JAMBI, Jambiseru.com – Menonton The Killer’s Game memberikan pengalaman yang cukup berbeda dari film pembunuh bayaran pada umumnya. Film yang dibintangi Dave Bautista ini memang membawa banyak unsur yang sudah akrab dalam genre action, seperti pembunuh profesional, senjata api, pertarungan jarak dekat, pengejaran, ledakan, dan kelompok pembunuh yang datang silih berganti.
Namun, sutradara J.J. Perry mencoba membuat semuanya terasa lebih ringan dengan memasukkan komedi, romansa, dan situasi absurd ke dalam cerita. Film ini dirilis pada 2024 dengan durasi sekitar 1 jam 44 menit dan masuk dalam genre action-comedy.
Dari awal menonton, saya langsung mendapatkan kesan bahwa The Killer’s Game memang tidak ingin menjadi film action yang terlalu serius. Ceritanya sengaja dibuat berlebihan, karakter-karakternya dibuat eksentrik, sementara adegan kekerasannya tampil cukup brutal. Di tengah semua itu, Dave Bautista menjadi pusat perhatian sebagai Joe Flood, seorang pembunuh bayaran elite yang tiba-tiba menghadapi persoalan terbesar dalam hidupnya.
Premisnya sederhana tetapi cukup menarik. Joe Flood mendapatkan diagnosis penyakit mematikan dan mengira hidupnya tidak akan berlangsung lama. Karena tidak ingin menunggu kematian datang dengan sendirinya, ia memutuskan mengambil langkah ekstrem dengan memesan pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika diagnosis tersebut ternyata keliru, sementara kontrak pembunuhan sudah berjalan dan para pembunuh bayaran mulai mengejarnya.
Situasi semakin rumit karena mantan kekasih Joe, Maize, yang diperankan Sofia Boutella, ikut berada dalam bahaya. Joe akhirnya bukan hanya harus menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha melindungi perempuan yang masih ia cintai.
Dari sinilah kekacauan dimulai.
Cerita The Killer’s Game yang Tidak Biasa
Hal pertama yang membuat saya tertarik adalah premisnya. Biasanya seorang pembunuh bayaran akan berusaha menghindari orang yang ingin membunuhnya. Namun dalam film ini, Joe justru menjadi orang yang memesan kontrak pembunuhan atas dirinya sendiri.
Keputusan tersebut sebenarnya terdengar gila.
Namun, justru kegilaan itulah yang menjadi sumber hiburan utama film. Setelah mengetahui bahwa dirinya ternyata tidak menderita penyakit mematikan seperti yang diperkirakan, Joe berusaha membatalkan kontrak. Sayangnya, para pembunuh yang sudah menerima pekerjaan tidak begitu saja menghentikan misi mereka.
Akhirnya Joe harus menghadapi orang-orang yang sebenarnya tidak perlu ia lawan jika sejak awal tidak memesan pembunuhan tersebut.
Menurut saya, konsep seperti ini membuat The Killer’s Game mempunyai identitas sendiri meskipun tetap terasa dipengaruhi berbagai film action modern.
Penonton tidak perlu terlalu serius memikirkan logika setiap kejadian. Film ini lebih cocok dinikmati sebagai tontonan hiburan yang menawarkan aksi berlebihan dengan karakter utama yang terus berada dalam masalah.
Dave Bautista sebagai Joe Flood
Kesan menonton film ini tentu sangat dipengaruhi oleh penampilan Dave Bautista.
Bautista memang mempunyai bentuk fisik yang sangat cocok untuk karakter seperti Joe Flood. Tubuhnya besar, wajahnya terlihat serius, dan gerakannya memberikan kesan bahwa ia mampu menghajar beberapa orang sekaligus.
Namun, daya tarik Bautista dalam film ini bukan hanya soal fisik.
Ia juga harus memainkan sisi romantis dan komedi dari Joe. Inilah yang membuat karakternya sedikit berbeda. Joe bukan sekadar pembunuh bayaran yang dingin. Ia mempunyai sisi emosional, terutama ketika berhubungan dengan Maize.
