JAMBI, Jambiseru.com – Menonton Yu Yu Hakusho 2023 memberikan kesan yang cukup menarik, terutama bagi penonton yang menyukai serial aksi Jepang dengan perpaduan dunia manusia, dunia arwah, yokai, kekuatan supernatural, dan pertarungan jarak dekat. Serial live-action produksi Netflix ini mengambil cerita dari manga legendaris karya Yoshihiro Togashi dan menghadirkan Takumi Kitamura sebagai Yusuke Urameshi, Jun Shison sebagai Kurama, Kanata Hongo sebagai Hiei, serta Shuhei Uesugi sebagai Kazuma Kuwabara.
Bagi saya, Yu Yu Hakusho 2023 bukan sekadar serial tentang manusia yang bertarung melawan makhluk supernatural. Ada perjalanan seorang anak muda yang awalnya dikenal sebagai berandalan, kemudian mengalami kematian, mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup, dan akhirnya harus menjalankan tugas sebagai Detektif Dunia Arwah.
Konsep tersebut sudah cukup kuat untuk membuat penasaran.
Yang membuatnya semakin menarik adalah bagaimana serial ini menerjemahkan dunia manga ke dalam bentuk live-action. Tantangannya tentu tidak kecil. Manga dan anime memiliki kebebasan visual yang sangat luas, sementara live-action harus membuat karakter, monster, kekuatan, dan pertarungan terlihat meyakinkan di dunia nyata.
Namun, setelah menonton lima episode yang menjadi musim pertamanya, saya merasa serial ini berhasil memberikan tontonan aksi yang cukup menghibur. Netflix memang mengemasnya sebagai serial Jepang bergenre laga, petualangan, fantasi, dan adaptasi manga.
Yu Yu Hakusho 2023 Menghidupkan Cerita Legendaris
Sebelum membahas serialnya, menarik untuk melihat seberapa besar nama Yu Yu Hakusho dalam sejarah manga Jepang.
Manga karya Yoshihiro Togashi tersebut pertama kali diserialkan di Weekly Shonen Jump pada 1990 dan berakhir pada 1994. Ceritanya kemudian diadaptasi menjadi anime yang tayang pada 1992 hingga 1994. Netflix menyebut manga tersebut telah beredar lebih dari 78 juta kopi di seluruh dunia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Yu Yu Hakusho bukan karya kecil yang baru dikenal ketika versi live-action muncul.
Sebaliknya, serial Netflix ini membawa beban ekspektasi dari penggemar lama yang sudah mengenal Yusuke, Kuwabara, Kurama, Hiei, Genkai, Toguro, dan berbagai karakter lainnya melalui manga maupun anime.
Karena itu, saya bisa memahami mengapa adaptasi live-action seperti ini selalu menjadi bahan perdebatan.
Penonton lama tentu memiliki gambaran sendiri mengenai karakter favorit mereka. Sementara penonton baru akan menilai serial ini berdasarkan apa yang mereka lihat di layar tanpa terlalu banyak membandingkannya dengan sumber asli.
Cerita Yusuke Urameshi
Cerita dimulai dari Yusuke Urameshi, seorang remaja bermasalah yang kehidupannya tidak jauh dari perkelahian.
Yusuke bukan tipe karakter utama yang langsung terlihat seperti pahlawan. Ia justru digambarkan sebagai anak nakal yang sering membuat masalah.
Namun, kehidupannya berubah ketika ia meninggal setelah melakukan tindakan heroik untuk menyelamatkan seorang anak.
Kematian tersebut kemudian membuka pintu menuju dunia arwah.
Botan menjadi salah satu sosok yang memperkenalkan Yusuke pada dunia tersebut. Ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk kembali hidup setelah menjalani sebuah proses tertentu dan menerima tugas sebagai Detektif Dunia Arwah.
Menurut saya, bagian ini menjadi fondasi penting cerita.
Yusuke tidak menjadi pahlawan karena sejak awal bercita-cita menyelamatkan dunia. Ia justru mendapatkan kesempatan kedua dan perlahan memahami bahwa dirinya memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.
Perubahan tersebut membuat perjalanan karakternya terasa menarik.
Takumi Kitamura sebagai Yusuke
Takumi Kitamura menjadi pemeran utama sebagai Yusuke Urameshi.
