Biaya Cas Mobil Listrik per Bulan: Pertanyaan Paling Penting Calon Pemilik EV

Mobil Listrik (EV)
Mobil Listrik (EV).Foto: AI/Jambiseru.com

Jambiseru.com – Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul sebelum membeli mobil listrik adalah soal biaya cas bulanan. Banyak calon pengguna ingin tahu apakah mobil listrik benar-benar lebih hemat dibanding mobil bensin atau justru sebaliknya. Di tahun 2026, dengan tarif listrik yang relatif stabil dan semakin banyaknya pilihan mobil listrik di Indonesia, perhitungan biaya charging EV menjadi semakin relevan dan realistis.

Artikel ini akan membahas biaya cas mobil listrik per bulan berdasarkan simulasi nyata penggunaan harian di Indonesia, bukan sekadar estimasi teori.

Bagaimana Cara Menghitung Biaya Cas Mobil Listrik?

Biaya cas mobil listrik sangat bergantung pada tiga faktor utama, yaitu kapasitas baterai mobil, jarak tempuh harian, dan tarif listrik yang digunakan. Semakin besar baterai dan semakin jauh jarak tempuh, maka konsumsi listrik juga akan meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan konsumsi BBM, biaya listrik tetap jauh lebih murah per kilometernya.

Sebagian besar mobil listrik di Indonesia menggunakan baterai dengan kapasitas antara 30 hingga 60 kWh. Tarif listrik rumah tangga umumnya berada di kisaran Rp1.400–Rp1.700 per kWh, tergantung golongan daya.

Simulasi Biaya Cas Mobil Listrik di Rumah

Untuk penggunaan harian di dalam kota, rata-rata pengemudi menempuh jarak sekitar 30 hingga 50 kilometer per hari. Dengan konsumsi energi mobil listrik sekitar 0,15 hingga 0,18 kWh per kilometer, maka kebutuhan listrik harian berada di kisaran 5 hingga 9 kWh.

Jika dikalikan tarif listrik rumah tangga, biaya cas mobil listrik per hari berkisar antara Rp7.000 hingga Rp15.000. Dalam satu bulan pemakaian normal, biaya cas mobil listrik di rumah berada di kisaran Rp250.000 hingga Rp450.000. Angka ini sudah mencakup penggunaan rutin tanpa pengisian di luar rumah.

Biaya Cas Mobil Listrik di SPKLU

Selain charging di rumah, sebagian pengguna juga memanfaatkan SPKLU, terutama saat bepergian jarak jauh. Biaya charging di SPKLU umumnya sedikit lebih mahal dibanding listrik rumah karena mencakup layanan dan fasilitas tambahan.

Rata-rata biaya cas mobil listrik di SPKLU untuk satu kali pengisian penuh berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp80.000, tergantung kapasitas baterai dan jenis charger. Jika dalam sebulan pengguna melakukan charging di SPKLU sebanyak dua hingga empat kali, tambahan biaya bulanan berkisar Rp100.000 hingga Rp300.000.

Meski lebih mahal dari charging rumah, biaya ini tetap jauh lebih murah dibanding pengisian BBM mobil bensin.

Total Biaya Cas Mobil Listrik per Bulan

Jika digabungkan antara charging di rumah dan sesekali di SPKLU, total biaya cas mobil listrik per bulan umumnya berada di kisaran Rp300.000 hingga Rp600.000. Angka ini sudah mencerminkan pemakaian normal untuk kebutuhan kerja, aktivitas keluarga, dan perjalanan harian di perkotaan.

Untuk pengguna dengan mobilitas sangat tinggi, biaya bisa mendekati Rp700.000 per bulan, namun tetap lebih hemat dibanding mobil bensin di kelas yang sama.

Perbandingan Biaya Mobil Listrik vs Mobil Bensin

Sebagai pembanding, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 1 liter per 12 kilometer dan jarak tempuh 1.200 kilometer per bulan membutuhkan sekitar 100 liter BBM. Dengan harga BBM di kisaran Rp10.000 per liter, biaya bensin per bulan bisa mencapai Rp1.000.000 atau lebih.

Artinya, mobil listrik bisa menghemat biaya energi hingga 50–70 persen setiap bulan. Dalam satu tahun, selisih penghematan ini bisa mencapai jutaan rupiah dan menjadi salah satu alasan utama peralihan ke EV.

Biaya Listrik Mobil EV vs Biaya Perawatan

Selain biaya cas, pemilik mobil listrik juga diuntungkan dari sisi perawatan. Mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter bensin, atau komponen pembakaran lainnya. Hal ini membuat total biaya kepemilikan mobil listrik semakin rendah jika dihitung secara jangka panjang.

Jika digabung antara biaya cas dan perawatan, mobil listrik tetap unggul secara ekonomi dibanding mobil bensin, terutama untuk penggunaan harian di kota.

Faktor yang Bisa Membuat Biaya Cas Lebih Murah

Biaya cas mobil listrik bisa ditekan lebih rendah dengan kebiasaan penggunaan yang tepat. Mengisi daya di malam hari, menjaga baterai tidak selalu kosong, dan menghindari penggunaan fast charging secara berlebihan dapat membantu efisiensi energi.

Selain itu, mengemudi dengan gaya halus dan menjaga kecepatan stabil juga berpengaruh pada konsumsi listrik per kilometer.

Apakah Biaya Cas Mobil Listrik Akan Naik di Masa Depan?

Banyak yang khawatir biaya listrik akan naik sehingga mengurangi keunggulan mobil listrik. Namun, hingga 2026, tarif listrik cenderung lebih stabil dibanding harga BBM yang fluktuatif. Selain itu, pemerintah masih memberikan dukungan terhadap kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi energi nasional.

Dengan demikian, biaya cas mobil listrik diperkirakan tetap kompetitif dalam jangka menengah hingga panjang.

Mobil Listrik Cocok untuk Siapa dari Sisi Biaya?

Mobil listrik paling cocok untuk pengguna dengan rutinitas harian yang teratur, jarak tempuh dapat diprediksi, dan akses listrik rumah memadai. Untuk segmen ini, biaya cas mobil listrik per bulan sangat menguntungkan dan mudah dikontrol.

Bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh setiap hari, biaya tetap lebih hemat dari bensin, meski perlu perencanaan charging yang lebih matang.

Kesimpulan: Biaya Cas Mobil Listrik Terbukti Lebih Hemat

Biaya cas mobil listrik per bulan di Indonesia tahun 2026 terbukti jauh lebih hemat dibanding biaya bensin mobil konvensional. Dengan pengeluaran rata-rata ratusan ribu rupiah per bulan, mobil listrik menawarkan efisiensi tinggi tanpa mengorbankan kenyamanan.

Bagi masyarakat yang ingin menekan pengeluaran transportasi jangka panjang, mobil listrik bukan hanya pilihan ramah lingkungan, tetapi juga keputusan finansial yang cerdas.(doo)

Pos terkait