RogerEbert.com juga menyoroti kemampuan Bautista sebagai aktor yang tidak hanya meyakinkan dalam peran action, tetapi memiliki kemampuan komedi dan sisi dramatis yang membuatnya menarik untuk ditonton.
Menurut saya, kemampuan tersebut cukup terlihat dalam The Killer’s Game.
Ada adegan ketika Joe harus terlihat sebagai pembunuh profesional, tetapi beberapa saat kemudian ia harus berhadapan dengan persoalan cinta. Perubahan tersebut memberikan variasi terhadap karakter.
Bautista memang bukan aktor yang selalu membutuhkan dialog panjang untuk menarik perhatian. Postur tubuh dan ekspresi wajahnya sudah cukup memberikan karakter kuat.
Sofia Boutella sebagai Maize
Sofia Boutella memerankan Maize Arnaud, perempuan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan Joe Flood.
Maize bukan hanya pasangan romantis dalam cerita. Keberadaannya menjadi salah satu alasan mengapa Joe berusaha bertahan hidup.
Hubungan Joe dan Maize memberikan sisi emosional yang cukup penting. Di tengah cerita yang penuh tembakan dan pertarungan, penonton masih diberikan alasan mengapa karakter utama terus berjuang.
Saya menyukai bagian ini karena membuat film tidak sepenuhnya menjadi parade aksi.
Maize juga mempunyai karakter yang tidak terlalu pasif. Sofia Boutella mampu memberikan energi yang cukup kuat sehingga interaksinya dengan Bautista terasa lebih hidup.
Keduanya memiliki perbedaan karakter yang menarik. Joe terlihat besar, tenang, dan penuh pengalaman, sedangkan Maize memberikan energi yang berbeda.
Terry Crews Membawa Kekacauan
Terry Crews tampil sebagai Creighton Lovedahl, salah satu karakter yang memberikan warna komedi dalam film.
Kehadirannya membuat suasana menjadi semakin absurd. Terry Crews memang memiliki kemampuan komedi yang sudah dikenal luas, sehingga ketika ditempatkan dalam film action seperti ini, ekspresinya dapat menjadi bagian dari hiburan tersendiri.
Karakter Creighton juga memperlihatkan bahwa para pembunuh yang mengejar Joe tidak semuanya harus tampil sebagai sosok serius dan menakutkan.
Ada yang dibuat eksentrik, ada yang brutal, dan ada pula yang terasa seperti karakter dari film komedi.
Perpaduan tersebut membuat film memiliki gaya yang cukup unik.
Scott Adkins Menjadi Salah Satu Daya Tarik
Bagi penggemar film bela diri, nama Scott Adkins tentu menjadi salah satu alasan menarik untuk menonton The Killer’s Game.
Scott Adkins memerankan Angus Mackenzie, salah satu pembunuh yang terlibat dalam perburuan terhadap Joe. Karakter Angus memiliki kemampuan bela diri dan menjadi bagian dari kelompok yang mengejar tokoh utama.
Saya cukup menikmati kehadiran Adkins karena penonton tentu berharap mendapatkan aksi pertarungan yang lebih intens ketika aktor dengan latar belakang bela diri seperti dirinya tampil.
Sayangnya, salah satu catatan yang muncul dari informasi mengenai film ini adalah porsi Scott Adkins yang relatif terbatas dibandingkan ekspektasi sebagian penggemarnya.
Meski demikian, kehadirannya tetap memberikan nilai tambah, terutama bagi penonton yang menyukai film action dan martial arts.
Ben Kingsley Menambah Kelas pada Film
Ben Kingsley juga tampil sebagai Zvi Rabinowitz.
Kehadiran aktor senior seperti Kingsley membuat jajaran pemeran film ini semakin menarik. Ia memiliki pengalaman panjang dalam berbagai genre dan mampu membawa karakter dengan gaya yang berbeda.
Dalam film yang penuh aksi dan humor seperti The Killer’s Game, keberadaan Kingsley memberikan variasi tersendiri.
Daftar pemerannya juga mencakup Pom Klementieff sebagai Antoinette, Marko Zaror sebagai Emilio “El Botas”, Lucy Cork sebagai Ginni, serta Alex Kingston sebagai Sharon Rabinowitz.
