JAMBI, Jambiseru.com – Kalau ada satu film Malaysia tahun 2026 yang berhasil membuat saya terpaku sejak menit pertama, jawabannya adalah The Furious: Pertaruhan Maruah. Film aksi berdurasi sekitar 106 menit ini bukan hanya menyajikan pertarungan tinju yang keras, tetapi juga menghadirkan drama keluarga yang emosional. Disutradarai oleh Heng Aik Siong, film ini dibintangi Zul Ariffin sebagai Firdaus, Sky Iskandar sebagai Hakim, dan Ikmal Amry sebagai Danial, sosok YouTuber petarung yang menjadi pemicu konflik utama.
Hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah atmosfernya yang sangat serius. Tidak ada banyak adegan yang sekadar menjadi pemanis. Hampir setiap adegan memiliki tujuan untuk membangun konflik atau memperlihatkan perkembangan karakter. Ritme ceritanya juga cukup cepat sehingga penonton tidak diberi kesempatan untuk merasa bosan.
Konflik bermula ketika Danial menghina nama mendiang ayah Firdaus dan Hakim di depan publik. Penghinaan tersebut memaksa dua saudara yang sudah lama berselisih untuk kembali bersatu. Namun, perjalanan mereka tidak mudah karena masing-masing membawa luka masa lalu yang belum benar-benar sembuh.
Menurut saya, kekuatan terbesar film ini bukan hanya adegan bertarungnya, tetapi hubungan emosional antara Firdaus dan Hakim. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Firdaus lebih tenang dan berusaha menebus kesalahan masa lalu, sementara Hakim lebih mudah terbakar emosi dan ingin membalas dendam.
Zul Ariffin tampil sangat meyakinkan sebagai Firdaus. Karisma dan ekspresi wajahnya membuat penonton mudah percaya bahwa ia adalah sosok kakak yang memikul beban keluarga. Sky Iskandar juga tampil solid sebagai Hakim. Chemistry keduanya terasa alami sehingga hubungan kakak-adik yang renggang tetapi saling membutuhkan berhasil tersampaikan dengan baik.
Sementara itu, Ikmal Amry sebagai Danial berhasil menjadi antagonis yang menyebalkan. Karakternya bukan sekadar petarung kuat, tetapi juga provokator yang memanfaatkan media sosial demi popularitas. Kehadirannya membuat konflik terasa relevan dengan kehidupan modern.
Adegan aksi menjadi daya tarik utama film ini. Koreografi pertarungannya terlihat realistis dan penuh tenaga. Tidak banyak efek berlebihan sehingga setiap pukulan terasa memiliki dampak. Kamera juga mampu mengikuti gerakan para aktor tanpa membuat penonton kehilangan arah.
Selain aksi, sinematografi film ini cukup menarik. Penggunaan pencahayaan gelap pada beberapa adegan memberikan nuansa dramatis. Tata suara juga mendukung ketegangan, terutama saat duel besar berlangsung.
Meski demikian, saya merasa ada beberapa bagian cerita yang bisa digali lebih dalam, terutama latar belakang hubungan Firdaus dan Hakim sebelum konflik utama terjadi. Jika bagian ini diperpanjang sedikit, ikatan emosional penonton terhadap kedua karakter mungkin akan semakin kuat.
Terlepas dari kekurangan tersebut, The Furious tetap menjadi salah satu film aksi Malaysia yang menyenangkan untuk diikuti. Film ini membuktikan bahwa industri perfilman Malaysia mampu menghadirkan aksi berkualitas tanpa melupakan kekuatan cerita.
Bagi pencinta film aksi yang dipadukan dengan drama keluarga, saya sangat merekomendasikan film ini. Pertarungan yang intens, akting para pemain yang kuat, dan pesan tentang keluarga, harga diri, serta pengampunan menjadi alasan utama mengapa The Furious (2026) layak masuk daftar tontonan Anda.
Sebagai penutup, saya memberikan nilai 8,5/10 untuk film ini. Memang masih ada beberapa kelemahan pada pengembangan cerita, tetapi keseluruhan pengalaman menontonnya sangat memuaskan. Jika Anda menyukai film dengan duel penuh emosi, karakter yang kuat, dan aksi yang realistis, maka The Furious: Pertaruhan Maruah adalah pilihan yang tidak akan mengecewakan. (gie/berbagai sumber)











