjadi waktu bagi masyarakat untuk merasakan kemudahan dan kebahagiaan berkumpul dengan keluarga, bukan justru terbebani oleh harga tiket yang melonjak tinggi,” imbuhnya. (uda)