Aksi Menjadi Menu Utama
Kalau ada satu hal yang paling ditawarkan The Killer’s Game, jawabannya tentu adalah aksi.
Film ini tidak pelit memberikan pertarungan. Ada tembak-menembak, kejar-kejaran, pertarungan tangan kosong, senjata tajam, ledakan, dan berbagai aksi yang dibuat cukup berlebihan.
J.J. Perry sendiri mempunyai latar belakang sebagai stunt performer dan stunt coordinator, sehingga tidak mengherankan jika koreografi menjadi salah satu bagian yang mendapatkan perhatian besar. Film ini memang terasa seperti dibuat oleh orang yang sangat memahami bagaimana menyusun adegan action.
Saya menikmati bagian tersebut karena setiap kali cerita mulai terasa terlalu serius, film kembali menawarkan sebuah adegan aksi.
Ada rasa seperti menonton komik yang hidup.
Karakter-karakternya datang dengan gaya masing-masing, kemudian berhadapan dengan Joe dengan cara yang berbeda.
Kekerasannya Cukup Brutal
Namun, perlu dicatat bahwa film ini bukan tontonan keluarga.
The Killer’s Game mendapatkan rating R dan mengandung kekerasan berdarah yang cukup kuat, bahasa kasar, serta unsur dewasa. Rotten Tomatoes mencatat rating tersebut bersama keterangan mengenai strong bloody violence dan sejumlah konten dewasa.
Adegan kekerasannya memang menjadi bagian dari gaya film.
Bagi penonton yang menyukai action brutal, hal ini mungkin justru menjadi daya tarik. Tetapi bagi penonton yang tidak nyaman dengan gore, beberapa bagian bisa terasa berlebihan.
Saya sendiri melihat kekerasan dalam film ini sebagai bagian dari gaya komedi gelapnya. Banyak adegan sengaja dibuat terlalu ekstrem sehingga terasa seperti parodi terhadap film action.
Komedi Membuat Film Lebih Ringan
Saya cukup menikmati humor dalam The Killer’s Game.
Komedi membuat film tidak terasa terlalu berat meskipun cerita dipenuhi kematian dan kekerasan.
Joe berada dalam situasi yang sebenarnya sangat serius. Ia sedang diburu banyak pembunuh profesional. Namun, cara film menghadirkan beberapa karakter dan situasi membuat suasana menjadi lebih santai.
Bagi saya, formula tersebut berhasil pada beberapa bagian.
Penonton tidak perlu terus-menerus tegang. Ada ruang untuk tertawa sebelum kembali masuk ke adegan aksi.
Namun, humor seperti ini tentu sangat bergantung pada selera.
Ada penonton yang mungkin merasa lucu, tetapi ada juga yang menganggap beberapa lelucon terlalu dipaksakan.
Kisah Cinta di Tengah Perburuan
Salah satu hal yang membuat The Killer’s Game berbeda adalah adanya kisah cinta.
Joe bukan hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Maize.
Ini memberikan motivasi tambahan.
Setelah lama menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran, Joe mulai memikirkan apa yang sebenarnya ia inginkan dari hidup.
Penyakit yang ia kira mematikan membuatnya melihat kehidupan dari perspektif berbeda. Ia mulai menyadari bahwa masih ada sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Ketika diagnosis tersebut ternyata salah, masalahnya justru menjadi lebih rumit.
Para pembunuh sudah datang.
Dan Joe harus menghadapi mereka satu per satu.
Rekam Jejak dan Penerimaan Film
Dari sisi penerimaan, The Killer’s Game mendapatkan respons yang cukup beragam.
Film ini tayang di bioskop Amerika Serikat pada 13 September 2024 dan kemudian tersedia melalui streaming mulai 4 Oktober 2024. Durasi film tercatat sekitar 104 menit.
Di IMDb, film ini tercatat mendapatkan rating sekitar 5,8/10 dari lebih dari 20 ribu penilaian pengguna ketika data tersebut diakses.
Sementara itu, Metacritic mencatat skor Metascore 36 dari 100 berdasarkan 10 ulasan kritikus, dengan kategori “Generally Unfavorable”. User score di platform tersebut berada pada kategori mixed or average.