Bagi saya, Kitamura cukup berhasil membawa karakter Yusuke dengan energi yang sesuai untuk sebuah serial aksi. Ia mampu menampilkan sisi keras kepala, emosional, berani, sekaligus sisi lembut yang sebenarnya sudah ada dalam diri Yusuke.
Netflix sendiri menggambarkan Yusuke sebagai remaja bermasalah yang kemudian dipilih menjadi Detektif Dunia Arwah setelah kematiannya.
Yang menarik adalah perkembangan Yusuke.
Pada awal cerita, kita melihat seorang anak muda yang tidak terlalu peduli dengan banyak hal. Setelah kematian dan kebangkitannya kembali, ia mulai memahami nilai kehidupan.
Kekuatan Yusuke kemudian berkembang seiring dengan perjalanan cerita.
Di sinilah kemampuan akting Kitamura cukup diuji karena karakter tersebut tidak hanya membutuhkan adegan pertarungan, tetapi juga harus membawa emosi dari seorang remaja yang mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup.
Kurama yang Diperankan Jun Shison
Kurama adalah salah satu karakter yang sejak lama memiliki banyak penggemar.
Dalam versi live-action, Kurama diperankan oleh Jun Shison.
Karakter Kurama mempunyai daya tarik tersendiri karena tidak mengandalkan kekuatan fisik semata. Ia lebih tenang, cerdas, dan mempunyai kemampuan berpikir strategis.
Menurut saya, kehadiran Kurama memberikan keseimbangan terhadap karakter Yusuke.
Kalau Yusuke cenderung spontan dan berani mengambil risiko, Kurama lebih tenang dalam membaca keadaan.
Jun Shison juga berhasil memberikan aura misterius pada karakter tersebut.
Ia tidak perlu terlalu banyak bergerak untuk menunjukkan bahwa Kurama mempunyai kemampuan yang berbeda.
Kanata Hongo sebagai Hiei
Hiei yang diperankan Kanata Hongo menjadi salah satu karakter yang paling menarik perhatian saya.
Hiei adalah sosok yang dingin, tajam, dan tidak mudah mempercayai orang lain.
Karakter seperti ini sebenarnya cukup sulit dimainkan dalam live-action karena ekspresi dan gerakan harus mampu menyampaikan sifatnya tanpa terlihat berlebihan.
Kanata Hongo mampu memberikan kesan tersebut.
Netflix juga mencantumkan Hongo sebagai Hiei dalam jajaran pemeran utama, bersama Takumi Kitamura, Jun Shison, dan Shuhei Uesugi.
Bagi saya, Hiei menjadi salah satu alasan mengapa adegan pertarungan serial terasa semakin menarik.
Ia memiliki gaya bertarung yang berbeda dari Yusuke dan karakter lainnya.
Shuhei Uesugi sebagai Kuwabara
Kazuma Kuwabara yang diperankan Shuhei Uesugi memberikan warna yang berbeda.
Kuwabara memiliki sisi emosional dan komedi yang cukup kuat. Ia tidak selalu terlihat sebagai karakter paling hebat dalam kelompok, tetapi justru memiliki keberanian dan loyalitas yang membuatnya penting.
Hubungannya dengan Yusuke juga menjadi salah satu elemen menarik.
Keduanya tidak selalu akur, tetapi ketika berada dalam situasi berbahaya, Kuwabara tetap menunjukkan bahwa ia peduli kepada orang-orang di sekitarnya.
Menurut saya, karakter seperti Kuwabara penting karena membuat kelompok utama tidak terasa terlalu serius.
Ada ruang untuk humor dan interaksi yang lebih ringan di antara berbagai pertarungan.
Aksi Menjadi Kekuatan Utama
Kalau berbicara mengenai kesan menonton Yu Yu Hakusho 2023, saya tidak bisa mengabaikan adegan aksinya.
Serial ini memang sangat mengandalkan pertarungan.
Dari pertarungan tangan kosong hingga bentrokan dengan yokai, aksi menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita.
Netflix bahkan menyebut penggunaan teknologi visual efek modern dan tim Scanline VFX untuk menghidupkan karakter manusia maupun yokai. Tim tersebut juga mengerjakan adegan pertarungan agar terasa realistis dalam format live-action. Hasilnya cukup menarik.
Beberapa pertarungan terasa memiliki energi yang kuat. Gerakan karakter juga dibuat cukup cepat sehingga serial tidak terasa seperti drama fantasi biasa.
