Jambiseru.com – Perkembangan mobil listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang positif. Kehadiran berbagai model baru, peningkatan eksposur media, serta dorongan pemerintah membuat mobil listrik semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, tingkat pengenalan ini belum sepenuhnya diiringi dengan pemahaman yang mendalam.
Banyak masyarakat mengenal mobil listrik hanya sebatas konsep “mobil tanpa bensin” atau “kendaraan ramah lingkungan”. Pemahaman tersebut masih sangat umum dan belum mencakup aspek penting seperti cara kerja kendaraan, perbedaan pengalaman penggunaan, hingga dampaknya terhadap kebiasaan berkendara sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa literasi mobil listrik masih berada pada tahap permukaan.
Salah satu penyebab rendahnya literasi adalah dominasi informasi yang bersifat potongan dan tidak terstruktur. Media sosial sering menjadi sumber utama informasi, namun konten yang beredar lebih menekankan sisi viral, sensasional, atau opini pribadi. Informasi yang seharusnya edukatif sering kali tenggelam di antara narasi pro dan kontra yang tidak seimbang.
Kondisi ini memicu munculnya berbagai miskonsepsi di masyarakat. Sebagian orang menganggap mobil listrik rumit, tidak praktis, atau hanya cocok untuk kalangan tertentu. Persepsi ini terbentuk bukan karena pengalaman langsung, melainkan karena kurangnya pemahaman yang utuh dan berimbang.
Rendahnya literasi juga berdampak pada proses pengambilan keputusan konsumen. Banyak calon pembeli yang tertarik, tetapi akhirnya ragu karena merasa tidak cukup mengerti. Ketidakpastian informasi sering kali lebih berpengaruh dibandingkan faktor harga atau kebutuhan aktual.
Di sisi lain, edukasi mobil listrik di ruang formal masih sangat terbatas. Topik kendaraan listrik belum banyak dibahas secara sistematis di lingkungan pendidikan, pelatihan, maupun program literasi publik. Akibatnya, pemahaman masyarakat berkembang secara sporadis dan tidak merata.
Padahal, literasi yang baik memiliki peran penting dalam membentuk sikap masyarakat terhadap inovasi. Masyarakat yang memahami suatu teknologi cenderung lebih terbuka, rasional, dan adaptif. Dalam konteks mobil listrik, pemahaman yang memadai dapat mempercepat penerimaan sosial dan mengurangi resistensi terhadap perubahan.
Peran media, industri, dan institusi edukasi menjadi krusial dalam meningkatkan literasi ini. Informasi yang disampaikan secara konsisten, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari akan membantu masyarakat membangun gambaran yang lebih realistis tentang mobil listrik.
Seiring meningkatnya literasi, persepsi masyarakat terhadap mobil listrik juga akan semakin matang. Mobil listrik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing atau eksklusif, melainkan sebagai bagian dari evolusi transportasi yang wajar dan bertahap.
Kesimpulannya, tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik masih membutuhkan perhatian serius. Edukasi yang tepat dan berkelanjutan akan menjadi fondasi penting untuk menciptakan adopsi kendaraan listrik yang lebih sehat, rasional, dan berkelanjutan di masa depan.(doo)












