Al Haris Ways: Karhutla Tidak Bisa Dilawan Sendiri, Saatnya Jambi Perkuat Sinergi Hadapi Musim Kemarau 2026

al haris ways karhutla tidak bisa dilawan sendiri, saatnya jambi perkuat sinergi hadapi musim kemarau 2026
Al Haris Ways: Karhutla Tidak Bisa Dilawan Sendiri, Saatnya Jambi Perkuat Sinergi Hadapi Musim Kemarau 2026. Foto: dokumen/jambiserucom

JAMBI, Jambiseru.com – Hari kemarin saya kembali diingatkan bahwa menjaga Jambi bukan hanya soal membangun jalan, sekolah, rumah sakit, atau infrastruktur lainnya. Ada tugas besar yang sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat. Tugas itu adalah menjaga agar hutan dan lahan kita tetap aman dari ancaman kebakaran.

Dalam rangka mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Jambi, saya bersama Danrem 042/Garuda Putih, Kapolda Jambi, Wakajati Jambi, serta berbagai instansi vertikal dan pemangku kepentingan lainnya mengikuti Apel Siaga Bencana Karhutla Tahun 2026 yang dilaksanakan di Makorem 042/Garuda Putih Jambi.

Apel siaga ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Di balik barisan yang rapi dan komando yang tegas, ada pesan penting yang ingin kami tegaskan kepada seluruh masyarakat. Berdasarkan prediksi BMKG, Provinsi Jambi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan Juni 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Kondisi ini semakin perlu diwaspadai karena adanya fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan suhu dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.

Pengalaman mengajarkan kita bahwa karhutla bukan persoalan yang bisa dianggap ringan. Ketika api mulai membesar, dampaknya tidak hanya membakar hutan dan lahan. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, bahkan perekonomian daerah. Kerugian yang muncul sering kali jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan yang seharusnya dilakukan sejak awal.

Karena itu, saya selalu meyakini bahwa pencegahan adalah langkah terbaik. Jangan menunggu api muncul baru kita bergerak. Jangan menunggu kabut asap datang baru kita sibuk mencari solusi. Justru saat kondisi masih aman seperti sekarang inilah seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Dalam menghadapi ancaman karhutla, tidak ada satu lembaga pun yang mampu bekerja sendiri. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan TNI, Polri, kejaksaan, BMKG, BPBD, dunia usaha, kelompok masyarakat, hingga para relawan di lapangan. Semua memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika koordinasi berjalan baik, maka potensi bencana dapat ditekan sejak dini.

Saya melihat semangat kebersamaan itu hadir dalam Apel Siaga Karhutla Tahun 2026. Seluruh unsur hadir dengan komitmen yang sama, yaitu menjaga Jambi tetap aman selama musim kemarau. Komitmen ini harus terus dipelihara, bukan hanya saat apel berlangsung, tetapi juga dalam tindakan nyata di lapangan.

Masyarakat juga memiliki peran yang sangat besar. Saya mengajak seluruh warga Jambi untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Cara ini mungkin dianggap mudah dan murah oleh sebagian pihak, tetapi risikonya sangat besar. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menyebar akibat angin dan kondisi lahan yang kering. Ketika hal itu terjadi, penyesalan tidak lagi membawa manfaat.

Saya percaya masyarakat Jambi semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan. Kesadaran ini harus terus diperkuat melalui edukasi dan pengawasan bersama. Jika melihat potensi kebakaran atau aktivitas yang berisiko memicu karhutla, segera laporkan kepada aparat atau pihak terkait agar dapat ditangani lebih cepat.

Bagi saya, menjaga hutan dan lahan bukan hanya soal melindungi pohon atau kawasan hijau. Ini adalah upaya menjaga masa depan generasi yang akan datang. Hutan yang terjaga akan memberikan manfaat ekonomi, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjadi warisan berharga bagi anak cucu kita.

Melalui Apel Siaga Bencana Karhutla Tahun 2026 ini, saya berharap sinergi dan kerja sama yang telah terbangun dapat semakin kuat. Kekompakan seluruh elemen menjadi modal utama dalam menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung cukup menantang tahun ini.

Mari kita jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya bersama. Mari kita buktikan bahwa Jambi mampu menghadapi berbagai tantangan dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Karena pada akhirnya, keberhasilan mencegah karhutla bukanlah keberhasilan satu orang atau satu lembaga, melainkan keberhasilan seluruh masyarakat Jambi yang peduli terhadap daerahnya.

Semoga musim kemarau tahun 2026 dapat kita lalui dengan aman, dan semoga Jambi tetap hijau, sehat, serta terbebas dari bencana kebakaran hutan dan lahan. Itulah harapan saya, dan itulah yang selalu saya sebut sebagai Al Haris Ways: bekerja bersama, bergerak lebih awal, dan menjaga Jambi dengan sepenuh hati.(*)

* Al Haris, Gubernur Jambi

Pos terkait