Rotten Tomatoes juga menunjukkan respons kritikus yang beragam. Ada kritikus yang menganggap film ini memiliki adegan action menarik dan penampilan Bautista yang menyenangkan, sementara sebagian lainnya menilai ceritanya terlalu generik atau berlebihan.
Menariknya, respons penonton tidak sepenuhnya negatif. Beberapa ulasan penonton di Rotten Tomatoes justru memuji aksi, humor, koreografi pertarungan, dan penampilan para pemain.
Artinya, film ini memang lebih cocok dinilai sebagai tontonan hiburan daripada film yang mengejar kedalaman cerita.
Rekam Jejak Dave Bautista
Sebelum The Killer’s Game, Dave Bautista sudah memiliki perjalanan karier yang cukup menarik dari dunia gulat profesional menuju Hollywood.
Nama Bautista semakin dikenal luas ketika ia memerankan Drax dalam rangkaian film Guardians of the Galaxy. Peran tersebut menunjukkan kemampuan komedinya sekaligus membuktikan bahwa tubuh besar tidak menjadi satu-satunya modal dalam dunia akting.
Ia kemudian tampil dalam berbagai proyek film besar, termasuk Blade Runner 2049, Dune, dan Dune: Part Two.
Peran dalam Blade Runner 2049 juga memperlihatkan bahwa Bautista mampu tampil dalam karakter yang lebih tenang dan dramatis. RogerEbert.com menyoroti perkembangan Bautista sebagai aktor yang memiliki kemampuan action, komedi, hingga drama.
Sementara dalam Dune: Part Two, ia kembali memperlihatkan kemampuan memainkan karakter dengan energi fisik yang kuat.
Karena itu, The Killer’s Game terasa seperti proyek yang kembali menempatkan Bautista di wilayah action, tetapi dengan tambahan komedi dan romansa.
Rekam Jejak Sofia Boutella
Sofia Boutella juga bukan nama baru dalam genre action.
Aktris kelahiran Aljazair ini dikenal melalui sejumlah proyek besar dan memiliki kemampuan fisik yang kuat. Ia pernah tampil dalam Kingsman: The Secret Service, Star Trek Beyond, dan The Mummy.
Kehadirannya dalam film-film action membuat perannya sebagai Maize terasa cukup cocok.
Ia mampu mengimbangi energi Bautista sehingga hubungan kedua karakter tidak terasa terlalu berat sebelah.
Rekam Jejak Scott Adkins
Scott Adkins mempunyai rekam jejak yang sangat kuat dalam film bela diri.
Ia dikenal melalui berbagai film action dan martial arts, termasuk seri Undisputed, terutama sebagai Yuri Boyka.
Karena latar belakang tersebut, kemunculannya dalam The Killer’s Game tentu memberikan ekspektasi tersendiri bagi penggemar genre pertarungan.
Meski porsinya tidak terlalu besar, kehadirannya tetap menjadi salah satu nilai jual bagi penonton yang memang mengikuti karya-karyanya.
Menurut saya, daya tarik terbesar film ini adalah keberaniannya tidak terlalu serius.
Ceritanya memang tentang pembunuh bayaran dan kematian, tetapi film justru mengemasnya dengan gaya yang ringan, absurd, dan penuh aksi.
Joe Flood bukan karakter yang sedang berusaha menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri, mendapatkan kembali orang yang ia cintai, dan bertahan hidup dari keputusan buruk yang ia buat.
Kesederhanaan tersebut membuat ceritanya mudah diikuti.
Tidak banyak teori rumit yang harus dipikirkan.
Tidak terlalu banyak politik atau konspirasi yang membuat penonton harus mengingat terlalu banyak nama.
Masalah Joe cukup jelas. Ia memesan pembunuhan terhadap dirinya.
Kemudian ia harus menghentikan para pembunuh tersebut. Selesai.
Meski saya cukup menikmati film ini, ada beberapa kekurangan.
Cerita terasa familiar bagi penonton yang sudah sering menonton film action tentang pembunuh bayaran.
Beberapa karakter juga terasa seperti dibuat untuk menjadi lelucon atau sumber aksi, bukan benar-benar mempunyai perkembangan karakter yang mendalam.
