Oleh : Al Haris *
Hari ini saya berkesempatan menghadiri kuliah umum tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kampus Pinang Masak Universitas Jambi. Kegiatan ini kami laksanakan bersama Kapolda Jambi, Danrem 042/Garuda Putih, Wakajati Jambi, serta jajaran Rektorat Universitas Jambi sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat pemahaman masyarakat mengenai bahaya karhutla dan langkah-langkah penanggulangannya.
Bagi saya, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Karhutla adalah persoalan kemanusiaan, kesehatan, ekonomi, bahkan masa depan generasi yang akan datang. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Udara menjadi tercemar, aktivitas masyarakat terganggu, kesehatan anak-anak dan lansia terancam, serta roda perekonomian ikut terdampak.
Karena itu saya selalu meyakini bahwa upaya pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan ketika kebakaran sudah terjadi. Memadamkan api memang penting, tetapi membangun kesadaran agar api tidak muncul adalah pekerjaan yang jauh lebih strategis. Kesadaran inilah yang harus terus kita tanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.
Melalui kuliah umum ini, saya berharap lahir pemahaman yang lebih kuat tentang dampak karhutla dan pentingnya menjaga lingkungan. Mahasiswa bukan hanya penerima ilmu di ruang kuliah, tetapi juga agen perubahan yang mampu menyampaikan edukasi kepada masyarakat luas. Ketika pengetahuan bertemu dengan kepedulian, maka akan lahir gerakan bersama yang mampu mencegah terjadinya bencana.
Saya mengapresiasi sinergi yang terbangun antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Kejaksaan, perguruan tinggi, dan seluruh pihak yang selama ini berkomitmen dalam penanganan karhutla. Persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi, dan kesadaran kolektif agar upaya pencegahan dapat berjalan secara efektif.
Jambi memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Hutan, lahan, dan sumber daya alam yang kita miliki merupakan warisan yang harus dijaga bersama. Jangan sampai kelalaian hari ini menjadi penyesalan di masa depan. Setiap warga memiliki peran untuk menjaga lingkungan, sekecil apa pun peran tersebut.
Al Haris Ways mengajarkan bahwa menjaga alam tidak harus menunggu menjadi pejabat, tokoh masyarakat, atau pemimpin. Menjaga alam bisa dimulai dari diri sendiri, dari keluarga, dan dari lingkungan sekitar. Sebab ketika kesadaran tumbuh di setiap individu, maka perlindungan terhadap hutan dan lahan akan menjadi gerakan bersama yang kuat.
Mari kita jadikan edukasi sebagai benteng pertama dalam mencegah karhutla. Karena sesungguhnya, kebakaran besar sering kali berawal dari kelalaian kecil yang diabaikan. Dengan pengetahuan, kepedulian, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat, saya yakin Jambi dapat terus menjaga lingkungannya dan mewariskan alam yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Salam Jambi Mantap.(***)
* Al Haris, Gubernur Jambi












