Jambiseru.com – Isu mobil listrik saat menghadapi banjir sering menjadi perdebatan di masyarakat, terutama di negara tropis dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia. Banyak orang khawatir bahwa penggunaan listrik dan baterai besar akan meningkatkan risiko korsleting atau sengatan listrik ketika mobil melintasi genangan air. Kekhawatiran ini wajar, namun tidak sepenuhnya benar jika dilihat dari sisi teknis.
Secara desain, mobil listrik modern dibuat dengan standar keamanan tinggi terhadap air. Baterai mobil listrik ditempatkan dalam casing tertutup rapat dan telah melalui pengujian ketahanan air dengan standar internasional seperti IP67. Artinya, baterai mampu bertahan dari cipratan air, hujan deras, bahkan genangan dalam batas tertentu tanpa menimbulkan bahaya listrik bagi pengemudi dan penumpang.
Jika dibandingkan dengan mobil bensin, mobil listrik justru memiliki keunggulan tersendiri saat melewati genangan air. Mobil bensin berisiko mengalami water hammer ketika air masuk ke ruang bakar melalui intake, yang dapat menyebabkan kerusakan mesin parah. Mobil listrik tidak memiliki sistem pembakaran udara dan bahan bakar, sehingga risiko tersebut tidak ada.
Namun, bukan berarti mobil listrik bisa sembarangan menerobos banjir. Jika air sudah melebihi batas aman, seperti mencapai bagian bawah pintu atau menutupi bodi baterai dalam waktu lama, risiko kerusakan tetap ada. Air banjir juga sering bercampur lumpur dan sampah yang dapat merusak komponen kaki-kaki, sensor, serta sistem pendingin baterai.
Produsen seperti Hyundai telah merancang mobil listrik dengan sistem pemutus arus otomatis. Sistem ini akan langsung mematikan aliran listrik jika terdeteksi gangguan serius, sehingga mengurangi potensi korsleting dan menjaga keselamatan pengguna. Inilah alasan mengapa kasus mobil listrik tersengat listrik saat banjir sebenarnya sangat jarang terjadi.
Pengemudi tetap harus memperhatikan teknik berkendara yang benar saat melewati genangan. Kecepatan rendah, jalur yang aman, dan menghindari berhenti terlalu lama di air adalah kunci utama. Setelah melewati banjir, pemeriksaan kendaraan sangat disarankan untuk memastikan tidak ada kotoran atau air yang mengganggu sistem kendaraan.
Kesimpulannya, mobil listrik relatif aman digunakan saat hujan dan genangan ringan, bahkan dalam beberapa aspek lebih unggul dibanding mobil bensin. Namun, mobil listrik tetap bukan kendaraan amfibi. Kewaspadaan, pemahaman batas aman, dan perawatan pasca-banjir tetap menjadi faktor penting agar mobil listrik tetap awet dan aman digunakan.(doo)