Sejumlah kritikus menilai film ini terlalu bergantung pada formula action yang sudah sering digunakan. Metacritic juga memperlihatkan respons kritikus yang secara keseluruhan kurang positif.
Namun, menurut saya, hal tersebut bukan masalah besar jika tujuan menonton memang untuk mencari hiburan.
Film seperti ini memang tidak perlu diperlakukan sebagai drama berat.
Datang, duduk, menikmati aksi, tertawa, lalu selesai.
Menurut saya, film ini layak ditonton terutama bagi penggemar Dave Bautista dan film action-comedy.
Kalau Anda menyukai film dengan pertarungan brutal, karakter pembunuh bayaran, humor absurd, dan cerita yang bergerak cepat, The Killer’s Game bisa menjadi pilihan.
Namun, kalau Anda mencari film action dengan plot sangat kompleks dan perkembangan karakter yang mendalam, mungkin film ini tidak akan sepenuhnya memenuhi harapan.
Film ini tahu apa yang ingin ditawarkan.
Aksi.
Komedi.
Kekerasan.
Romansa.
Dan Dave Bautista.
Semua elemen tersebut digabungkan menjadi sebuah tontonan yang cukup ringan meskipun tingkat kekerasannya tinggi.
Setelah menonton The Killer’s Game, kesan saya adalah film ini cocok untuk penonton yang ingin menikmati action tanpa harus terlalu banyak berpikir.
Premisnya memang absurd, tetapi justru itulah kekuatannya.
Dave Bautista berhasil menjadi pusat perhatian sebagai Joe Flood. Tubuhnya yang besar membuat adegan pertarungan terasa meyakinkan, sementara sisi komedi dan romantisnya memberikan warna berbeda pada karakter.
Sofia Boutella juga memberikan pasangan yang cukup menarik untuk Bautista. Terry Crews menambah unsur humor, sementara Scott Adkins menjadi bonus bagi penggemar film bela diri.
Ben Kingsley juga memperkuat jajaran pemeran dengan pengalaman aktingnya.
Dari sisi aksi, film ini cukup memuaskan. Koreografi pertarungan menjadi salah satu bagian yang paling mudah diingat. Latar belakang J.J. Perry sebagai stunt performer dan coordinator terasa dalam cara film menghadirkan adegan fisik.
Saya juga memahami mengapa respons kritikus terhadap film ini cukup terbelah. Ada yang menganggap ceritanya terlalu generik dan kekerasannya berlebihan, tetapi ada pula penonton yang justru menikmati film karena tidak terlalu serius.
Buat saya, The Killer’s Game bukan film yang harus ditonton untuk mencari cerita paling cerdas atau paling emosional.
Film ini lebih cocok dinikmati sebagai hiburan.
Ketika Joe Flood memutuskan memesan pembunuhan terhadap dirinya sendiri, kita sudah tahu bahwa semuanya akan menjadi kacau. Ketika kemudian ia mengetahui bahwa diagnosis penyakitnya ternyata salah, kekacauan tersebut menjadi semakin menarik.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan: bagaimana seorang pembunuh bayaran menghadapi para pembunuh lain yang kini memburunya?
Jawabannya diberikan melalui rentetan pertarungan, tembakan, kejar-kejaran, humor, dan tentu saja aksi Dave Bautista.
Pada akhirnya, The Killer’s Game adalah film action-comedy yang tidak berusaha menjadi sesuatu yang terlalu rumit. Ia menawarkan kekerasan bergaya komik, humor yang cukup liar, kisah cinta sederhana, dan seorang pemeran utama dengan fisik yang memang cocok untuk menjadi mesin penghancur.
Kalau Anda penggemar Dave Bautista, Scott Adkins, Sofia Boutella, atau film action yang penuh aksi brutal dan komedi, film ini layak dicoba.
Kesan saya setelah menonton: ceritanya memang gila, aksinya berlebihan, tetapi justru karena itulah The Killer’s Game cukup menghibur untuk menjadi tontonan santai bagi penggemar film action.(gie/berbagai sumber)