Yang paling saya suka adalah setiap karakter mempunyai gaya bertarung yang berbeda.
Yusuke mengandalkan kekuatan dan keberanian.
Hiei lebih cepat dan agresif.
Kurama menggunakan kecerdikan serta kekuatan supernatural.
Kuwabara mempunyai gaya yang lebih langsung.
Perbedaan tersebut membuat pertarungan lebih mudah dinikmati.
Efek Visual yang Mendukung Dunia Supernatural
Adaptasi manga supernatural tentu memiliki tantangan besar dalam urusan efek visual.
Yokai harus terlihat meyakinkan. Kekuatan supernatural harus terasa nyata. Dunia manusia dan dunia arwah juga harus memiliki karakter visual yang berbeda.
Menurut Netflix, produksi serial ini melibatkan tim global Jepang-Amerika dan membutuhkan waktu lima tahun untuk diselesaikan. Teknologi CG dan VFX digunakan untuk membantu menghadirkan dunia Yu Yu Hakusho dalam format live-action.
Menurut saya, usaha tersebut cukup terlihat.
Memang tidak semua efek akan terasa sempurna bagi setiap penonton. Namun secara keseluruhan, efek visual membantu serial mempertahankan identitas fantasinya.
Toguro Menjadi Ancaman Besar
Salah satu sosok yang membuat cerita semakin menarik adalah Toguro Muda yang diperankan Go Ayano.
Karakter ini memberikan ancaman fisik yang berbeda dibandingkan musuh-musuh sebelumnya.
Go Ayano mempunyai penampilan dan pembawaan yang cocok untuk menghadirkan karakter antagonis yang terasa kuat.
Kehadiran Toguro membuat perjalanan Yusuke dan kawan-kawan semakin berbahaya.
Netflix sendiri memperkenalkan Go Ayano sebagai Younger Toguro, salah satu musuh terkuat yang menghadang kelompok Yusuke.
Saya merasa bagian ini menjadi salah satu titik yang membuat serial semakin menarik.
Yusuke tidak lagi sekadar menghadapi masalah kecil. Ia mulai berhadapan dengan lawan yang memaksanya memahami batas kemampuan sendiri.
Genkai dan Dunia Latihan
Meiko Kaji tampil sebagai Genkai, mentor Yusuke dan Kuwabara.
Karakter Genkai memiliki fungsi penting karena Yusuke membutuhkan seseorang yang dapat membimbingnya mengendalikan kekuatan.
Bagi saya, kehadiran Genkai membuat perkembangan Yusuke terasa lebih masuk akal.
Ia tidak tiba-tiba menjadi petarung hebat.
Ada proses pembelajaran, latihan, dan pemahaman mengenai kekuatan yang harus dilalui.
Ini merupakan salah satu aspek penting dalam cerita pahlawan super atau fantasi aksi.
Kekuatan yang besar harus memiliki konsekuensi.
Dan karakter seperti Genkai membantu Yusuke memahami hal tersebut.
Hubungan Yusuke dan Keiko
Di balik semua pertarungan, serial ini juga menyimpan sisi emosional melalui hubungan Yusuke dengan Keiko Yukimura.
Sei Shiraishi memerankan Keiko, teman Yusuke sejak kecil.
Keiko menjadi salah satu alasan Yusuke tetap memiliki hubungan kuat dengan dunia manusia.
Kehadiran karakter tersebut membantu penonton memahami bahwa meskipun Yusuke sudah mendapatkan kekuatan supernatural, ia tetap memiliki kehidupan dan hubungan manusia yang ingin dijaga.
Menurut saya, unsur seperti ini membuat cerita tidak sepenuhnya berubah menjadi pertarungan tanpa emosi.
Lima Episode yang Padat
Salah satu hal yang cukup terasa ketika menonton serial ini adalah kecepatannya.
Musim pertama hanya terdiri dari lima episode. Netflix mengonfirmasi bahwa musim pertama memang berjumlah lima episode.
Dengan jumlah episode yang sedikit, cerita harus bergerak cepat.
Bagi sebagian penonton, ini merupakan kelebihan karena serial tidak bertele-tele.
Namun bagi penggemar manga atau anime, kecepatan tersebut juga dapat menjadi kekurangan.
Ada banyak materi sumber yang harus dipadatkan.
