OPINI: Riba Seribu, Halal?

0
opini
Penulis.

JAMBISERU.COM – Coba anda tebak mengapa kami mengangkat tema seperi judul diatas ? Alasan kami mengangkat judul artikel “RIBA SERIBU, HALAL???” karena maraknya kasus Riba yang mengambil hak orang lain telah merajalela, tanpa memikirkan syariat islam yang perlu di implementasikan.

BACA JUGA: Diduga Korban Begal, Tukang Ojek di Merangin Ditemukan Tewas di Kebun

Maksudnya syariat islam di sini adalah jalan yang di lalui manusia untuk menuju atau mencari Ridho Allah SWT., tetapi di dalam syariat Islam itu sendiri perintah Riba untuk di jauhkan dari aktivitas keseharian kita bukan malah mendekatkan diri kepada riba. Dengan melakukan riba si debt kolektor akan meminta tambahan modal lebih kepada si peminjam sehingga debt kolektor juga memiliki modal awal yang dikembalikan akan bertambah lebih.

Membahas tentang riba ini tak lepas oleh masalah keuangan dan perbankan yang aktivitasnya juga simpan meminjam atau masuk dan keluarnya rupiah. Kita tahu bahwa kegiatan riba yang menyebar di seluruh penjuru dunia makin luas dan berkembang pesat tanpa mengenal Negara yang pendapatannya rendah ataupun tinggi. Hanya sebagian kecil saja mengenal Riba itu adalah kegiatan yang keji bahkan dapat merusak etika dan moral diri sendiri dan hal itu kaitannya dengan iblis yang mencoba menghancurkan strategi dalam mencari Ridho Illahi. Sang pencipta isi dunia ini sangat mengharamkannya. Bukan hanya merusak etika dan moral saja tetapi juga dapat menghambat kesejahteraan perekonomian masyarakat, hasilnya pun akan membuat si miskin makin miskin, si kaya tambah kaya.

Oleh karena itu sebelum kami membahas tentang Pengambilan hak orang lain dengan cara riba ini, saya akan mengenalkan dan menjelaskan pengertian tentang riba yang mencangkup lebih luas. Adapun pengertian Riba adalah: Secara Etimologi berarti Tumbuh, menyuburkan, berkembang dan menjadi lebih besar. Sedangkan secara Terminologi Riba adalah Melebihi keuntungan sebuah harta seseorang dari salah satu pihak terhadap pihak lain dalam akad jual beli atau barang yang ditukar sejenis tanpa memberi imbalan terhadap kelebihan tersebut.

Menurut Dr.Moh.Yusuf Musa ,Guru Besar pada Universitas kairo Mesir berkata bahwa riba menurut bahasa adalah tambahan inilah arti yang dikenal oleh orang Arab.Akan tetapi fiqih dan syariat suadah mengambil arti yang tertentu ,yang sudah barang tentu memperhatikan pula arti menurut bahasa ini. Sedangkan Menurut (Macmud,2017). Riba memiliki beberapa pengertian. Dari segi bahasa riba memiliki pengetian : Bertambah (Azziyaadah), Berkembang dan berbunga (Annaamu), Berlebihan dan mengelembung, Naik dan tinggi, dan Lebih banyak jumlah hartanya. Allah swt berfirman dalam ayat    Al-Quran yang menjadi dasar diharamkannya riba:

“…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (Q.S Al-Baqarah[2]:275.

Ada dua jenis Riba, yaitu: (1). Riba An-Nasi’ah Istilah dari nasi’ah berasal dari akar kata nasa’a yang artinya menunda, menangguhan atau menunggu dan merujuk pada waktu yang di berikan kepada peminjam untuk membayar kembali pinjamannya atau imbalan yang berupa “tambahan” ataupun “premium”. Jadi riba an-nasi’ah sama dengan bunga yang di kenakan atas pinjaman. haramnya riba an-nasi’ah pada dasarnya mengakibatkan bahwa penetapan di muka tingkat keuntungan positif atas pinjaman sebagai imbalan karena waktu menunggu tidak di perbolehkan oleh syari’ah. Dan pastinya, tidak ada bedanya apakah tingkat pegambilan tersebut kecil ataupun besar. Presentasi tetap atau variable atas pokok pinjaman atau jumlah absolut yang harus dapat dibayarkan di muka ataupun di waktu jatuh tempo. (2). Riba Al-Fadhl adalah berlebihannya sebuah pinjaman yang di bayar dalam segala jenis., berbentuk pembayaran tambahan oleh si peminjam kepada debt kolektor dalam bentuk penukaran barang yang jenisnya sama, misalnya kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, anggur dengan anggur dan lain sebagainya. Tujuan mengharamkan riba al-fadhl dimaksudkan untuk memastikan sebuah keadilan, menghilangkan semua bentuk pemanfaatan melalui pertukaran yang tidak adil. Iniah yang di sebut fadhl yang besar kemungkinan membawa kepda riba nas’ah. Mencegah terjadinya riba dan kasus riba Terkadang yang menurut manusia ialah suatu kenikmatan tetapi murka di mata sang pencipta kehidupan. Salah satunya adalah riba. Menjauhi riba banyak berbagai strategi dan cara, yakni :

(1). Sama nilainya (tamasul) (2). Sama ukurannya menurut syara’, baik berupa timbangannya, ukurannya, takarannya maupun takarannya. (3). Dan sama-sama tunai (taqabuth) di majelis akad.

Perbedaan riba dengan  jual beli dalam jual beli ada ‘iwadh (ganti) sebagai pembayaran dari ‘iwadh yang lain. Sementara riba adalah tambahan (bunga) dan tidak ada gantinya . dalam  jual beli sipembeli selalu bisa memanfaatkan barang yang dibelinya dengan satu pemanfaattan yang hakiki. Dampak riba pada ekonomi. Banyak ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa penyebab utama krisis ekonomi adalah bunga yang dibayar sebagai pijaman modal, atau dengan kata lain adalah riba. Riba juga dapat memicu overproduksi, riba dapat membuat daya beli sebagian besar masyarakat melemah sehingga persediaan barang dan jasa semakin tertimbun. Akibatnya perusahaan macet dan berujung pada pengangguran.Contoh kasus-kasus riba, Seseorang menukarkan langsung uang kertasnya Rp20.000,00 dengan uang recehan Rp 19.950,00 uang, Rp 50,00 tidak ada imbangannya atau sama dengan tidak tamasul, maka uang yang hanya Rp 50,00 adalah riba. Dari kasus diatas kita dapat mengambil hikmah bahwasannya riba membawa banyak dampak buruk bagi kita dan lingkungan disekitar kita. Lalu riba sendiri jelas sekali dilarang oleh Allah didalam ayat-ayat alquran dan juga hadist, riba bertentangan dengan syariat islam. Nah, jadi kita yang memilih mau mendapatkan keuntungan besar dengan cara instan seperti riba atau mencari berkah dalam pekerjaan tanpa tergoda keuntungan yang dihasilkan dari riba demi meraih ridho-Nya. (*)

BACA JUGA: Masuk Akhir Pekan, IHSG Diprediksi Melaju Zona Hijau

Artikel ini Ditulis oleh : Afifah Nurul Fadhilah, Arsyi Zahwa, Anniza Oktrizal, Muhammad Andrean Septiawan, Fauziah Rahmatul Hilda- Mahasiswa/i Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi

Loading Facebook Comments ...