Rotten Tomatoes mencatat salah satu ulasan yang menilai serial ini berhasil menjadi tontonan yang penuh warna dan memuaskan, tetapi juga mencatat bahwa adaptasinya melewatkan sejumlah hal dari manga.
Menurut saya, persoalan tersebut memang terasa.
Beberapa karakter dan konflik seperti memiliki ruang yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.
Rekam Jejak dan Penerimaan
Dari sisi rekam jejak, Yu Yu Hakusho 2023 mendapatkan respons yang cukup positif.
Rotten Tomatoes mencatat skor kritikus sebesar 83 persen dari 12 ulasan dan skor penonton sebesar 82 persen dari lebih dari 500 rating.
Di IMDb, serial ini tercatat mendapatkan rating 7,2/10 dari sekitar 10 ribu penilaian ketika data tersebut diakses.
Angka tersebut menunjukkan bahwa adaptasi live-action ini cukup berhasil mendapatkan penerimaan, meskipun bukan berarti seluruh penggemar sumber aslinya merasa puas.
Salah satu hal yang banyak mendapatkan perhatian adalah kualitas adegan aksi.
Serial ini juga dinilai memiliki pemeran yang kuat dan visual yang cukup menarik. Rotten Tomatoes mencatat beberapa ulasan yang memuji cast serta action scene yang menjadi salah satu kekuatan utama serial.
Rekam Jejak Para Pemeran
Takumi Kitamura sudah dikenal melalui berbagai proyek Jepang sebelum menjadi Yusuke. Netflix sendiri mencantumkan beberapa karyanya seperti Let Me Eat Your Pancreas dan Tokyo Revengers ketika memperkenalkannya sebagai pemeran utama.
Jun Shison juga memiliki pengalaman dalam film dan serial Jepang. Ia dikenal melalui berbagai proyek seperti Battle of Supreme High dan Bubble, sebelum tampil sebagai Kurama.
Kanata Hongo juga bukan wajah baru dalam proyek fantasi dan action. Ia pernah tampil dalam Kingdom dan Attack on Titan, sehingga pengalaman tersebut cukup relevan ketika memainkan Hiei.
Shuhei Uesugi kemudian mengisi karakter Kuwabara dan menjadi bagian penting dari kelompok utama.
Sementara itu, Go Ayano memberikan energi berbeda sebagai Younger Toguro.
Meiko Kaji juga menjadi salah satu nama senior yang menarik perhatian. Ia dikenal luas dalam perfilman Jepang dan memiliki pengalaman panjang sebelum memerankan Genkai.
Apa yang Paling Saya Sukai?
Setelah menonton, bagian yang paling saya sukai adalah chemistry kelompok utama.
Yusuke, Kuwabara, Kurama, dan Hiei mempunyai karakter yang berbeda.
Mereka tidak langsung menjadi kelompok yang sangat kompak.
Ada ketegangan dan perbedaan sikap.
Namun, justru dari situlah hubungan mereka berkembang.
Saya juga menyukai bagaimana serial menempatkan aksi sebagai bagian dari perkembangan karakter.
Pertarungan tidak hanya dilakukan untuk memperlihatkan siapa yang lebih kuat.
Ada momen ketika Yusuke harus berani mengambil keputusan.
Ada saat ketika Kuwabara menunjukkan keberanian.
Kurama menggunakan kecerdasannya.
Hiei memperlihatkan kemampuan bertarung yang luar biasa.
Setiap karakter mempunyai fungsi.
Kekurangan yang Saya Rasakan
Kekurangan terbesar bagi saya adalah cerita terasa terlalu padat.
Lima episode memang membuat serial mudah diselesaikan, tetapi sekaligus membatasi ruang untuk mengembangkan beberapa karakter.
Bagi penonton baru, mungkin tidak terlalu menjadi masalah.
Namun bagi penggemar manga atau anime, pemadatan cerita bisa terasa cukup signifikan.
Beberapa hubungan juga sebenarnya bisa dibangun lebih dalam.
Saya membayangkan jika serial mempunyai lebih banyak episode, perjalanan Yusuke dari seorang remaja bermasalah menjadi Detektif Dunia Arwah dapat terasa lebih emosional.
Namun keputusan membuat lima episode mungkin memang sengaja dilakukan agar cerita lebih fokus dan tidak terlalu panjang.
Apakah Layak Ditonton?
Menurut saya, Yu Yu Hakusho 2023 layak ditonton, terutama bagi penggemar serial aksi Jepang dan cerita supernatural.
Penonton yang belum pernah membaca manga atau menonton anime juga masih bisa menikmati cerita utamanya.
Namun saya menyarankan penonton tidak terlalu sibuk membandingkan setiap detail dengan sumber asli.
Nikmati serial ini sebagai interpretasi live-action.
Kalau datang dengan ekspektasi bahwa semua detail manga harus dipindahkan ke layar, kemungkinan akan ada beberapa bagian yang terasa kurang.
Tetapi jika yang dicari adalah aksi, fantasi, karakter menarik, dan dunia supernatural, serial ini cukup memuaskan.
Kesan Akhir Setelah Menonton
Setelah menyelesaikan Yu Yu Hakusho 2023, kesan saya cukup positif.
Serial ini berhasil menghadirkan dunia supernatural dengan gaya live-action yang cukup meyakinkan. Adegan aksinya menjadi salah satu kekuatan utama, sementara pemeran seperti Takumi Kitamura, Jun Shison, Kanata Hongo, dan Shuhei Uesugi mampu memberikan karakter yang berbeda satu sama lain.
Saya juga menikmati perjalanan Yusuke.
Ia bukan pahlawan sempurna.
Ia adalah anak muda yang mempunyai banyak kekurangan tetapi perlahan menemukan alasan untuk menjadi lebih baik.
Kematian justru menjadi titik balik kehidupannya.
Setelah mendapatkan kesempatan kedua, Yusuke mulai memahami bahwa kekuatan bukan hanya tentang memenangkan pertarungan.
Kekuatan juga berarti memiliki keberanian untuk melindungi orang lain.
Di situlah nilai emosional serial ini terasa.
Dari sisi aksi, saya puas. Dari sisi visual, cukup menarik. Dari sisi karakter, beberapa terasa kuat meskipun ada yang masih bisa dikembangkan lebih jauh.
Kekurangan utama memang berada pada durasi dan kepadatan cerita.
Lima episode terasa terlalu singkat untuk dunia sebesar Yu Yu Hakusho.
Namun justru karena ceritanya bergerak cepat, serial ini tidak memberi banyak ruang untuk terasa membosankan.
Setiap episode membawa konflik baru.
Setiap pertarungan mempunyai tujuan.
Dan setiap karakter utama mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuannya.
Pada akhirnya, Yu Yu Hakusho 2023 merupakan salah satu adaptasi live-action manga yang menurut saya cukup berhasil menghadirkan energi sumber aslinya dalam bentuk berbeda.
Serial ini mungkin tidak sempurna dan tidak akan memuaskan semua penggemar lama, tetapi kualitas aksi, visual, serta penampilan para pemerannya membuatnya tetap menarik untuk ditonton.
Bagi saya, daya tarik terbesar serial ini ada pada perpaduan antara nostalgia dan aksi modern.
Kita mendapatkan karakter-karakter klasik seperti Yusuke, Kuwabara, Kurama, Hiei, Genkai, dan Toguro dalam bentuk manusia nyata. Pada saat yang sama, teknologi visual modern membantu menghadirkan kekuatan dan dunia yokai yang sebelumnya hanya hidup dalam gambar manga atau animasi.
Itulah yang membuat pengalaman menonton terasa berbeda.
Yu Yu Hakusho 2023 bukan sekadar cerita tentang seorang remaja yang mendapatkan kekuatan supernatural. Ini adalah cerita tentang kesempatan kedua, persahabatan, keberanian, pengorbanan, dan perjalanan seseorang menemukan alasan untuk menggunakan kekuatannya demi orang lain.
Kalau Anda mencari serial Jepang dengan aksi intens, pertarungan supernatural, karakter kuat, dan cerita yang bergerak cepat, Yu Yu Hakusho 2023 layak dimasukkan ke dalam daftar tontonan.
Kesan akhir saya sederhana: aksi kuat, karakter menarik, visual cukup meyakinkan, dan adaptasinya berhasil memberikan pengalaman baru untuk cerita klasik Yoshihiro Togashi, meskipun ceritanya terasa terlalu padat karena hanya memiliki lima episode. (gie/berbagai sumber)











